PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 160. Bertahan di Tebing


__ADS_3

Robert bersyukur saat air laut pasang, mereka sudah berada di tebing yang lebih tinggi dari sebelumnya. Tapi tempat itu begitu terbuka dan tepat disisi laut. Tiap kali ombak menghantam karang di bawah, cipratan airnya mengenai mereka bertiga.


Robert hanya cemas jika ombak menggila seperti saat badai kemarin. Maka posisi mereka ini bisa berbahaya. Rawan tersapu ombak besar. Tapi malam ini mereka sudah sangat lelah dan lapar. Memanjat tebing terjal dari bukanlah hal mudah dilakukan oleh mereka yang kakinya terluka separah Liam.


Robert dan Laras bersama-sama membantunya naik. Seorang mendorong, seorang lagi menarik tubuh Liam yang sering pingsan. Kerjasama yang terus mereka jaga dalam kondisi yang begitu sulit.


Liam kerap tak sadarkan diri karena lukanya tak henti mengucurkan darah. Robert dan Laras sama cemas melihat itu. Namun mereka hanya bisa menutup luka sobek itu dengan kain, mengikatnya erat sambil berharap darah akan berhenti keluar.


"Kau jaga Liam. Aku akan melihat apa yang ada di sebelah situ." Tunjuk Robert ke satu arah.


"Hemm. Hati-hati licin dan hari sudah gelap." Laras mengangguk.


"Ya."


Robert berjalan menempel dinding tebing karena lebar pijakannya hanya sekitar satu meter, dan ombak tak henti memecah di karang hingga menyipratkan air yang terus membasahi tempat itu.


Hingga permukaan yang diinjaknya habis, Robert masih belum menemukan jalan lain yang mungkin bisa mereka lalui. Robert melihat ke atas, lalu menghembuskan nafas pelan.


"Tebing di sini sangat terjal. Tak mungkin didaki. Kecuali oleh orang yang memiliki peralatan panjat tebing," gumam Robert.


Robert akhirnya memutuskan kembali ke tempat Laras dan Liam.


"Apakah ada sesuatu di sana?" tanya Laras. Robert menggeleng. Laras kembali diam dan bersandar baik-baik di dinding tebing. Tubuhnya basah kuyup karena tak henti terciprat air laut. Sementara Liam terbaring lemah di sisinya.


"Robert, itu apa?" Tunjuk Laras pada benda yang terombang-ambing di permukaan laut dekat tebing itu.


Robert memperhatikan dengan teliti. Di bawah cahaya senja, yang hampir usai, segala benda nyaris terlihat sama hitam dengan bayangan karang.


"Aku tak bisa memastikannya," kata Robert. Dia berusaha memejamkan mata menghilangkan letih. Mengabaikan rasa lapar yang mulai menggigit.


Tapi Laras tak bisa seperti Robert dan Liam. Dia tetus memperhatikan lautan. Kemudian dilihatnya benda itu makin dekat. Dia yakin itu adalah bungkusan bekal yang disiapkan istri ketua desa.


'Itu makanan' batinnya.


Laras ingin mengatakan hal itu pada Robert, tapi tak jadi. Dilihatnya Robert sedang tertidur kelelahan. Laras kembali mengalihkan pandangan ke arah benda yang digoyang-goyang ombak. Dilihatnya ombak mendorong benda itu mendekati tebing di bawahnya. Laras mencoba berjongkok dan bersiap untuk meraihnya jika mendekati jangkauannya.


Tapi tangannya masih jauh dari permukaan laut dengan cara itu. Jadi dia menelungkup di permukaan. Persis di pinggir tebing. Sebelah tangannya menekan kuat ke batu tempatnya menelungkup, sebelah lagi bebas menggapai ke bawah tebing.


Laras menunggu dengan sabar ombak mengantarkan benda itu ke tepi sekali lagi. Bola matanya sayu berayun mengikuti ayunan ombak. Sesekali diusapnya wajahnya yang basah.


"Dia datang.." gumam Laras dengan sedikit binar di matanya. Dia bersiap untuk menjangkau arah ayunan benda itu.


"Dapat!" Ucap Laras senang.

__ADS_1


Dipegangnya benda itu erat-erat dan mencoba bangun dari telungkupnya. Tapi sebelah tangannya terpeleset yang membuat keseimbangan tubuhnya goyah. Sebelum wajahnya menghantam permukaan batu, tangan lainnya refleks menahan beban tubuhnya.


Laras tertegun. Benda yang tadi diraihnya terlepas dan jatuh ke laut, didorong ombak menjauh dari tebing.


"Oh tidak!" Dia menatap benda itu nanar.


Byuurrr..


Suara benda jatuh ke air mengangetkan Robert yang tertidur.


"Apa itu?" Tanya Robert ke arah sebelahnya. Tapi tak ada Laras di situ. Dia segera tau, bunyi jatuh tercebur itu pasti karena Laras


Dipalingkannya wajahnya ke laut. Mencari-cari Laras. Dilihatnya seseorang berenang menghadang ombak mengejar benda yang makin menjauh.


"Laras, lupakan itu. Ayo kembali. Di sana lautnya dalam!" teriak Robert cemas.


Tapi Laras tak mendengarnya. Suara deburan ombak memecah di bebatuan memenuhi gendang telinganya. Dia berusaha keras tetap mengapung saat ombak naik dan menenggelamkannya di air. Laras terus berenang menuju bungkusan itu.


Hap!


Bungkusan itu dapat dijangkaunya. Dia segera berbalik untuk berenang kembali ke tebing. Laras terkejut saat menyadari dia sudah terlalu jauh dibawa ombak. Tapi menyerah sekarang berarti bunuh diri. Maka dia mulai berenang ke arah tebing. Lambaian tangan Robert jadi pemandu arahnya.


Usaha tak mengkhianati hasil. Laras akhirnya mencapai bawah tebing. Dia sudah dapat mendengar suara khawatir Robert. Dilemparkannya bungkusan yang dikejarnya dengan nyawa itu ke arah Robert.


Robert menunjukkan bungkusan di tangannya.


"Bagus! Sekarang aku akan ke atas!" Teriak Laras senang.


Laras berenang sedikit ke kiri. Mengikuti jalan yang sebelumnya mereka gunakan untuk naik ke atas. Matanya yang jeli melihat sesuatu terjepit antara karang. Diambilnya.


"Terimakasih Tuhan." Laras memandang ke langit.


"Robert, tangkap ini!" teriak Laras lagi.


"Lemparkan!" jawab Robert.


Laras melemparkan benda yang ditemukannya ke arah tebing. Lalu mulai memanjat naik.


"Kau menakutiku," Robert memeluknya kencang hingga Laras merasa sulit bernafas.


"Aku tak bisa bernafas," bisik Laras lirih.


Robert tersadar. "Ah, maaf... maaf." Dilepaskannya tubuh Laras yang basah kuyup itu.

__ADS_1


"Untuk apa kau mengejar itu? Bahaya!" Robert masih khawatir


"Tadi sudah ku dapatkan. Tapi terlepas. Itu makanan. Makanya ku kejar." Ujar Laras.


"Ayo kita ke tempat Liam," ajak Laras.


Mereka berbagi buah kelapa dan sebungkus ikan bakar yang sudah basah kuyup itu bertiga. Tidak terlalu mengenyangkan, tapi itu patut disyukuri. Setidaknya malam ini cacing-cacing tidak mengadakan demo di perut mereka.


Semakin malam, udara makin dingin. Tubuh mereka yang selalu basah, bukanlah hal bagus. Robert saja menggigil menahan hembusan angin dingin. Apa lagi Laras dan Liam yang sedang tak sehat.


"Aku mau melihat ke sisi itu. Bisakah kau jaga Liam?" tanya Robert pada Laras yang duduk meringkuk dengan tubuh gemetar.


"Hemm.." jawabnya.


Robert melangkah perlahan menapaki sisi tebing itu. Makin lama batu pijakannya makin lebar. Robert bersemangat untuk terus maju. Laku dia menemukan celah di dinding tebing.


"Celah ini terlindung dari hempasan ombak. Juga bisa menahan hembusan angin dingin," gumam Robert setelah mengamatinya.


Lalu Robert kembali ke arah Laras


"Aku menemukan tempat yang lebih baik untuk beristirahat. Ayo." Ajak Robert.


Laras mengangkat kepalanya. Lalu mengangguk. "Ayo kita angkat Liam ke sana." Ujar Laras. Robert mengangguk.


Beriringan mereka berjalan menuju celah dinding yang dilihat Robert.


"Tempat ini lumayan. Cuma agak gelap." Ujar Laras.


"Ya. Tapi untuk malam ini, kita aman di sini. Besok kita coba naik ke atas. Bersabarlah." Kata Robert.


"Robert.." Laras merasa ragu untuk bicara.


"Katakanlah." Ujar Robert menatap Laras yang memeluk lutut


"Boleh aku memelukmu? Aku kedinginan." Laras menahan rasa malu dengan permintaan itu.


"Tentu. Kau boleh menelukku kapan saja. Tak perlu meminta." Bisik Robert haru. Betapa wanita yang disukainya ini masih berusaha mempertahankan harga dirinya. Bahkan dalam keadaan seperti ini.


'Taukah kau bahwa aku sudah lama menyukaimu?' batin Robert perih.


Dia tak pernah mengatakannya karena tau Laras telah menyimpan seseorang di hatinya. Robert tak ingin melanggar batasan itu. Kesetiaan Laras pada cintanya harus dihormatinya, meskipun itu bukan untuknya.


*****

__ADS_1


__ADS_2