
Hari masih subuh, Dean sudah bangun dan menggantikan Alan yang berjaga.
"Kau sambung tidurlah." Colek Dean yang melihat Alan duduk sambil terkantuk-kantuk. Kepalanya hampir menyentuh permukaan meja.
"Ah, kau sudah bangun?" Tanyanya setengah mengantuk.
"Tidur sana. Sebelum aku berubah pikiran." Kata Dean.
Alan melangkah terseok-seok menuju kamar. Dean menggelengkan kepala melihat tingkahnya. Alan yang dulu dikenalnya di hutan salju adalah pribadi pendiam, lebih suka bekerja ketimbang bicara. Sangat kalem. Sepertinya gaya Z turut mengubah perilaku Alan. Dia jadi lebih konyol, kekanakan namun tetap penuh tanggung jawab.
Dean memulai hari dengan berolahraga ringan berlari sekeliling pagar pondok. Lalu memeriksa air untuk kamar mandi. Membersihkan dedaunan yang mengotori halaman. Lalu menimbunnya dalam lubang di bagian belakang pondok.
Saat Dean kembali, Nastiti sudah bangun.
"Kau dari mana?" Tanya Nastiti sambil menguap.
"Menimbun sampah dedaunan." Dean menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Dean, jangan lama-lama. Aku kebelet nih." Teriak Widuri.
"Masuk saja." Sahut Dean.
"Jangan bercanda. Cepetan." Sergah Widuri geregetan. Digedornya pintu kamar mandi dari luar.
Dean membuka pintu, tapi tak bergeser dari tempatnya. Widuri sangat keki.
"Awas. Ahhh.. aku tak tahan lagii.." Tangan Dean ditarik Widuri keluar. Dean tak melawan. Dia hanya ingin menggoda.
Widuri sudah membanting pintu kamar mandi sebelum Dean kembali mengganggunya.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Dean khawatir.
"Menjauhlah!" Teriak Widuri.
"Eh, jangan lupa isi tempat penyimpanan air." Teriak Widuri lagi.
"Kenapa dia?" Tanya Dean pada Nastiti.
"Tadi dia bilang sakit perut." Marianne menyahuti.
"Adakah herbal untuk sakit perut?" Tanya Dean.
"Akan ku buatkan teh Kunyit dan jahe untuknya." Sahut Marianne.
"Terima kasih Marianne." Ucap Dean.
Dean menuju kamar. Dia membangunkan Michael. Ditatapnya tubuh Sunil yang tidak menunjukkan perkembangan apapun. Sudah 3 hari dan dia hanya diberi minum air abadi atau bubur encer dengan kaldu daging. Ini tak boleh berlarut-larut. Nanti dia harus mencari tabib untuk Sunil.
"Michael, aku mau pergi memeriksa sebentar. Kau yang giliran menjaga para wanita." Kata Dean.
"Alan?" Tanya Michael sambil melirik Alan yang tidur pulas.
__ADS_1
"Biarkan dia tidur. Bangunkan saat sarapan." Kata Dean.
"Baiklah." Michael bangkit dari duduknya dan keluar kamar. Dia melakukan sedikit peregangan untuk mengusir rasa malas.
"Dean, air kamar mandi habis." Widuri keluar kamar mandi dengan wajah segar dan rambut basah.
Dean menelan ludahnya. Itu kecantikan alami yang tak mungkin ditemukannya pada gadis-gadis perkotaan yang penuh lapisan bedak.
"Hei, apa kau masih di sini?" Widuri menjentik-jentikkan ibu jari dengan jari tengahnya di depan wajah Dean.
"Ahh, apa?" Tanya Dean gelagapan.
"Oh Tuhan.. Kau bisa melamun sambil berdiri. Ckckckkkk.." Decak Widuri.
"Ambilkan air untuk kamar mandi." Kata Widuri.
"Ahhh,, Dean... Tidak ada air di sini." Teriak Michael dari kamar mandi.
"Baik. Tunggu sebentar." Ujar Dean. Dia melesat menuju tebing untuk mengambil air dari laut.
*
"Aku pergi dulu." Dean berpamitan.
"Oke. Hati-hati. Jangan terlalu lama. Kau belum sarapan." Widuri mengingatkan.
"Jangan khawatir." Dean mengecup kening Widuri.
Dean naik ke atas puncak-puncak pohon. Lalu melesat cepat menuju ke arah pantai di sisi lain pulau yang dilihat Alan kemarin sore. Jika melihat posisi matahari terbit, maka itu adalah sisi Selatan.
Dean terbang rendah setelah yakin bahwa itu adalah pantai. Disusurinya garis pantai dari ketinggian. Diamatinya lingkungan sekitar itu dengan teliti. Di laut tidak ada satupun kapal nelayan yang terlihat. Dicarinya di balik-balik pohon kelapa sekiranya ada tanda-tanda penghuninya. Tapi sejauh 5 kilometer, Dean tak melihat satupun pondok atau sekedar jejak kaki manusia di pasir pantai.
"Aku yakin ketua kota sudah menyusuri seluruh pulau sejak dia terdampar 1000 tahun yang lalu di sini. Tak mungkin juga Bi berdiam diri tanpa mencari jalan untuk kembali ke pusat kota cahaya." Gumam Dean.
"Kenapa mereka tidak pindah ke sini saja jika ada makhluk berbahaya di hutan dekat kediaman mereka?" Dean tak habis pikir.
Tapi Dean terus memeriksa garis pantai itu. Dia menemukan dan mengumpulkan banyak kerang dan cumi-cumi yang terbenam pasir pantai. Dean mencicipi air laut itu.
"Asin." Gumamnya.
Dean merasa aneh. Satu sisi pulau ini airnya asin, sementara sisi lainnya berair tawar. Dean memandang ke tengah laut, mencari-cari sesuatu yang mungkin bisa menjadi petunjuk.
Dean bangkit setelah merasa tak lagi menemukan sesuatu di pantai itu. Dean menyimpan sebagian temuannya di ruang penyimpanan. Sebagian lagi dibersihkannya di pantai itu.
Dean berjalan ke arah sebatang pohon kelapa. Mengumpulkan pelepah kelapa yang terserak. Menjadikannya sebagai alas duduk. Lalu mulai menyalakan api dengan daun-daun kelapa kering dan beberapa pelepah kering.
Dean melayang ke pucuk pohon kelapa, mengambil beberapa buah tua dan muda. Dikeluarkannya satu wadah gerabah kecil. Dengan jarinya dia melubangi buah kelapa dan menuang airnya pada wadah. kemudian memasukkan cukup kerang dan cumi-cumi ke dalam wadah. Lalu merebusnya di atas api. Dean memberi bumbu seadanya yang dia temukan di ruang penyimpanan.
Dengan santai Dean menikmati sarapannya. Beberapa ekor tupai tampak tertarik dengan kehadirannya. Mereka mendekat dengan hati-hati. Dean membelah beberapa kelapa tua yang tadi diambilnya. Lalu mencungkil beberapa bagian daging buahnya. Buah-buah kelapa itu diletakkannya sedikit jauh, berharap binatang-binatang mungil itu bisa ikut menikmati sarapan seperti dirinya.
Tupai-tupai itu mendekat. Mengendus sebentar lalu berebut mengambil daging buah kelapa dan memasukkannya ke mulut dengan cepat lalu lari menjauh. Dean tersenyum melihat tingkah lucu mereka.
__ADS_1
Dean baru saja menusuk cumi-cumi yang sudah matang dengan ujung pisaunya saat tupai-tupai berlarian ketakutan. Dean menoleh ke arah belakangnya. Seekor kucing besar berbulu abu-abu dengan corak lingkaran putih serta totol hitam ditengahnya sedang menyeringai ke arahnya.
"Binatang apa ini? Harimau? Macan? Atau singa? Lebih kecil dari Harimau dewasa, tapi warna dan coraknya hampir seperti macan tutul." Gumam Dean waspada.
'Kucing besar liar umumnya carnivora bukan? Apa dia mengira aku mangsa?' Pikir Dean.
Dengan cepat cumi yang ada di ujung pisau berpindah ke dalam mulutnya. Sikapnya jadi siaga dengan menggenggam erat pisau itu. Dean bangkit dari duduk dan memasang kuda-kuda. Dia tak kan mau berkelahi dengan sesama manusia, tapi Dean percaya diri mampu menghadapi hewan liar. Dean memiliki dasar ilmu bela diri, bisa berpedang, mampu menggunakan beragam jenis senjata dan mahir memanah. Semua itu adalah persiapan untuk bekerja di lingkungan dunia kecil pertanian dan perkebunan yang kerap tak bebas dari binatang liar dan buas.
Kucing liar besar itu menatap Dean dengan sorot mata tajam. Dean kini terlihat lebih tinggi darinya setelah bangkit dari duduk.
"Hei, kucing besar. Aku tak mengganggumu di sini. Hanya beristirahat dan menikmati sarapan saja." Kata Dean.
Binatang buas itu menatapnya sejenak lalu berkedip. Dia memutari Dean tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun. Dean juga ikut memutar tubuh tanpa kehilangan kewaspadaan.
"Kau ini kucing jenis apa heh? Apa kau kesini karena tertarik bau harum masakanku? Kau mau?" Dean bicara sendiri.
Dibalikkannya mangkuk gerabah di atas panci. Air segera mematikan api. Sebagian isinya tumpah ke atas abu. Sebagian lain tersisa di mulut mangkuk, mengepulkan asap panas ke udara. Aroma harum menguar di udara terbawa angin kemana-mana. Binatang besar itu menolehkan pandangan ke arah tungku yang masih mengepulkan asap panas. Dia berjalan mendekat sambil mengendus.
"Apa kau lapar? Apakah binatang buruan di sini juga hilang?" Meski tak mungkin dapat jawaban, Dean tetap saja bertanya.
"Sebentar ku ambilkan. Tapi kita berteman yaa.. Akan ku beri kau makanan jika kita berteman."
Dean mendekati mangkuk yang miring. Dituangnya sisa isi mangkuk di atas dedaunan kelapa yang jadi alas duduknya. Dengan lidi kelapa ditusuknya sepotong daging cumi, meniup-niupnya agar jadi lebih dingin. Lalu diulurkan pada kucing liar besar yang tampak tertarik dan berjalan mendekat.
"Sini. Kau terlihat kurus. Kau pasti lapar. Sudah berapa lama kau tak makan?" Dean berusaha bersikap lembut agar kucing itu tak takut lagi.
Kucing besar itu kini ada di dekat Dean. Matanya berpindah dari Dean ke arah lidi yang menusuk cumi. Dean meniupnya sekali lagi. Mencoba merasakan suhunya dengan ujung jari.
"Ini sudah hangat. Coba kau cicipi masakanku. Kalau enak, jangan lupa memujiku pada teman-temanmu yaa.."
Dean mendekatkan lidi ke mulut kucing besar itu. Binatang itu mencium sebentar sebelum membuka mulut. Dan.. daging cumi itu lenyap beserta sedikit patahan lidi. Dean terkejut melihatnya.
"Hei, kau bisa ketulangan lidi kalau kau menelannya. Keluarkan. Itu berbahaya." Dean memeluk tubuh kucing liar yang kira-kira berukuran 1 meter itu. Kucing besar itu terkejut dan berontak.
"Hei, muntahkan. Nanti kau tersedak. Itu lidi, bukan daging!"
Dean kelabakan dan berusaha membuka mulut kucing itu. Mereka bergelut sesaat karena binatang itu menolak membuka mulutnya. Terjadi sedikit pergumulan di tempat itu. Pasir dan dedaunan beterbangan diselingi suara auman dan omelan khawatir Dean. Namun dalam pitingan Dean, binatang kurus itu akhirnya kalah. Dia tergeletak di pasir ditindih Dean dengan mulut terbuka. Dean memeriksa mulutnya. Daging cumi itu sudah lenyap.
"Kau bisa menelannya?" Dean menatap tak percaya.
"Apa lambungmu tak terluka mengolah lidi?" Jangan salahkan aku kalau perutmu sakit ya.."
Dean melepaskan pitingannya pada hewan itu. Dia kembali ke tempat duduknya semula. Diambilnya dengan tangan beberapa potong daging cumi. Meniupnya sebentar dan disodorkan ke mulut binatang yang kini ikut duduk diam di dekatnya. Binatang itu memakan setiap potongan yang disodorkan Dean.
"Apa kau punya keluarga di sini? Apa mereka juga lapar? Panggil mereka kemari biar ku cari lagi makanan di laut untuk kalian." Kata Dean sambil mengelus bulu lembut binatang itu.
Binatang itu duduk diam di samping Dean, membiarkannya terus menggosok punggung dan kepalanya.
"Aku harus memanggilmu apa? Kau seperti macam tutul, tapi berbeda. Jika ku sebut kucing, namun tubuhmu terlalu besar. Kau dari jenis apa sih? Aku belum pernah melihat yang sepertimu di kebun binatang."
Dean terus saja bicara sendiri. Sementara si kucing besar liar itu menikmati setiap elusan di punggung dan kepalanya.
__ADS_1
Dean mengajak kucing besar itu ke laut untuk berenang. Mereka seperti dua anak kecil yang bahagia bermain di laut.
*****