PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 168. Manusia Masa Depan


__ADS_3

Selama beberapa waktu, Laras dan Liam bisa hidup bebas di area kediaman Stevan. Beberapa kali mereka berbincang tentang dunia asal Laras dan Liam. Liam bahkan menggambarkan tentang dunia yang ditinggalinya. Meski gambarnya tak serealistis goresan tangan Niken, tapi Stevan dan Willian tetap terkagum-kagum.


Bagaimana bisa manusia masa depan tinggal di bangunan-bangunan tinggi. Tentang mobil, dan pesawat yang tak pernah mereka bayangkan. Tentang dunia yang ternyata begitu besar.


Berita tentang kedatangan manusia dari masa depan segera menyebar di kediaman tersebut. Mereka memandang Laras dan Liam dengan pandangan kagum dan hormat.


Tapi keduanya tetap tak diizinkan keluar dari area tersebut. Menurut Stevan, Laras dan Liam mungkin akan dianggap sebagai mata-mata oleh pihak lain jika diketahui orang banyak.


Laras dan Liam bersepakat untuk menetap di tempat itu sementara waktu. Laras mengajarkan bahasa yang digunakannya pada beberapa anak dan para wanita. Hingga kemudian mereka bisa berkomunikasi meski masih terbata-bata.


Liam ikut membantu mengerjakan beberapa pekerjaan pria. Dia lebih luwes bergaul ketimbang Laras. Dia bahkan selalu diundang jika beberapa orang ingin menghabiskan malam dengan mabuk. Biasanya Liam diminta untuk kembali menceritakan kisah perjalanannya yang kadang dikagumi, kadang ditertawakan.


Liam tak bisa berbuat apa-apa ketika tak ada yang mempercayai kisah perjalanannya.


Liam bersyukur karena hidup mereka lebih mudah sekarang. Dan dia masih ditempatkan di kamar yang sama. Liam lega, sebab tak perlu khawatir Laras lepas dari pandangannya.


"Kapan kita punya kesempatan menanyakan tentang dinding cahaya?" tanya Laras.


"Sabar. Stevan sedang pergi. Sementara William terlihat sangat sibuk akhir-akhir ini." jawab Liam.


"Sekarang kita bukan hanya berpindah dimensi. Kita juga berpindah ke masa lalu. Ke masa-masa awal terbentuknya kerajaan Inggris. Aku kurang dalam pelajaran sejarah. Kemungkinan kita sekarang berada di abad pertengahan awal."


Liam menerawang sambil membongkar ingatannya atas pelajaran sejarah masa sekolah.


"Kalau meruntut alur perjalanan kita. Berada di hutan antah berantah, Lalu berpindah ke masa-masa negeri dongeng, terus sampai di abad pertengahan awal. Menurutku, kita sudah semakin maju. Kita ada di dunia manusia yang sama. Hanya berbeda masa." Laras merenung.


"Kemungkinan jika kita menemukan dinding cahaya lagi, kita bisa melompat ke masa perang dunia atau saat revolusi industri?" Liam berspekulasi.


Laras menatap Liam dengan mata yang terkejut.


"Berarti, kemungkinan berpindah dua atau tiga kali lagi, kita akan kembali ke masa yang sama." Mata Laras membesar. Dia sangat bersemangat memikirkan hal itu.


"Teorinya begitu. Tapi bisa jadi tahunnya tak bisa sama persis." Liam mengatakan kemungkinan itu.


Laras mengangguk. "Kau benar."

__ADS_1


"Jika nanti Stevan kembali, cobalah menanyakan tentang dinding cahaya. Dia orang yang suka bertualang. Kemungkinan dia tau atau pernah mendengar tentang itu." Laras kembali mengingatkan Liam.


"Ya, akan ku ingat." jawab Liam.


Mereka mengakhiri diskusi malam itu dengan beristirahat. Besok entah apa yang mungkin terjadi. Karena kerajaan-kerajaan kecil di sini sedang berperang untuk saling menguasai dan menundukkan yang lainnya.


*****


Leon, membantu Jane dalam mengolah garam selama kondisinya lemah. Leon sudah mengatakan bahwa dia telah menyingkirkan suaminya. Tapi Jane tak bereaksi. Pandangannya terlihat kosong. Leon tak terlalu mengerti tentang merawat perempuan. Jadi dibiarkannya saja Jane terdiam beberapa waktu.


Meski luka di perutnya belum mengering sempurna, tapi garam-garam kering itu harus segera dikumpulkan dan disimpan di gudang agar tak rusak ditimpa hujan yang jatuh hampir setiap sore.


"Sudah tak ada ikan untuk dimakan besok. Aku harus melaut malam nanti. Apa kau akan baik-baik saja jika ku tinggal sendiri?" tanya Liam pada Jane.


Tak ada jawaban.


"Garam-garam sudah ku kemas dan disimpan di gudang. Kau tak perlu berlari keluar jika turun hujan nanti." Leon melihat wanita itu sejenak. Tapi tak kunjung mendapatkan respon.


"Baiklah. Aku pergi. Habiskan makan malammu." Disodorkannya sepotong ikan bakar ke hadapan gadis itu.


Leon keluar dan menutup pintu kediaman itu. Dia mencemaskan wanita itu. Kediaman ini jauh dari mana-mana. Jika terjadi sesuatu, tak kan ada yang mendengar dan menolongnya.


Sore hari Leon sudah menyiapkan jaring yang dilihatnya tergantung dekat perahu diletakkan. Dia mengambil lampu yang tergantung di situ, memeriksa minyak dan menyalakan apinya sekalian. Semua perlengkapan itu dimasukkan ke dalam perahu.


Leon menyeret perahu ke arah batas laut. Dia tertegun melihat seseorang betdiri membelakanginya. Segera Leon melepas perahu dan mengejarnya dengan khawatir.


"Kenapa kau berdiri di sini? Aku mau melaut. Kau sebaiknya kembali ke dalam. Jangan membuatku cemas." Leon membimbing tangannya untuk kembali ke rumah.


Wanita itu menatap Leon. Pandangannya tidak terlihat kosong lagi.


"Aku ikut ke laut," katanya datar.


Leon terkejut. Bukan karena dia ingin ikut, tapi karena ini adalah kali pertama dia bicara lebih dari satu kata. Leon belum bereaksi saat Jane berjalan ke arah perahu dan menariknya mendekati riak air. Leon segera berlari dan membantunya.


Malam itu keduanya melaut dalam keheningan. Sesekali Leon berbicara, tapi Jane tak merespon sama sekali. Dia benar-benar fokus bekerja. Dan kelihatannya ahli dalam menjaring ikan. Leon hanya membantu menarik jaring yang dtelah ditebarkan Jane.

__ADS_1


Dalam setengah malam, dasar perahu telah terisi penuh dengan ikan berbagai jenis dan ukuran. Mereka segera kembali.


Leon ingin langsung beristirahat, tapi ditahan Jane.


"Bawakan air dengan tong itu." Jane meminta bantuan Leon.


"Baiklah." Leon berjalan untuk melakukan tugasnya.


Tapi dia merasa tak tega ketika melihat wanita itu sibuk membersihkan ikan-ikan yang barusan mereka tangkap.


"Bukankah ini sudah hampir pagi. Kenapa tak istirahat dulu? Kita bisa lakukan ini pagi-pagi kan." tanya Leon heran.


"Waktu pengolahan ikan terbaik adalah sesaat setelah ditangkap." Jawab Jane.


Tangannya lincah membelah dan membersihkan kotoran ikan. "Bantu aku ambil garam ke sini." Pinta Jane.


"Oh, baiklah."


Liam kembali ke gudang dan mengambil garam. Dibawanya ke hadapan Jane.


"Garami ikan-ikan yang sudah dibersihkan itu." Perintahnya pada Leon.


'Apa aku pembantunya?' pikir Leon kesal. Dia sudah sangat mengantuk dan ingin segera tidur sekarang.


Tapi tangannya tak sinkron dengan isi hatinya. Tangan itu refleks menggarami ikan-ikan yang sudah bersih dan dan ditumpuk dalam wadah.


Tangan Jane menusuk kepala tiap ikan dengan tali. Dia merangkai sekitar 10 ekor ikan dalam satu tali.


Ketika fajar pertama muncul di langit, pekerjaan itu akhirnya selesai. Jane dan Leon membawa semua wadah kosong kembali ke gudang. Lalu tali-tali yang berisi ikan-ikan digantungkan di tengah ruangan dengan sebuah galah.


Saat semua pekerjaan itu selesai, langit lembayung mulai menampakkan diri.


"Terimakasih dan selamat beristirahat." Teriak Jane sambil berjalan menuju kediamannya.


Leon termangu. Dia merasa sangat letih dan juga bau amis ikan. 'Bagaimana bisa tidur nyenyak kalau begini?' sungutnya.

__ADS_1


Leon berjalan menuju tepi pantai. Dia mencebur dan berenang dengan bahagia di laut. Dibawah tatapan malu sang surya.


*****


__ADS_2