PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 236. Pilihan Laras dan Liam


__ADS_3

Pagi ini, setelah hubungan keduanya resmi diketahui teman-temannya, Nastiti dan Kang mulai berinteraksi lebih dekat. Kang sesekali meletakkan jarinya di dahi Nastiti. Tangan keduanya saling menggenggam. Nastiti kerap tersenyum dan bertanya ini itu.


Selepas sarapan, masing-masing melakukan tugasnya. Sunil membawa Kang pergi ke kota mati untuk mengobati Laras, sekaligus memberitahukan informasi tentang kota Rawa. Sementara Dean dan Widuri ke kota pelabuhan. Yang lainnya mempersiapkan perbekalan untuk di perjalanan.


*


*


Dean dan Widuri tiba di kediaman Ketua Kota.


Widuri langsung diantar ke kamar Yoshi. Dia sudah 2 hari tak keluar dari kamar. Bahkan Yabie pun yak bisa membujuknya untuk makan bersama.


Widuri masuk kamar yang segera ditutup dari dalam. Dean memiringkan kepalanya sedikit, melihat dia tak diundang masuk.


"Yah sudahlah. Temui Ketua Kota saja." gumamnya, berbalik dan pergi dari situ.


*


"Anggotaku sudah mendapatkan informasi akurat tentang kota Rawa dan dinding cahaya itu," kata Ketua Kota.


"Lalu?" tanya Dean.


"Kota itu telah mereka lewati bulan lalu. Sejatinya tidak ada satupun anak buah kapal itu yang melihat dinding cahaya secara langsung. Tapi para pekerja yang membongkar muat barang yang tertarik untuk pergi. Itu membuat jumlah pekerja menurun. Membuat pekerjaan mereka yang harusnya seminggu bersandar, jadi 10 hari. Itulah sebabnya saat bersandar, mereka gunakan berita tentang dinding cahaya sebagai alasan keterlambatan."


"Hemmm... baiklah. Jika mereka telah melewatinya, artinya masih ada waktu 3 bulan lagi mereka ke sini. Setelah itu baru akan melewati kota Rawa lagi. Bukankah begitu?" Dean ingin memastikan.


Ketua kota mengerutkan keningnya.


"Tidak. Kota ini adalah pelabuhan terakhir mereka. Mereka akan segera berlayar balik ke kota asal dan melewati kota Rawa lagi."


Ucapan Ketua Kota mengejutka Dean.


"Astaga, cepat sekali! Berarti hanya tersisa waktu 3 hari untuk kami bersiap?" ujarnya tak percaya.


Ketua Kota mengangguk.


"Benar."


"Berapakah biaya untuk ikut kapal itu hingga kota cahaya? Kami harus mempersiapkannya," tanya Dean serius. Timnya benar-benar tak punya uang sekarang.


"Kau bisa menukar dengan bahan pokok, kalau mau. Mereka akan menilai, apakah itu cukup untuk ongkos kalian," hawab Ketua Kota.


Dean berpikir keras. Ladang gandumnya belum bisa dipanen sekarang. Belum cukup tua.


"Jika kurang, aku akan membantu." Ketua kota menambahkan.


"Terima kasih untuk bantuannya. Aku harus bicara dengan Yabie," kata Dean.


"Dia pergi ke kota mati," jawab Ketua Kota.


"Oke. Aku harus segera menemuinya. Katakan pada Laras untuk menunggu di sini hingga aku menjemputnya nanti."


"Ya, akan ku sampaikan," sahut Ketua Kota.


Dean berdiri dari duduk dan berjalan keluar dengan langkah lebar. Dia harus bicara dengan Yabie untuk menukar kebunnya di tepi tebing, dengan hasil gandum di ladang Yoshi.


Dean memikirkan apa saja yang bisa ditukarkan untuk ongkos jalan. Gandum, daging domba segar?, buah kelapa sebagai pengganti air di kapal. Keju?Minyak goreng?


Dean melesat menemui Yabie. Dia tak ada di area kebun. Hanya ada Mattew dan Kenny serta beberapa anak yang riang membantu pekerjaan.


Dean menuju kediaman Liam. Masih ada Kang di situ. Dia sudah selesai dan sedang mengunggu Sunil.


"Dimana Sunil?" tanya Dean pada Liam.


"Dia tadi ngobrol dengan Yabie, lalu entah kemana," jawab Liam.


"Apa Sunil sudah mengatakan sesuatu padamu?" tanya Dean lagi.


"Tentang dinding cahaya itu?" Liam balik bertanya.


Dean mengangguk.

__ADS_1


"Kapal itu akan berangkat dalam beberapa hari. Kalian bersiaplah," ujar Dean.


"Aku memilih tinggal di sini saja," kata Liam.


"Apa maksudmu?" Dean menatap Liam dengan mata menyelidik.


"Aku sudah mengatakan hal ini juga pada Sunil. Aku dan Laras memilih tinggal di sini bersama anak-anak ini," jawab Liam sungguh-sungguh.


"Laras juga??"


Dean sungguh tak percaya.


"Ya! Dia sudah memikirkannya jauh-jauh hari. Dia sakit dan butuh bantuan Yabie juga Kang. Jadi dia putuskan untuk tinggal." Liam menjelaskan.


"Dan kau, ingin menemaninya?" Tanya Dean lagi.


"Dia menyelamatkan nyawaku. Dia bisa pergi saat itu, tapi dia putuskan untuk menemaniku dan bersusah payah sendirian menghidupi kami berdua. Aku akan tinggal dan menemaninya." Liam teguh dengan pendiriannya.


"Baiklah.. Aku tidak bisa memaksa. Bagaimanapun, perjalanan ini memang tidak pasti. Kita berjudi dengan nasib. Entah beruntung ataupun tidak, tak ada yang bisa menebaknya." Dean menurunkan nada suaranya.


"Kami bahkan kehilangan Leon dan Silvia. Itu kehilangan yang besar. Aku masih trauma dengan perjalanan laut. Aku hampir mati terjepit diantara batu karang."


Liam mengingat kembali saat-saat kapal mereka dihantam ombak badai disertai sambaran petir. Bagaimana meteka berjuang menyelamatkan diri masing-masing. Dan terpisah satu sama lain. Bayangan buruk menghantuinya jika membayangkan Leon dan Silvia yang tak selamat dari badai itu. Liam memejamkan matanya, sedih.


"Aku mengerti." Dean menepuk bahu Liam hangat.


"Sekarang aku harus bicara dengan Yabie. Dia mungkin sedang di ladang gandum,"


Dean kembali pada niatnya datang ke kota mati. Dean melangkah keluar rumah.


"Apa kau mau ikut Kang?" tawar Dean. Kang mengangguk.


Keduanya keluar rumah. Liam mengantar hingga teras. Dia tak bisa menemani. Laras sedang tidur sehabis dirawat oleh Kang. Ini kesempatannya mengurus ternak yang tadi ditinggalkannya.


Dean berjalan menuju rumah tua Yabie.


"Ahh,, aku bahkan belum sempat memperbaiki rumah yang dulu ditinggali Bi," gumamnya murung.


Dean terus melewati rumah dan langsung menuju ke belakang. Kang mengikutinya.


"Yabieee!" teriak Dean menanggil lewat transmisi.


Tempat itu sangat luas. Akan buang-buang waktu jika harus mencari ke segala arah.


"Paman, aku dekat hutan mapel," jawab Yabie lewat transmisi juga.


"Mereka di sana Kang, ayo!"


Ajak Dean yang melihat Kang terbengong begitu melewati pintu di tembok.


"Ah,, kau merasa Deja Vu, melihat tempat ini? Hahahaa...." Dean tertawa.


Diambilnya tangan Kang dan diletakkannya di keningnya. Dean mengingat kembali dunia kecil di gunung batu yang dulu dijaganya.


Kang terkejut dan menarik tangannya. Dia melihat Dean tak percaya.


"Yahh, semua ini dan juga ladang gandummu itu dulu adalah dunia kecil tempat aku tinggal. Yang aku jaga dan rawat sepenuh hati. Sampai ketika terjadi perubahan besar di angkasa. Membuat semua dunia di antara bintang porak-poranda dan kepingan- kepingannya terbang enah kemana saja."


Dean menghela nafas panjang setelah bercerita. Sekarang Kang sudah tau kebenarannya.


"Ayo kita ke sana!" ajak Dean, membuyarkan lamunan Kang.


Dean menarik tangan Kang, membawanya terbang melintasi padang rumput yang penuh dengan domba dan sapi dalam pagar-pagar yang luas.


"Yabie, dimana?" tanya Dean lewat transmisi.


Yabie mengeluarkan cahaya putih susu dari matanya, menembus lebatnya hutan mapel. Dean melihat selarik cahaya dari sisi kiri.


"Mereka di sana!"


Dean kembali terbang dan menarik tangan Kang. Dengan lincah Dean melewati batang-batang pohon sambil terbang. Berbelok ke kanan dan kiri menghindari pohon yang tumbuh tidak beraturan.

__ADS_1


"Yabie! Sunil! Dimana?" teriak Dean keras.


"Kami di sini!" balas Sunil.


Dean mengikuti suara Sunil. Dia menemukan dua orang itu bersembunyi di balik batang pohon. Dean turun bersama Kang.


"Kalian sedang apa?" tanya Dean heran.


"Berburu binatang buas! Domba Yabie menghilang seekor tadi pagi. Ada ceceran darah mengarah ke hutan mapel," sahut Sunil.


"Hah!?" Apa kalian sudah menemukannya?" tanya Dean.


"Tadi ada harimau yang terlihat. Itu sebabnya kami sembunyi." ujar Sunil.


"Kenapa sembunyi? Jika kalian yakin harimau itu yang membunuh domba di padang rumput, kenapa tak dibunuh saja?" tanya Dean heran.


"Kami belum yakin. Yabie bilang, ada juga macan yang dia masukkan ke sini waktu itu. Jadi dia masih belum bisa memastikan," keluh Sunil.


"Yabie, dengan adanya binatang buas di hutan mapel, domba-domba dan sapi-sapi itu terancam bahaya di padang rumput."


"Kenapa tak dipindahkan saja ke area samping kota mati? Buatkan kandang atau pagar-pagar untuk memisahkan mereka dari milik Liam. Biarkan anak-anak itu yang mengurusnya. Beri mereka upah dengan susu atau keju yang dihasilkan ternakmu." Dean memberi sedikit nasehat.


Dia tau, seperti juga Kang, Yabie juga biasa hidup sendiri. Dia menganggap segala sesuatu miliknya tidak perlu dibagikan pada orang lain. Dia belum terlalu familier dengan tata cara hidup bersama.


Yabie menatap Dean ragu. Dia tak terlalu suka opsi itu. Jika Keluarganya yang minta, Yabie tak ragu memberi. Tapi yang tinggal di kota mati sama sekali tak ada hubungan dengannya.


"Ehemmm...."


Semua menoleh ke arah Kang. Bertanya dengan mata, " ada apa?"


Kang menunjuk ke arah dalam hutan. Lalu dia melompat-lompat dengan lincah dari satu pohon ke pohon lainnya.


Dean mengikutinya dengan terbang. Sunil dan Yabie juga akhirnya mengikuti.


Tak lama, Kang dengan bentuk naganya terlihat berdiri diantara macan dan harimau serta hewan-hewan lain. Semua binatang itu diam tak bergerak mengelilinginya. Terlihat sangat ketakutan.


Dean terpaku melihat pemandangan itu. Yabie dan Sunil berhenti terbang dan melihat di sisi Dean.


Kang terlihat seperti raja hutan yang ditakuti para penduduknya. Rasanya semua binatang yang ada di sini ikut keluar untuk bertemu raja mereka.


"Dia benar-benar seekor naga. Dia bisa menguasai semua hewan liar di sini. Hebat!" celetuk Sunil tanpa sadar.


Seekor harimau maju dengan kepala tertunduk. Sepertinya pelakunya sudah mengaku.


Kang terbang ke arah Dean. Menyentuhkan kaki depannya ke kening Dean.


"Yabie, kata Kang, Harimau ini yang mengambil dombamu. Mereka lapar dan semua kelinci bersembunyi. Jadi domba itu untuk dimakan bersama dengan si macan."


Dean menjelaskan. Dia menyayangkan sikap Yabie yang bahkan tak memikirkan apakah binatang liar itu cukup makan atau tidak. Jika terus begini, bahkan penduduk kota yang masukpun bisa-bisa jadi santapan harimau dan macan itu.


Kang mengulurkan kaki depannya ke arah Yabie. Tak lama Yabie mengangguk lega.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Sunil bingung.


"Kang mau membawa kedua hewan buas ini ke tempatnya. Bukah itu solusi yang bagus? Ternakku akan aman di padang rumput," ujar Yabie senang.


"Tidak!" Dean dan Sunil bicara serempak.


"Tidak?" tanya Yabie tak mengerti.


"Jika Kang mau membawa binatang buas, pilih satu saja. Yang satu lagi tetap tinggal di sini. Tapi tidak boleh membunuh domba lagi. Atau dia akan dikeluarkan ke hutan larangan!" ujar Dean.


"Kenapa begitu?" protes Yabie.


"Karena itu adalah keseimbangan alam. Tanpa ada predator, mereka akan segera memenuhi dunia kecil ini. Dan tidak ada lagi tempat yang cukup untuk ternak dan ladang gandum!" jelas Dean sambil menunjuk binatang lain yang ada di situ.


"Baiklah. Pilih satu saja, Kang," ujar Yabie mengalah.


"Katakan pada yang lainnya untuk tidak mengganggu ternak di padang rumput dan ladang gandum. Mereka hanya boleh tinggal di hutan mapel," ujar Yabie jengkel.


Kang mengangguk. Lalu kembali ke tengah-tengah kumpulan binatang yang ada di sana. Sepertinya Kang sedang mengisi kepala mereka semua dengan perintahnya. Terbukti hewan-hewan liar itu hanya menunduk takzim.

__ADS_1


Kang membawa harimau tua itu kembali bersamanya.


******


__ADS_2