PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 408. Meyakinkan Astrid


__ADS_3

Dokter Chandra, Robert dan Sunil kembali. Marianne yang sedang sibuk di dapur, sedikit terkejut melihat tiga orang melompat keluar dari pintu teleportasi.


"Kalian sudah kembali! Dan sepertinya ada hasil...." ujarnya melihat penampilan baru Dokter Chandra yang wajahnya terlihat bersih.


"Yups!"


Dokter Chandra mengambil segelas air abadi dan langsung meminumnya. Tubuhnya langsung merasa segar. Robert dan Sunil mengikuti.


Tak lama, Dean, Indra dan Aslan muncul. Mereka dipanggil oleh Marianne untuk datang, karena Dokter Chandra sudah kembali.


"Wah, sepertinya berhasil!" Dean juga melihat perubahan Dokter Chandra.


"Mana Widuri dan Niken?" tanya Dokter Chandra, mengacuhkan ucapan Dean.


Kami di sini!" Niken dan Widuri turun dari lantai atas.


Sekarang semua berkumpul di meja makan. Dokter Chandra mengeluarkan tas belanja yang diberikan Dyah.


"Putriku membelikan ini. Lihatlah dan bagi untuk kalian!" ujarnya.


"Waahhh ... lihat! Ada shampoo, sabun mandi, detergent, alat cukur dan gunting rambut!" kata Niken, saat membongkar isi tas di depannya.


"Ini ada roti, biskuit, cokelat, permen dan mie instant! Waahh aku sudah lama tidak makan cokelat." Wajah Widuri terlihat sangat terharu.


Dean merasa terenyuh melihatnya. Dia ingat, istrinya menyerahkan sebatang coklat miliknya untuk bekal perjalanannya saat mencari jalan turun dari hutan pinus di gunung salju.


"Nanti, kita beli cokelat yang banyak untukmu," ujarnya dengan nada sedih.


"Hu-um." Widuri mengangguk mengiyakan. Sekarang, dia membagi cokelat itu dengan Niken dan Marianne. Ketiganya segera tersenyum bahagia.


"Jadi, bagaimana cerita perjalanan Anda?" tanya Indra tak sabar.


Dokter Chandra menoleh pada Robert dan Sunil. "Kalian saja yang cerita!" kata Dokter Chandra, memberi kesempatan pada keduanya, yang sudah tak sabar untuk bercerita.


Rumah panggung itu riuh dengan obrolan mereka. Sementara Dokter Chandra terbang mengelilingi tempat itu. Pandangannya tertuju pada kediaman sementara Suku Cahaya yang sekarang sudah tak terpakai. Tangannya yang tak bisa diam melihat sesuatu yang terabaikan, akhirnya bekerja.


Sore hari, Dean mencari Dokter Chandra dan menemukannya berdiri di sebuah rumah mungil yang apik.


"Penguasa, rumah untuk siapakah itu?" tanya Dean.


"Untuk Aslan! Dia tak punya rumah di sini. Tak mungkin terus menumpang di tempat Robert dan Sunil.


"Kakek!"


Ternyata pria itu sudah ada di sana dan mendengar perkataan Dokter Chandra.


"Terima kasih, Kek. Ini tidak terlalu perlu. Toh rumahku sudah diperbaiki di pulau sana." ujar ya.


"Yang di sana itu rumah nenekmu. Lagi pula, kau lebih sering di sini!" bantah Dokter Chandra.


"Hahaha, baiklah ... aku lupa itu." Aslan tersenyum. "Terima kasih, Kek!" ucapnya sekali lagi.


Aku ingin pergi ke hutan larangan. Mungkin butuh lebih banyak kayu, untuk membangun rumah lain di sini!" gumam Dokter Chandra.


"Untuk siapa lagi?" tanya Dean. "Biar kubantu menebang pohon dan membangunnya.


"Untuk Marianne. Dan satu lagi guest house, untuk tamu-tamu yang mungkin datang dan pergi melewati tempat ini!" ujarnya sambil menerawang.


"Baik. Aku akan membantu menebang pohon," ujar Dean.


Empat hari berikutnya, Dean dan Dokter Chandra pergi dan pulang ke hutan terlarang. Kemudian membangun rumah untuk Marianne. Setelah itu lanjut membuat Guest House dengan tiga kamar.


Liam, Laras dan Nastiti merasa senang, mendapat kabar dari Robert tentang perjalanan mereka ke Indonesia. Laras dan Nastiti, memberikan alamat keluarga mereka dan nomor ponsel untuk dihubungi. Mereka akan menyusul datang nanti.


"Tempat ini sudah siap. Kita sudah bisa menyambut Laras, Liam, Nastiti jika mereka datang berkunjung! kata Dokter Chandra.


"Widuri dan aku ingin pergi ke Indonesia," ujar Dean.


"Apa menurutmu, baik jika membawanya dalam keadaan hamil seperti itu?" tanya Dokter Chandra.

__ADS_1


"Dia bisa masuk dalam penyimpananku. Aku akan menjaganya!" janji Dean.


"Baiklah! Coba tanya Indra, apakah dia juga mau ikut atau tidak! Brsok kita bisa pergi!" putus Dokter Chandra.


"Terima kasih, Penguasa. Aku akan segera mengabarkan hal ini pada mereka!" Dean sangat senang mendengarnya. Dia langsung pergi dari sana.


Dokter Chandra menggeleng dan tersenyum kecil melihat kegembiraan Dean. "Pelan-pelan, mereka akan gembira lagi, karena telah bertemu dengan keluarganya," gumamnya sendiri.


*


*


Keesokan pagi.


Setelah Aslan mencocokkan jalur pintu teleportasi di dunia kecil dengan yang ada di rumah Dokter Chandra, mereka mulai bersiap.


"Baiklah, mari kita berangkat!" Dokter Chandra memberi aba-aba.


Dean Dan Indra mendekat. Selubung putih Dokter Chandra segera mengurung ketiganya. Perlahan mereka melayang menuju pintu teleportasi. Kemudian menghilang di sana.


Marianne melihat bagaimana Aslan menatap pintu teleportasi itu hingga bayangan Dokter Chandra menghilang.


"Kau ingin ke sana?" tanyanya. Aslan menoleh pada Marianne.


"Nenek tak ingin pulang ke sana?" tanyanya.


"Aku lebih suka hidup di sini. Namun, tentu saja aku akan pulang sesekali. Aku akan membawamu ke sana. Ke negeriku yang jauh, di mana ada salju yang dingin dan musim pohon-pohon merontokkan daunnya hingga gundul!" Marianne terkekeh.


"Benarkah? Aku senang sekali jika bisa ke sana!" mata Aslan berbinar.


"Bagus. Tapi giliran kita bisa belakangan saja. Biarkan mereka membereskan dulu masalah alibi pesawat jatuh. Setelah itu, kita bisa bebas datang dan pergi ke dunia itu!" jelas Marianne.


"Aslan mengangguk senang. "Baik, Nek"


*


*


Dokter Chandra mengirim pesan pada putrinya. Memintanya datang.


"Aku sudah mengirim pesan pada putriku. Kalian bisa beristirahat di lantai atas. Ada dua kamar, kalian pilih saja," ujarnya.


"Baik, Dok," ujar Dean.


Di kamar, Dean mengisi daya pinsel dan laptopnya yang mati total. Akan butuh waktu lama untuk itu baru bisa terisi dan digunakan.


"Bagaimana kita memberitahu orang tuaku?" tanya Widuri pada Dean, di kamar.


"Biar kuatur. Nanti aku hubungi dulu Astrid sekretarisku. Biar dia coba cari tahu tentang keluargamu," ujar Dean menenangkannya.


"Baiklah. Begitu juga tak masalah." Widuri mengangguk. Tetapi kemudian dia bertanya lagi. "Berarti kita harus meyakinkan Astrid dulu dong?"


"Ya. Kurasa, yang dihubungi pihak maskapai adalah keluarga. Berarti orang tuaku ada di sini, atau di Singapura! Harusnya Astrid bebas."


Dean menimbang-nimbang. "Atau harus memanggil Luke?" pikirnya.


"Kita coba hubungi Astrid dulu. jika tak berhasil, kita coba cara lain!" putus Dean.


Pukul tiga, Dyah datang. Dia langsung datang dari kampusnya. Kemudian merasa heran, melihat ada lebih banyak orang di rumah itu.


Dokter Chandra memperkenalkan Dean dan Indra, serta istri-istri mereka.


Dean meminjam ponsel Dyah untuk menghubungi sekretarisnya. Dilakukannya cara itu, agar tidak mengagetkan gadis itu, jika melihat nomor panggilan berasal dari ponsel Dean.


"Ya, hallo ... selamat sore. Ada yang bisa saya bantu?" ujarnya otomatis, seperti mesin penjawab telepon.


"Saya istri dari kenalan Anda. Bisakah kita bicara sebentar?" tanya Widuri.


"Dan siapa kenalan saya itu? Apa dia selingkuh dan tidak bertanggung jawab, hingga Anda ingin mengadukannya pada Bos?"

__ADS_1


Suara Astrid yang terus meluncur dan terdengar di speaker, membuat Dean jengah. Dia tak tahu kalau sekretaris itu bisa bicara secepat itu tanpa jeda.


"Oh, tidak. Bukan itu. Saya hanya ingin memberi tahumu sesuatu yang sangat penting. Dan dia percaya bahwa Anda adalah orang yang tenang dan bisa dipercaya!" sanjung Widuri.


Dean melihat ke arah Widuri fengan takjub. Bagaimana istrinya bisa memuji seseorang yang bahkan tidak dikenalnya. Kata-kata itu seperti kata baku dalam pergaulan yang dipenuhi basa-basi.


"Luar biasa, mendengar dua wanita bicara omong kosong!" Dean hampir saja tertawa, kalau tidak mendapat pelototan dari Niken.


"Begitukah? Bisa katakan siapa suami anda? Saya ingin tahu pria mana yang memuji wanita lain di depan istrinya!"


Jawaban Astrid membuat Widuri mati langkah. Dan Dean tak dapat menahan tawanya. "Hahahaha...."


"Boss? Boss, is that you?" Suara Astrid yang terpekik kaget, menyadarkan Dean. Dia berusaha menghentikan tawanya dengan susah payah.


"Kau sedang di mana? Dan sejak kapan panggil boss?" tanya Dean.


"Saya di ruangan, baru kembali dari menemani orang tua Anda, Pak," ujarnya lancar.


"Eh, tunggu dulu! Anda di mana?" tanyanya mulai menyadari keadaan.


"Tenangkan dulu dirimu. Apakah ada orang lain di situ?" tanya Dean.


"Ti-tidak ada! Anda jangan menipu saya!" bentaknya keras.


"Hei! aku baru tahu kau bisa bersikap kasar! Kemarilah bertemu denganku, tapi jangan beritahu siapapun dulu tentang aku. Kau dengar aku? Aku mempercayaimu, Astrid. Jika kau mengkhianati kepercayaan ini, maka aku akan benar-benar hilang dari bumi!" ancam Dean.


"Apa? Apa maksudnya menghilang dari bumi? Apa anda memutuskan pindah ke Mars?" tanya gadis itu kebingungan.


"Andai saja begitu, semua akan jauh lebih mudah!" celetuk Widuri


"Suara wanita itu ... apa dia istri Anda, Pak?" tanya Astrid ragu.


"Ya! aku akan memperkenalkanmu padanya, dengan satu syarat!" kata Dean.


"Apa syaratnya?" tanya Astrid ingin tahu.


"Kau tidak mengatakan tentang telepon ini pada siapapun. Sekarang bereskan kantormu dan pulang! Pergi ke alamat yang akan kukirimkan ke emailmu. Kau paham?" tanya Dean.


"Aku masih bingung ... tapi, oke. Aku berangkat sekarang!" ujar Astrid.


"Dan Luke, apakah dia sudah mengerjakan tugas yang kuberikan sebelum berangkat?" tanya Dean.


"Ya, tapi, deadline yang anda berikan masih tiga hari lagi!" lapor Astrid.


"Jangan biarkan dia bersantai!" Dean mengingatkan.


"Baik, pak! Ada pesan lain? saya sudah akan keluar!" ujar Astrid.


"Ambilkan beberapa baju di kamarku. Bajuku sudah lusuh. Jangan masukkan jas. Baju santai saja. Toiletries di kamar mandi, bawa semua. Aku merasa seperti manusia purba yang tidak mengenal alat cukur, saat ini!" gerutu Dean.


"Oh ya, belikan juga beberapa cokelat enak untuk istriku. Dia sedang ingin cokelat sekarang!" imbuh Dean lagi.


"Baik, Pak. Akan saya kerjakan!"


Dean memutuskan panggilan telepon. Kemudian mengembalikan ponsel itu pada Dyah. Semua orang terbengong mendengar percakapannya.


"Sekretarismu bisa masuk ke kamarmu?" tanya Niken heran.


"Hei, aku bekerja dan tinggal di hotel itu. Dia tentu harus bisa masuk ke kamarku. Siapa yang mau mengurus koperku jika aku bepergian?" ujar Dean santai.


Namun kemudian dia menyadari sesuatu. Tatapan tajam teman-temannya, mengingatkan, bahwa dia punya istri sekarang.


"Hei ... aku merasa jadi pesakitan sekarang. Astrid dan aku tidak punya hubungan apa-apa. Dia sekretaris yang baik, berbakat, cerdas dan bekerja keras. Dia sampai di posisinya dengan kerja keras! Bukan cara instant yang seperti kalian pikirkan itu!" jelas Dean.


"Bagus, kalau begitu!" Dokter Chandra menyudahi pandangan sengit yang lain pada Dean.


*******


Note:

__ADS_1


Tentang Astrid dan Luke, ada di Chapter 1 yaa.


Happy reading 🙏


__ADS_2