PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 37. Buta Dengan Mata Terbelalak


__ADS_3

Siang itu setelah menguburkan Lena, semua berkumpul untuk mendiskusikan langkah selanjutnya di tempat Dean dan Widuri terjebak. Mereka menyiapkan perapian dan membakar daging di situ.


"Dean, ini berikan baju pada Widuri. Dia akan sakit jika terlalu lama berpakaian minim di tempat lembab seperti itu." Margaret menjatuhkan bungkusan kain ke dalam lubang.


Tadi saat mereka tiba, Dean mengatakan Widuri tak bisa ikut diskusi karena dia sedang di gua di bawah sana menunggu pakaian yang dicucinya kering dulu. Jadi Margaret kembali ke shelter untuk mengambil beberapa pakaian dari ransel Lena.


"Baik, sebentar ku antarkan dulu ke sana." Dean mengambil bungkusan kain yang jatuh dan berjalan ke arah lorong.


Di atas..


"Jadi bagaimana pendapat kalian sekarang? Dean sudah mengatakan, bahwa saat tubuh Alex hilang dalam cahaya, tombak kayu yang dipegangnya seakan ditarik hingga Dean akhirnya melepaskan tombak itu." Robert memulai diskusi.


"Hmmm, ya.. Sepertinya tidak akan mungkin melakukan percobaan melintasi pintu cahaya itu tanpa akhirnya tersedot dan lenyap." Indra menambahkan.


"Bahkan meskipun ada yang bersedia mencoba, kita tetap tak bisa menginformasikan kembali bagaimana situasi dibalik itu, karena yang masuk hanya akan ditarik dan lenyap, tanpa bisa kembali," dokter Chandra terpekur dengan alis bertaut sambil memainkan kayu bakar.


"Iya, benar juga." Yang lain ikut menyetujui sambil mengangguk-angguk.


"Tapi, bila Dean dan Widuri memutuskan untuk mencoba peruntungan melewati pintu itu, aku akan ikut mereka." Sunil menyampaikan keinginannya.


Semua orang serentak menoleh ke arahnya.


"Kenapa?" tanya Liam.


"Sejujurnya, aku sudah lelah mengarungi hutan salju ini. Lagi pula, aku satu tim dengannya. Aku akan mencoba peruntunganku di sana." Sunil menjawab ringan.


"Aku kembali," suara Dean terdengar dari bawah.


"Widuri akan menyusul." Dean menambahkan.


"Dean, kami tidak mungkin terus menetap di sini, jadi bagaimana dengan kalian?" Robert bertanya.


"Yaa.. aku mengerti bahwa berbahaya untuk kalian tetap disitu. Dan sejauh ini aku tidak berhasil memastikan situasi dibalik pintu cahaya, jadi aku tidak bisa meminta kalian untuk turun dan melewati pintu itu. Tapi aku pribadi ingin mencobanya, terlepas bagaimana hasilnya, memang tak ada jalan lain buatku."


Dean mengutarakan hal-hal yang sudah dipikirkannya sejak kemarin malam saat memeriksa gua di bawah sana.

__ADS_1


"Dean, aku akan mengikutimu," Sunil dengan segera menyahut.


"Tapi..." belum sempat Dean menyelesaikan kalimatnya, suara Alan terdengar.


"Aku juga akan turun."


"Aku juga ikut," Dewi dan Nastiti ikut bersuara setelah saling berpandangan.


"Tapi melewati pintu cahaya itu ibarat kita masuk ke dalam kegelapan yang kita tak tau apapun tentangnya. Aku tak bisa menjanjikan apapun hloo," Dean berargumen.


"Yah,, kita memang buta tentang situasi di balik itu, bagaimana kalian bisa punya keinginan seperti itu?" Toni bertanya dengan heran.


"Pada dasarnya, di atas sini kita juga tidak tau keadaan yang sebenarnya. Di gunung mana, negara mana. Arah mana yang akan menuju pemukiman. Bahkan tidak ada yang bisa memastikan bahwa ada manusia yang tinggal di sini." Sunil menjawab pertanyaan Toni.


"Yuph.. di atas sini kita juga buta dengan mata terbelalak lebar. Melihat, tapi tetap bingung. Apakah ini masih di bumi atau planet lain.. hahaa." Dewi tertawa diikuti senyum Nastiti yang duduk di sampingnya.


"Yaahh.. aku juga merasa gunung dan hutan ini sangat aneh setelah kejadian Alex tadi malam." Widuri tiba-tiba bersuara. Entah sejak kapan dia muncul.


"Memang aneh sih.." Niken menyetujui. "Apakah di bumi betulan ada manusia yang bisa berubah jadi serigala setelah digigit?" tambahnya lagi.


"Aku ingat tentang tirai cahaya hijau kebiruan di langit yang Robert ceritakan." Indra memecah keheningan.


"Dulu pernah lihat film tentang sebuah kota yang terisolasi dari dunia luar dan dilingkari dengan pembatas dinding cahaya. Aku gak bilang keadaan ini sama, tapi seperti halnya di film itu, mestinya tetap ada jalan keluar tersembunyi juga di hutan ini." Indra menambahkan.


"Yaa.. kita hanya belum menemukannya. Aku juga pernah lihat film itu." Leon menyahuti.


"Apakah menurutmu pintu cahaya di gua itu adalah jalan keluar tersembunyi?" Silvia sangat penasaran.


"Aku tidak berani memastikan bahwa itu jalan keluarnya, tapi pasti ada jalan keluar dari hutan ini. Kita hanya belum menemukannya saja." Indra menjelaskan.


"Yaa.. dalam film itu, mereka hanya perlu menemukan batas dinding cahaya transparan itu dan mencari celah pintu di dekat situ." Leon menambahkan.


"Tapi waktu itu Robert melihat tirai cahaya itu di atas langit. Kita tak mungkin mencapai langit kan." keluh Niken.


"Apakah mungkin tirai di langit itulah yang ditabrak pesawat hingga kita terjebak di hutan aneh ini?" Michael mengajukan pertanyaan yang tak bisa dijawab. Mereka kembali berfikir keras.

__ADS_1


"Di film itu, pembatas kota itu berbentuk kubah. Jadi tirai cahaya itu berawal dari dalam tanah terus melengkung ke langit. Coba saja perkirakan berapa tinggi tirai cahaya di langit hingga bisa ditabrak dan menelan pesawat. Maka akan bisa memperkirakan luas lingkaran yang dicakupnya, lalu menemukan pembatasnya dan tinggal mencari celah yang bisa dilewati." Indra memberi ide.


Perkataan Indra membuat semua orang ternganga. Berapa luas hutan salju aneh ini kalau begitu? Mereka saling memandang. Mereka bahkan tidak tau apakah masih ada di pusat kubah atau sudah mendekati tepi pembatas.


Robert tidak langsung menampik atau menyetujui hal-hal yang disampaikan Indra. Bagaimanapun, semua kemungkinan harus dipertimbangkan sekalipun itu tidak masuk akal. Tirai hijau di atas langit dan pintu cahaya yang ditemukan Dean, serta kejadian yang menimpa Alex, memang sudah diluar nalar.


'Dari Indonesia bisa terdampar di hutan bersalju saja sudah tidak masuk akal' batinnya.


"Baiklah, semua itu bisa jadi masukan yang bagus. Terimakasih Indra, Leon. Sekarang waktunya kita memutuskan langkah selanjutnya untuk keluar dari hutan ini. Apakah mengikuti Dean melewat pintu cahaya putih itu atau melanjutkan turun gunung dan mencari jalan keluar lainnya?" Robert tak ingin diskusi berlarut-larut tanpa kejelasan.


Makin lama mereka berdiam di situ, akan semakin berbahaya karena serigala terlihat makin banyak, makin berani dan berkemungkinan menginfeksi lalu merubah mereka menjadi manusia berkepala serigala seperti halnya Alex.


"Kami tim 1 ikut bersama Dean. Eh,, tapi Gilang belum memberi suara." Dewi bertanya pada Gilang yang masih memilih jadi pendengar saja.


"Hmm,, aku tak seberani kalian. Jika dibalik pintu cahaya itu benar adalah jurang seperti perkiraan Eugene, maka kita akan langsung mati begitu melangkah melewatinya. Jadi aku lebih memilih melalui jalan yang masih bisa ku perkirakan dan ku lihat." jawab Gilang.


Yang lain mengangguk mengerti. Alasan Gilang memang masuk akal dan jadi alasan sebagian besar lainnya untuk tetap berada di atas.


"Ya sudah kalau begitu. Seperti itu saja keputusannya. Jadi kapan kalian akan melanjutkan perjalanan?" tanya Dean akhirnya.


"Lebih baik besok. Tapi sebelum itu kami akan kirimkan suplai makanan dan kayu bakar ke bawah. Jadi kalian masih bisa bertahan 1 atau 2 hari di bawah sebelum melanjutkan perjalanan," putus Robert.


"Yah, baiklah. Terima kasih Robert." Dean menyahuti.


"Alan dan Sunil, kalian harus siapkan tali untuk mengikat batang pohon sebagai tangga untuk turun, atau mungkin kaki kalian akan terluka saat jatuh." Dean memberikan instruksinya.


"Baik. Akan kami lakukan." sahut Alan.


"Oke, diskusi kita sudahi. Kita bisa bersiap-siap untuk perjalanan besok." Robert membubarkan semua orang dan mereka bangkit berdiri.


"Bye Dean, Widuri. Sampai jumpa lagi," Laras melambaikan tangannya ke arah lubang.


"Bye.. berhati-hatilah." Widuri menyahuti sambil melabaikan tangannya.


***

__ADS_1


__ADS_2