PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 182. Terjebak di hutan angker


__ADS_3

Liam dan Laras kembali duduk di rumput. Mereka memakan buah apel yang kemarin diberikan. Hanya itu bekal yang tersisa.


"Ayo kita jalan. Mumpung belum siang." Laras berdiri.


Liam menoleh pada Laras. Kelihatannya dia telah mengumpulkan semangatnya lagi. Liampun bangun dari duduknya.


"Ayo."


Langkah mereka ringan menyusuri hutan menuju sungai yang kemarin mereka lewati.


"Jika kita bisa terus menyusuri sungai, kita akan mencapai muara dan pantai. Pasti ada kota yang lebih besar di sana." Kata Laras.


"Hem.." jawab Liam.


"Teorinya memang seperti itu. Tapi kita kan tak tau berapa panjang sungai ini baru kita bisa mencapai pantai. Dan seingatku, itu hanyalah sungai kecil yang bahkan tak mungkin dilalui perahu," tambah Liam lagi.


"Yah, kau benar. Posisi kita di bukit begini. Jika mengikuti aliran sungai hingga ke pantai, maka kita harus melewati beberapa air terjun dulu." Laras mengangguk setuju


"Aku sudah mendengar suara aliran air!" Laras berlari kecil.


"Kita harus isi tempat air dulu sebelum melanjutkan perjalanan." Liam mengejar Laras.


"Oke."


Laras berhenti di tepi sungai yang kemarin mereka sebrangi.


"Aliran airnya sedikit lebih deras ketimbang kemarin sore." Katanya.


"Iya. Mungkin kemarin di hulu turun hujan deras." Liam mencari tempat yang sesuai untuk menampung air yang bersih.


"Airnya sejuk. Rasanya kepingin mandi." Laras memainkan air dengan tangannya.


"Lebih baik cari ikan. Jika dapat, bisa jadi bekal perjalanan kita," saran Liam.


Laras memperhatikan sungai kecil itu dengan seksama. Ada beberapa ikan kecil berenang lincah di situ.


"Ada sih ikannya. Tapi terlalu kecil. Lebih mirip ikan teri," Laras kecewa.


"Ya sudah. Nanti kita cari lagi. Kita toh akan menyusuri sungai." hibur Liam.


"Kau sudah selesai isi air?" tanya Laras sambil mendongakkan kepala.


Liam mengangguk.


"Sudah. Mari kita lanjut jalan." Ajak Liam.


Liam sudah berdiri di tepi, menunggu Laras keluar dari sungai. Mereka harus segera melanjutkan perjalanan saat hari masih terang.


"Lariii.. lariii...!"


Terdengar sebuah teriakan peringatan. Diikuti suara tangis dan ketakutan anak-anak.


'Anak-anak?' pikir Liam.


Dia segera membalikkan badan saat melihat Kenny membawa sejumlah anak dan wanita berlari dengan wajah panik.


"Larii.. Larii!" Teriakan Kenny kembali terdengar.


Liam dan Laras berlari ke arah Kenny dan anak-anak. Mereka sedang bergegas menyeberangi sungai kecil dan dangkal itu.

__ADS_1


"Ada apa?"


Liam berdiri di sisi sungai, membantu semua anak keluar dari sungai. Laras memeluk mereka yang ketakutan.


"Kenapa berhenti, Lari! Cepat!" Perintah Kenny.


Anak-anak dan para wanita kembali berhamburan menuju hutan angker. Liam dan Laras ikut lari mengejar mereka dengan bingung dan khawatir. Di belakang, Kenny dan seorang pemuda lain menjaga rombongan dengan melesatkan beberapa anak panah.


Terdengar suara-suara kasar dan marah serta gemuruh kaki berlari menyeberangi sungai.


'Gawat, pasti desa telah jatuh dan para penjahat itu mengejar anak-anak yang tak bersalah!' batin Liam. Dia segera memahami situasi dan memimpin anak-anak dan beberapa wanita itu menuju tepi hutan angker.


Rombongan itu sudah sampai di tempat kemarin Liam, Laras dan Kenny bermalam. Laras dan para wanita itu tak tau harus memutuskan apa. Mereka sudah terpojok dan berdiri di tepi batas tanah yang hitam legam.


Liam menunggu Kenny dan seorang temannya dengan khawatir.


"Lari!" Teriak Kenny lagi.


"Lari ke mana lagi?"


Kenny dan temannya melihat batas hutan angker itu. Mereka memang terpojok.


"Hahahaa.. Kalian tak bisa ke mana-mana lagi." Pria di depan sana memainkan pedangnya dengan pandangan mengejek.


"Menyerahlah. Kami berjanji akan menjual anak-anak itu dengan mahal di pasar budak," Pria teman Kenny menggeram marah.


"Kami bukan budak! Tidak akan pernah!" Teriaknya marah.


"Kalau begitu, kalian harus mati di sini!" Kata orang itu dingin.


Dia mengangkat pedangnya, memberi aba-aba. Lalu sejumlah orang di sisinya mengarahkan panah pada rombongan itu.


"Kami lebih baik mati di sini dari pada menjadi budak bangsa kalian!" Kenny berdiri teguh di depan rombongan itu.


"Tidak! Kita masih punya pilihan!" Teriak Laras hampir menangis. Dalam kalutnya, dia berucap dalam bahasa Indonesia.


Liam mengerti maksud Laras.


"Mundur. Kita bisa berlindung di hutan angker. Mereka tak kan berani mengejar kita di sini." Liam berkata dengan yakin, juga dengan bahasa Indonesia.


Anak-anak yang telah diajari oleh Laras tentang bahasanya, bisa memahami perkataan Laras dan Liam. Mereka menarik tangan para wanita dan mundur ke batas hutan angker.


"Tangkap dua orang asing itu hidup-hidup!" teriak pria di depan dengan murka.


Pasukan di depan itu berlarian mengejar ke depan untuk menangkap Laras dan Liam yang ketahuan berbahasa asing dan itu dipatuhi oleh anak-anak dan para wanita. Mereka merasa bahwa keduanya adalah pemimpin desa yang telah disembunyikan dengan baik.


Liam dan Laras cekatan menarik tangan Kenny dan temannya agar ikut masuk ke dalam batas hutan angker. Kini keempatnya berdiri di depan, melindungi anak-anak dan para wanita di belakang.


Pasukan pengejar berhenti di depan garis batas. Dua kelompok bermusuhan kini saling berhadap-hadapan. Saling melempar tatapan mematikan.


Kelompok Kenny menatap penuh percaya diri dan siap bertarung. Tapi berbeda dengan kelompok pasukan itu. Mereka menatap rombongan anak-anak itu dengan kesal. Karena mereka sendiri tidak berani memasuki batas hutan angker.


"Heh. Dasar bodoh! Kalian pikir kalian bebas setelah masuk hutan itu? Kalian justru akan terjebak dan tak pernah kembali. Lalu mati seperti pelarian-pelarian lain yang lari dari hukuman." Ejeknya sinis.


"Itu karena mereka hidup damai di hutan angker. Tak ada bangsa barbar dan jahat seperti kalian!" Kenny balas menghina.


"Bajingan! Rasakan ini. Aku ingin menghapus wajah jelekmu itu dengan darah!" Teriak pria di belakang. Sebuah panah melesat cepat ke arah Kenny.


"Jangaaannn!" teriak anak buahnya panik.

__ADS_1


Seiring itu, Liam menarik tangan Kenny sambil berteriak.


"Tiarap!"


Satu dua detik berlalu sebelum terdengar teriakan menyayat hati.


"Aaaaaaaaaaaahhhhhh!"


Liam, Kenny, Laras dan pria satu lagi mendongakkan kepala untuk mengetahui apa yang terjadi.


"Tolooooooonggg!"


Di seberang sana, pria yang melesatkan anak panah menggelepar di rumput. Tubuhnya terbakar dan asap hitam mengepul bergulung-gulung. Dan dalam sekejap tubuhnya menjadi bangkai kaku yang hitam legam.


Anak buahnya ternganga melihat itu. Namun tak seorangpun berani menolong. Mereka tau, pemimpin pasukan itu telah melanggar pantangan hutan angker. Pantangan menyerang hutan angker. Mereka jelas tak ingin bernasib sama.


Akhirnya mereka hanya bisa menyerah mengejar rombongan Kenny. Mereka menggotong tubuh kaku dan menghitam itu, lalu pergi.


"Apa yang terjadi tadi?" Laras terlihat shock. Dia terus menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Liam, menurutmu mungkinkah dalam semenit tubuh seseorang bisa berubah jadi seperti itu? Seberapa panas api yang membakarnya?" Laras terus mengoceh bingung.


Liam mengusap-usap punggung Laras untuk memberinya ketenangan.


'Bahkan tak ada terlihat nyala api tadi' Liam bicara dalam hatinya.


Tapi itu bukan hal utama sekarang. Karena sekarang mereka sudah sampai sini, yang perlu dipikirkan adalah rencana untuk bertahan hidup di hutan ini. Dan ini bukanlah hal yang mudah. Ada 7 anak-anak lelaki dan perempuan. 3 wanita remaja serta Kenny dan temannya.


"Kita istirahat dulu di sini. Mari diskusi untuk mengambil langkah terbaik." Ujar Liam memecah kebingungan.


"Bisakah kau ceritakan kenapa kalian lari kemari?" tanya Laras.


"Desa telah jatuh. Mereka menahan Stevan." seorang wanita muda menjawab.


"Sejak kemarin kami disuruh bersembunyi bersama anak-anak. Sampai tadi pagi Kenny dan Mattew datang untuk membawa kami lari." Jawab gadis yang satu lagi.


"Apa kau sudah mencapai desa tadi pagi?" tanya Laras pada Kenny.


"Aku sedang menuju ke kediaman Stevan, saat Mattew menarikku untuk bersembunyi di semak gardenia. Dia membawaku berputar melalui kebun sayur tuan Burke. Hingga kami bisa melihat bagaimana mereka memperlakukan tuan Stevan dengan kasar. Mereka mengikatnya di tiang tengah halaman. Mencambuknya berkali-kali. Aku melihat sebuah panah tertancap di perutnya dan terus mengeluarkan darah." Cerita Kenny sambil tertunduk.


Para gadis dan anak-anak menangis mendengar itu.


"Bagaimana dengan William?" tanya Laras ingin tau.


"Dia tewas saat menyembunyikanku." Mattew menangis. Tubuhnya bergetar.


Kenny memeluknya.


"Aku bersyukur kau masih hidup. William mengorbankan nyawanya untuk menjagamu. Itu kehormatan untuknya. Selanjutnya aku yang akan menjagamu." Janji Kenny.


Liam dan Laras berpandangan.


'Siapa sebenarnya Mattew ini?' pikir keduanya.


"Baiklah. Di sini kita aman dari kejaran mereka. Jadi kita harus saling menjaga satu sama lain. Yang dewasa harus menjaga anak-anak. Merekalah generasi penerus warga desa. Kita harus melanjutkan sejarah desa ini di hutan angker. Kita harus bisa bertahan hidup di sini." Kata Liam tegas.


Mereka berdiskusi beberapa saat. Kenny mencoba untuk melangkah keluar dari batas tanah hitam. Itu berakhir melukai kakinya hingga mengalami luka bakar.


Akhirnya mereka memutuskan masuk ke hutan lebih jauh, karena di pinggiran itu mereka tak menemukan satupun binatang buruan. Sementara kunci bertahan hidup adalah memiliki stok makanan.

__ADS_1


*****


__ADS_2