PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 327. Alaska


__ADS_3

Malam sudah mulai pekat. Bulan juga tak ada. Tim itu sudah bersiap-siap sejak sore. Para wanita dan Cloudy sudah tak terlihat lagi.


Lima pria berjalan menembus gelapnya hutan dan pepohonan tinggi. Mereka mengikuti arah yang diputuskan oleh dokter Chandra. Mereka percaya pada insting penguasa.


Lebih dari setengah jam mereka berjalan, baru dokter Chandra berhenti. Yang lain mengikuti. Dokter Chandra melayang naik ke atas pepohonan. Yang lain juga mengikuti hingga tiba di atas pucuk-pucuk pohon.


"Kita mengikuti hutan ini hingga ke tepi pantai." Dokter Chandra menunjuk satu arah.


"Ke mana tujuan kita?" tanya Dean sedikit kebingungan.


"Rusia!" jawab dokter Chandra yakin.


"Penguasa, dari Amerika ke Rusia itu, sangat jauh. Kita harus melewati Samudra Pasifik yang luas banget," ujar Robert.


Dokter Chandra balik bertanya. "Apa kalian tak yakin bisa melewatinya?"


Mereka saling berpandangan dengan ragu. Jika tak sanggup, maka mereka akan jatuh ke lautan luas tak bertepi.


"Penguasa, halangan melintasi samudra Pasifik itu, bukan cuma kemampuan terbang. Tapi pandangan pengawas dari tiap negara. Juga dari tiap kapal laut yang lewat," papar Dean.


"Lalu, apa saran kalian menuju ke sana?" Dokter Chandra balik bertanya.


"Hemmm ... menyisir Amerika Utara hingga ke Rusia Utara," jawab Dean.


"Dengan begitu, kita akan melewati berbagai kota. Dan artinya perjalanan jadi lebih lambat, karena kita tak mungkin terbang." Robert menimpali.


"Tapi kita upayakan untuk bisa terus melewati hutan dan pegunungan. Namun, udaranya pasti akan semakin dingin nanti," tambah Dean.


"Seperti itu juga bagus," sahut dokter Chandra.


"Sebenarnya, kenapa kita harus ke Rusia?" tanya Sunil.


"Tadi siang, jiwaku mencoba mencari penghubung dunia ini dengan dunia lain. Dan aku merasa di sana, ada sesuatu," ujar dokter Chandra.


"Apakah mungkin itu pintu teleportasi yang pernah digunakan oleh Pangeran Felix, ayah Glenn?" tanya Robert ingin tau.


"Aku tidak tau, apakah itu pintu teleportasi yang sama. Tapi, jika pintu teleportasi di dunia Elf sudah ditutup, maka pasti ada pintu keluar lain. Atau ... bisa jadi memang pintu teleportasi yang berbeda sama sekali."


Dokter Chandra menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku tak bisa memastikan hal itu tanpa mencoba. Aku hanya merasakan kehadirannya. Tapi keadaan dibaliknya, tetaplah misteri, hingga kita melintasinya."


"Baik. Kami mempercayai intuisi Penguasa. Tapi, lebih aman jika kita mengikuti rute sepanjang Amerika Utara," kata Robert.


"Memang akan memakan waktu lebih lama. Tapi kita kan memang ingin tetap tak terdeteksi, agar tidak sampai merusak teori sebab akibat atau probabilitas, seperti kata Dean," tambah Robert.


"Baiklah ... kita ikuti cara itu." Dokter Chandra setuju.


"Aku tau jalur hutan ini hingga ke perbatasan Kanada. Ayo!" ujar Robert, seraya terbang mendahului.

__ADS_1


Lima orang melesat di kegelapan malam, berusaha menyamarkan diri diantara pucuk-pucuk pepohonan. Kadang mereka harus menunggu area sekitar sepi ketika melewati tempat yang terbuka luas.


Dengan kegigihan, mereka akhirnya telah melewati garis perbatasan Kanada.


"Hari hampir pagi. Kita juga sudah lelah. Sebaiknya cari tempat untuk istirahat," kata dokter Chandra.


"Baik."


Mereka mencari hutan yang lebih jauh dari jalur pendakian wisata.


"Sepertinya, tak ada siapapun di sini," kata Sunil. Hutan itu gelap gulita.


"Ya, di sini saja." Dokter Chandra menyetujui.


Empat anggota tim lain segera menyiapkan tempat untuk beristirahat. Dean mengeluarkan lempengan batu gunung dan membuat tempat perlindungan untuk mereka tidur, di pinggang gunung.


Tak ada yang berbincang lagi. Semuanya langsung tertidur kelelahan.


*


*


"Ahhh ... tempat yang sangat indah. Jika bukan karena keruwetan administrasi, aku sungguh ingin tinggal di sini," celetuk Niken.


"Kebanyakan hutan di Kanada adalah area konservasi. Ada beberapa tempat yang bisa dibangun kabin, Dengan perijinan, tentu saja. Di lain tempat, disediakan tempat kemping untuk para pendaki atau penikmat alam dengan campervan," jelas Dean.


"Bumi di jaman kita, bahkan pulau kecil seluas lapangan bola juga sudah jadi milik negara tertentu. Apa lagi hutan yang ada di dataran luas suatu negara," jelas Marianne.


"Hemm, bagaimana jika setelah kembali nanti, kalian datang ke tempat asalku? Kita bisa menikmati suasana alam bersama!" cetus Dean.


"Itu ide yang bagus. Mengenang perjalanan dan teman-teman lain yang tinggal serta mendahului kita." Sunil menyambut ide Dean dengan antusias.


"Ya. Kita harus lakukan hal itu. Dan jangan lupa mengunjungi makam Alan di dekat kabinku," tambah Robert.


"Tentu saja."


Sepanjang siang hari, mereka hanya beristirahat dan memulihkan diri. Widuri, Niken dan Marianne tak mengusik para pria tidur siang. Ketiganya juga hanya berbaring malas menikmati sinar matahari yang sesekali menerobos dari balik dedaunan.


Malam kedua, ketiga dan keempat, mereka kembali melakukan hal yang sama. Terbang melewati pegunungan dan hutan yang luas. Namun makin lama, udara terasa makin dingin. Mereka telah memasuki area Utara bumi. Beberapa puncak gunung, terlihat tetap diselimuti salju. Tapi tak ada cara lain, selain terbang malam, menembus dinginnya udara. Mereka mengenakan jaket dan baju berlapis seadanya.


"Kita sudah sampai di Alaska," kata Robert.


"Apa kau pernah ke sini?" tanya Sunil.


"Ya. Saat bulan madu." Robert tersenyum tipis. "Tempat yang indah bukan?" katanya lagi.


"Ya. Harus ku akui keindahannya. Bahkan saat malam hari," aku Sunil.


"Kita cari tempat yang lebih indah untuk istirahat. Ayo!" ajak Robert.

__ADS_1


Yang lain mengikuti arah terbangnya. Mereka mencapai tepi hutan. Di depan sana savana luas yang ditutupi salju di sana-sini, terbentang. Sinar Aurora Borealis di langit menyuguhkan cahaya indahnya yang kadang seakan menari. Sungai kecil yang membelah diantaranya, membiaskan keindahan ciptaan Tuhan.


"Ayo turun!"


Robert segera mencari tempat untuk menikmati sajian yang hanya bisa ditemui di bumi belahan Utara. Empat temannya mengikuti turun ke permukaan. Pandangan mereka sulit untuk dialihkan ke hal lain.


Tapi Dean dengan segera mengeluarkan lempeng batu untuk alas mereka istirahat. Kemudian para wanita dikeluarkan, agar bisa ikut menikmati suasana malam itu.


Seruan takjub segera terdengar.


"Wowww!"


"Amazing!"


"Indah banget!"


"Aku mencintaimu, Dean," ujar Widuri senang. Dipeluknya Dean dengan serta merta.


Di sisi lain, Niken juga bahagia dipeluk Indra. "Apa kau juga ingin tinggal di sini?" goda Indra.


"Tempat yang indah. Tapi jika musim dingin, pasti membekukan tulang," balas Niken.


"Aku bisa memeluk dan menghangatkanmu setiap hari," Indra masih ingin menggodanya.


"Aku bisa meleleh lebih cepat kalau terus dihangatkan," gerutu Niken.


"Hahahaha ...."


Semua tertawa mendengarnya.


Mereka berbaring dan melihat keindahan langit utara. Pandangan kagum itu tak lekang dari mata anggota tim itu.


"Kalau mau jalan-jalan besok, mungkin bisa," ujar Robert.


"Benarkah?" Niken terlihat antusias.


"Apakah penampilan kita tidak terlihat aneh?" tanya Widuri.


"Kau selalu cantik," rayu Dean.


"Gombal!"


Widuri menyingkirkan wajah Dean dari hadapannya, karena menganggu pemandangan indah di langit.


Mereka tidur di bawah keindahan alam tiada tara.



Aurora Borealis di Alaska.

__ADS_1


Pic from Pin.


__ADS_2