PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 245. Biang Onar


__ADS_3

Orang-orang itu menurunkan pedangnya, tanda tidak ingin ada perseteruan.


Kapten Smith mengawasi dari tempatnya. Dia tak akan ikut campur keributan antar penumpang. Dia yakin, jika Dean dan teman-temannya melakukan itu dengan alasan kuat.


"Sebenarnya, apa yang sudah dilakukannya?" tanya salah seorang dari keempat orang itu. Dia berdiri tak terlalu jauh juga dari Alan.


"Temanmu sudah lancang menginginkan istri temanku. Bagus cuma diikat di pinggir pembatas kapal. Tidak sampai ku butakan matanya yang jelalatan tak senonoh itu!" kata Sunil tajam.


Teman-temannya terkejut mendengar penuturan Sunil. Tak tau mesti bagaimana menghadapi hal segawat ini.


"Biang onar ini, terlalu lancang! Kita bisa mati jika dia terus berulah liar begini." Terdengar keluhan dari orang-orang itu.


Lalu pria itu menoleh dan menatap mereka dengan tajam. Tiga orang lainnya langsung diam.


"Maafkan kami tuan. Kami adalah pengawal tuan Jason. Kami tidak tau dia membuat ulah hingga anda semua tersinggung."


Pria itu memperkenalkan diri dan kelompoknya.


"Bisakah anda memaafkan tuan Jason? Kami akan menjaganya dan berjanji dia tak kan berbuat macam-macam lagi."


Pria itu masih mencoba membujuk. Tapi Sunil dan Alan hanya menatapnya dingin.


"Dia akan dihukum di situ selama satu jam. Itu pelajaran untuk siapapun yang berani bermain trik dengan kami!" ujar Dean memperingatkan. Lalu dia berjalan masuk ke kabin.


"Kalian mendengarnya bukan?"


Suara Alan terdengar seperti ejekan. Senyumnya sama sekali tak menarik dipandang.


Pemimpin pengawal itu merasa mati langkah. Dia masih mendengar suara teriakan tuannya yang mulai terdengar serak. Tapi kelompok di depannya ini bukanlah orang-orang yang mudah dihadapi. Jadi, dia hanya bisa berdiri terpaku di tempatnya.


"Aku mau ke toilet. Kau bisa atasi mereka semua kan?" tanya Sunil.


"Teman macam apa kau! Merendahkanku di depan orang lain." Alan benar-benar keki pada Sunil.


Sunil tak mempedulikan keberatan Alan. Dia berjalan menuju toilet.


"Kalian juga, masuklah. Biar aku saja yang berjaga di sini!"


Pemimpin pengawal itu memberi perintah pada bawahannya. Ketiga orang lainnya berbalik pergi dan masuk ke kabin.


Tinggallah Alan dan pemimpin pengawal itu berdiri berhadapan dengan jarak 2 meter. Sikap Alan masih waspada.


Pria itu memperbaiki gestur tubuhnya, agar Alan tak lagi bersikap terlalu kaku. Dia berjalan menuju pagar pembatas kapal. Tapi cukup jauh dari lokasi Alan berjaga.


Dilihatnya Jason tergantung terbalik dengan posisi kepala di bawah. Kakinya diikat tali yang ditambatkan pada tiang pagar pembatas. Keadaannya buruk, tapi dia diikat dengan kuat. Harusnya itu akan aman dalam 1 jam ke depan. Jadi dibiarkannya saja. Biar tuannya itu sedikit belajar tau diri.


"Ehemm..."


"Aku Brian. Terima kasih kalian sudah membuat ikatan yang kuat untuk menjaganya agar tak jatuh ke laut."


Pemimpin pengawal itu memperkenalnya dirinya. Dia menyandarkan punggungnya pada pagar pembatas kapal. Berdiri santai sambil menyilangkan kaki. Dia tak merasa harus cemas. Karena bisa melihat dari ikatan itu, kelompok Dean bukan ingin membunuh tuannya, sangat jelas itu hanya ingin memberi pelajaran.


"Kau mencoba bersikap baik agar aku lengah, lalu membebaskannya? Hahahaaa...."


Alan tertawa terpingkal-pingkal.


"Biar kuu katakan padamu sekarang. Siasatmu itu tak berguna. Orang rendahan seperti tuanmu itu harus dihukum!"

__ADS_1


Brian manggut-manggut.


"Aku setuju denganmu. Jadi biarkan dia di situ hingga satu jam ke depan."


"Hahhh?!"


Alan menatap Brian tak percaya. Tapi pria yang ditatapnya hanya menyunggingkan senyum dan tertawa kecil menanggapinya.


"Yah, baguslah kalau kita sudah saling mengerti."


Alan mundur beberapa langkah dan ikut menyandarkan punggungnya juga ke pembatas kapal.


"Kalian dari mana?" tanya Brian.


"Dari kota pelabuhan." jawab Alan jujur.


"Kau dari mana?" tanya Alan balik.


"Kami dari kota Emerald. Tiga bulan lalu datang ke kota pelabuhan dengan kapal ini juga. Sekarang mau kembali ke sana."


Brian mengeluarkan botol kecil dari sakunya.


"Kau mau? Ini anggur yang enak. Bisnis kami dengan kediaman Duke lumayan berhasil. Kau bisa coba mencicipinya." tawar Brian.


"Kami tidak minum alkohol!" tolak Alan.


"Hahh?!! Belum pernah aku bertemu pria yang tidak minum alkohol. Kau benar-benar unik." Brian menatap Alan tak percaya.


"Mainmu kurang jauh, makanya tidak pernah bertemu orang yang seperti kami!" Balas Alan tajam.


"Uhukkk... uhukk...."


'Main kurang jauh? Apa dia mau bilang aku kurang pengalaman? Kurang wawasan? Sisialan ini!' umpat Brian dalam hati.


Sunil lewat. Di lihatnya keadaan di dek sudah kembali kondusif. Alan dan pria pengawal itu berdiri santai sambil mengobrol.


"Alan, aku mau kembali ke kabin."


"Ya... kau pergilah," balas Alan.


Sunil meninggalkan mereka berdua. Hanya ada kru di atas dek itu. Tak ada yang perlu dikhawatirkan.


Satu jam kemudian.


Dean keluar kabin. Dia bermaksud memberi makan Cloudy di kabin kapten.


"Alan, lepaskan orang itu!" perintahnya.


"Oke!"


Alan tersenyum dan mengangkat jempolnya.


Brian ingin membantu Alan mengangkat tuannya. Tapi Alan mengangkatnya dengan mudah. Tuannya melayang, lalu diletakkan di lantai kapal. Dia pingsan!


"Saat kau sadar, menyusahkan. Saat pingsanpun menyusahkan!" omel Alan.


"Tuan... tuan...."

__ADS_1


Brian mencoba membuat tuannya sadar. Sementara Alan sibuk membuka simpul yang dibuat Sunil.


"Kenapa O membuat ikatan yang sulit dibuka begini?" Alan merasa kesal.


"O... kau membuatku kerepotan dengan simpul talimu ini. Kenapa tak kau buka sendiri!" teriak Alan lewat transmisi suara.


Sunil keluar dari kabin. Berjalan cepat ke arah Alan.


"Aku sedang makan kau panggil. Begini saja tidak bisa buka. Kenapa tak dipotong saja dengan apimu?!"


'Siapa yang memanggil pria ini?' pikir Brian bingung.


Sunil bersungut-sungut. Tapi dia tetap membuka ikatan tali itu. Setelah selesai, dia langsung meninggalkan tempat itu.


"Hei, mau kemana kau?" tanya Alan sambil mengejar.


"Mau makan. Apa kau tidak lapar?" Tanya Sunil balik.


"Makan... makan...." Alan berlari mendahului Sunil dengan wajah berseri-seri. Sunil ditinggal di belakang.


Brian yang terkejut dengan kedatangan Sunil yang tiba-tiba, kembali mencoba menyadarkan tuannya. Tapi tak berhasil. Lalu dipapahnya tuannya itu dengan enggan. Bau asam dan pesing yang kuat menguar kemana-mana. Bekas muntahan yang hampir kering di seluruh wajahnya menimbulkan rasa jijik. Jadi dipapahnya Jason ke toilet.


*


*


"Dean!"


Kapten Smith mempersilakan Dean masuk.


"Aku mau memberi makan Cloudy," kata Dean.


"Ya... silahkan."


Kapten Smith memperhatikan Dean yang meletakkan sepotong besar daging asap dengan sedikit tulang di kandang Cloudy. Macan itu menikmati makan malamnya dengan lahap. Dean mengelus-elus bulu halus di kepala Cloudy.


"Bagaimana dengan pria itu?"


Kapten Smith membuka percakapan.


"Sudah dilepaskan," jawab Dean singkat, sambil mengawasi Cloudy makan.


Lalu Dean kemudian berdiri dan melangkah ke meja Kapten. Ada hal yang mengganggu pikirannya dan harus ditanyakan.


"Sebelum naik kapal, kau memperingatkanku untuk menjaga para wanita. Juga menjauhkan Cloudy dari pandangan orang. Apa mereka orang yang kau khawatirkan?" tanya Dean penuh selidik.


Kapten Smith terkejut mendengar pertanyaan itu. Kemudian dia menggeleng.


"Peringatan seperti itu biasa ku katakan pada semua penumpang yang membawa wanita." Kapten Smith berkata diplomatis.


Dean mendengus kasar. Dia tau Kapten mengkhawatirkan sesuatu. Tapi dia tak mungkin membongkar identitas para penumpangnya. Dia harus bermain aman agar kapal dan kru nya bisa aman untuk berlayar ke manapun. Itu pula yang mencegahnya ikut campur dalam keributan antar penumpang.


"Aku hanya menawarkanmu bantuan, jika kau mau jujur. Tapi jika tidak, ya gak masalah juga."


Dean melangkah ke pintu.


"Sampai jumpa besok pagi, Cloudy...."

__ADS_1


Cloudy menggeram halus menjawab sapaan Dean. Dia sibuk dengan daging lezat di tangannya untuk sementara ini.


******


__ADS_2