PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
367. Bersama Aslan


__ADS_3

Dokter Chandra, Indra dan Sunil tiba di rumah Aslan siang hari. Rumah terasa lengang. Dokter Chandra keluar untuk mencari.


"Kau di situ rupanya!" tegur Dokter Chandra.


"Kakek! Kalian sudah kembali!" Aslan meninggalkan pekerjaannya menjemur pakaian kotor dan lusuh yang ditinggalkan di ruang tamu, oleh Dean.


"Ya. Sedikit lambat, karena mengumpulkan beberapa keperluan untukmu dan yang lainnya." jelas Dokter Chandra. "Apa kau sudah makan?" tanyanya lagi.


"Salah satu bibi mengantarkan makanan untuk kita, karena Kakek tak ada, maka aku habiskan saja," jawabnya. Dokter Chandra mengangguk.


"Sunil, Indra, kemari! Coba bantu buatkan masakan untuk kita," panggil Dokter Chandra.


"Ya, Dok," sahut Sunil. Indra mengikuti dari arah belakang. Mereka menuju dapur dan mulai mengeluarkan persediaan makanan untuk dimasak.


Aslan melihat dua orang asing datang bersama kakeknya. Ada berapa banyakkah orang-orang di dunia itu? Apa mereka juga punya kemampuan hebat seperti Robert dan Dean?" pikirnya.


Dokter Chandra menyadari pendangan Aslan pada Indra dan Sunil. "Mereka juga bagian dari kelompok." Dokter Chandra menjawab pertanyaan yang tak dapat dilontarkannya.


"Apakah mereka juga punya kemampuan khusus?" tanya Aslan.


Dokter Chandra mengangguk. "Ya. Tiap orang punya kemampuan khusus."


"Hebat sekali," ujarnya kagum.


"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Dokter Chandra.


Aslan mengangguk. "Ya."


"Kau pergi panggil setiap kepala keluarga di kelompok untuk datang ke sini!" perintah Dokter Chandra.


"Baik, Kek." Aslan segera pergi memanggil para pria yang menjadi kepala keluarga.


Sepeninggal Aslan, Dokter Chandra mengeluarkan simpanan bahan makanan. Semua bahan itu ditumpuk berdasarkan jenisnya. Sekarang halaman itu penuh dengan tumpukan Gandum, sayuran, buah dan daging.


Ketika kerumunan orang itu datang, mereka tercengang melihat begitu banyak bahan makanan di satu halaman rumah


"Baik, setiap kepala keluarga, bisa mengambil dua ikat gandum, seikat sayuran, sekerat daging kering dan lima buah.


"Untuk memasak ini, kalian bisa potong secukupnya, lalu rebus sampai lunak. Setelah itu, daging siap dimasak sesuai keinginan," jelas Dokter Chandra.


Wajah-wajah mereka yang terkejut dan berseri-seri karena mendapatkan pembagian bahan makanan, membuat hati terenyuh. Mereka orang yang punya pemikiran sederhana dan baik hati. Meski sedang sulit, tapi tetap ingat untuk berbagi dengan yang lainnya, meski sedikit.


Antrian mulai berjalan. Suasana ramai, dan ucapan terima kasih mulai terdengar. Mereka menunduk hormat pada Dokter Chandra dan Aslan. Setelah orang-orang itu pergi, halaman kembali sunyi.


Masih ada sisa gandum, sayur, daging dan buah di halaman. "Ini untuk persediaanmu," ujar Dokter Chandra pada Aslan.


"Bukankah itu sangat banyak, kakek?" tolak Aslan.


"Kau adalah keturunan pemimpin kelompok ini. Kau harus punya cukup simpanan, agar bisa menolong yang lainnya suatu saat," nasehat Dokter Chandra.


"Aku mengerti," sahut Aslan. Dibawanya masuk semua persediaan itu ke dalam rumah. Semua ditumpuknya begitu saja di sudut rumah.

__ADS_1


"Bukan begitu caranya menyimpan bahan makanan!" tegur Dokter Chandra.


Aslan menoleh pada pria paruh baya yang mengikutinya. "Bagaimana?" tanyanya ingin tahu.


Dokter Chandra mengeluarkan tongkat panjang yang dibawanya dari dunia kecil. Tongkat kayu itu dibentangkan di bawah atap di kamar. Kemudian ikatan gandum disangkutkan di sana. daging-daging kering yang diikat tali oleh Marianne juga digantungkan di situ.


"Oh, seperti itu? Tapi aku kan tidak bisa terbang. Bagaimana mengambilnya?" celetuk Aslan.


"Nanti harus ada tangga kayu atau galah lain dan semacamnya agar kau mudah mengambilnya. Nanti biar Dean lihat, apa yang bisa dilakukan dengan itu," balas Dokter Chandra.


"Untuk sayuran dan buah, sebaiknya diletakkan di atas keranjang. Aku tidak membawa keranjang. Nanti cari di pasar saja," kata Dokter Chandra.


"Baik, Kek," sahut Aslan lagi.


"Hari sudah siang. Apakah kita masih sempat ke pasar untuk menjual sesuatu?" tanya Dokter Chandra.


"Nanti tak bisa kembali saat air pasang naik." Aslan memberi pertimbangan.


"Apa kau lupa kakekmu bisa terbang?" Dokter Chandra terkekeh geli.


Aslan menggaruk-garuk kepalanya. Dia benar-benar lupa hal itu. "Berarti masih bisa, Kek. Memangnya mau menjual apa di pasar?"


"Kita lihat di luar." Dokter Chandra keluar.


"Sunil, dimana domba itu?" tanya Dokter Chandra.


Sunil mengeluarkan empat ekor domba di halaman rumah. Aslan terkejut melihat domba yang muncul tiba-tiba di depannya. Sunil juga mengeluarkan tumpukan rumput segar untuk domba-domba itu.


"Kakek mau menjual ini? Apakah kakek kehabisa uang karena membeli bahan makanan tadi?" tanya Aslan dengan rasa bersalah.


"Kita perlu uang untuk membeli segala sesuatu di sini. Jadi mari jual sedikit domba ini untuk mendapatkan uang. Lalu beli semua keperluan lain dan bawa ke sana!" jawabnya.


"Aku kira, segala sesuatunya ada di kota itu," ujar Aslan.


"Hahahaha ... Itu bukanlah dunia yang sempurna. Karena dunia asal kami telah hancur. Jadi kami berlindung di dunia kecil yang masih murni. Kau akan melihatnya. Sangat cantik dan murni," terang Dokter Chandra.


"Mari kita pergi sekarang, sebelum para pembeli menghilang." Dokter Chandra menyimpan semua domba dan rumput ke penyimpanannya.


"Ayo." Aslan melangkah keluar dan menyusuri jalan setapak. Dokter Chandra mengikuti dari belakang.


"Bukankah orang-orang di sini sudah tahu aku bisa terbang?" Dokter Chandra bicara sendiri.


"Benar. Tadi pagi saat mencuci, mereka juga menanyakan hal itu." ujar Aslan.


"Lalu kenapa kita masih jalan? Anak bodoh!"


Dokter Chandra menyambar tubuh Aslan dan membawanya terbang menuruni bukit berbatu.


Awalnya Aslan menjerit kaget. Tapi kemudian dia tertawa senang, karena bisa melihat pulau itu dari ketinggian.


"Pulau ini cantik saat dilihat dari atas," gumamnya.

__ADS_1


"Hehehehe ... kau senang terbang?" tanya Dokter Chandra.


"Ya, Kek ... menyenangkan! Aku mulai memahami kenapa burung camar selalu memekik gembira setiap terbang," ujarnya.


"Apa menurutmu mereka memekik karena senang terbang?" tebak Dokter Chandra.


"Bukan, Kek. Mereka senang, karena tak harus berenang untuk menangkap ikan!" sahut Aslan dengan mimik serius.


"Hahahaha...." Dokter Chandra tertawa terpingkal-pingkal.


"Ya Tuhan, kau sangat unik. Apa yang akan dikatakan adikku jika melihat cucu sepertimu." Dokter Chandra menukik turun di pantai yang sepi.


"Kita sudah sampai. Mari ke pasar." Dua ekor domba sekarang muncul lagi di hadapan Aslan.


Aslan celingukan melihat ke sekitar. Ternyata mereka menyeberangi laut dengan terbang. Sebentar sekali. Pulau itu jadi terasa dekat dengan terbang. Aslan merasa kagum pada kakeknya.


Keduanya berjalan berdampingan sambil menggiring dua ekor domba. Di tengah jalan, seseorang bertanya, untuk apa domba itu.


"Untuk dijual, Tuan," jawab Aslan ramah.


"Apakah bisa untuk dipelihara?" tanyanya.


"Tidak, Tuan. Domba ini untuk konsumsi. Untuk dimakan dagingnya," sahut Dokter Chandra.


"Tapi, jika anda ingin memelihara, nanti kami bawakan yang bisa dipelihara." Dokter Chandra memberikan solusi.


"Benarkah? Apakah ada yang masih anak-anak? Jantan dan betina mungkin bagus," ujar orang itu lagi.


"Ya, itu bagus. Nanti kami lihat apa yang ada. Bisakah memberi waktu satu minggu?" tanya Dokter Chandra.


"Tentu. Sementara itu, saya akan siapkan kandang untuk mereka," orang itu sangat antusias.


"Baiklah. Apakah rumah Anda di sini?" tanya Dokter Chandra memastikan. Ya, ini rumahku. Tidak besar, tapi ada cukup halaman untuk memelihara satu pasang," balasnya.


"Oke. Minggu sampai bertemu lagi minggu depan." Dokter Chandra dan Aslan melanjutkan perjalanan ke pasar.


Di pasar, dua domba gemuk dan sehat itu segera menjadi pusat perhatian. Dengan cepat, keduanya bertukar menjadi uang-uang kertas yang sangat banyak.


Setelah itu keduanya berkeliling pasar untuk membeli berbagai keperluan yang dibutuhkan di dunia kecil. Dokter Chandra bahkan membeli ayam dan bebek dan angsa secara berpasangan.


"Untuk apa itu, Kek?" tanya Aslan heran.


"Untuk dipelihara. Di sana tak ada yang seperti ini," jawab Dokter Chandra.


"Berarti Kakek tak pernah makan telur?" tanyanya tak percaya.


"Siapa bilang?" Di sana ada telur burung," tangkis Dokter Chandra tak mau kalah.


"Hahahaha ... bukankah itu kecil-kecil," ejek Aslan.


"Ya, kecil-kecil tapi sangat banyak, karena tak ada penduduk lain selain kita. Lain kali itu bisa dibawa ke sini untuk menambah sumber protein." Dokter Chandra mengangguk. Ouas dengan ide itu.

__ADS_1


Keduanya kembali ke bukit. Dan benar saja, air laut sudah naik. Tapi itu bukan masalah bagi keduanya.


******


__ADS_2