
PS: Hari ini bonus 1 chapter lagi.
Selamat berlibur semuaa..
*
*
Pagi usai sarapan.
Ditemani Dean, Alan kembali memberi rangsangan pada ujung-ujung jemari Sunil. Terjadi gerak reflex di jari telunjuk kanan Sunil. Mereka menunggu respon jari lainnya, tapi tak ada lagi. Jari-jari Sunil kembali diam.
Alan kembali kesal. Dan sebelum dia membuat ulah kembali, Dean sudah menariknya keluar kamar.
"Kita lakukan lagi nanti sore. Tadi sudah pertanda yang baik." Kata Dean menenangkannya.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Widuri.
"Jari telunjuk kanannya bergerak sebentar. Setelah itu diam lagi." Kata Dean.
"Benarkah? Apakah itu pertanda bagus?" Nastiti nimbrung.
"Semoga saja. Nanti sore kita coba lagi. Mudah-mudahan makin bagus hasilnya." Harap Dean.
"Biar ku suapi dia dengan susu kacang dulu." Marianne membawa secangkir susu kacang yang baru disaringnya dari gilingan gandum.
"Oh ya, ampas saringan kacang bisa kalian tambahkan kacang halus lalu jadikan selai kacang," saran Marianne.
"Oke. Nanti kami buat." Sahut Widuri.
"Alan, sudah waktunya kita memeriksa pantai itu. Lihat sekacau apa yang ditimbulkan badai itu tadi malam." Dean mengajak Alan segera berangkat.
"Dean, isi air kamar mandi dulu sebelum jalan!" teriak Widuri dari arah dapur.
"Siap!" sahut Dean.
Dia segera melesat ke bawah tebing.
Alan masih duduk sambil berpikir saat Dean selesai mengisi air kamar mandi.
"Apa lagi yang kau pikirkan? Ayo jalan." Ajak Dean.
Alan memang berdiri, tp tampaknya masih belum selesai dengan pemikirannya.
"Ada apa sih?" Dean akhirnya penasaran.
"Kenapa makhluk hutan yang darahnya transpant itu tidak mengintip pondok lagi?" Alan menyatakan keheranannya.
"Bukankah kau melukainya saat itu? Mungkin dia sedang memulihkan diri. Mana kita tau separah apa kau melukainya dengan sambaran laser apimu." Sahut Dean tak tertarik.
"Hemm.. mungkin kau benar." Alan mengangguk setuju.
"Ayo jalan," ajaknya.
"Kami berangkat." Teriak Dean pada para wanita. Widuri melambaikan tangannya.
Alan dan Dean terbang dengan cepat menuju pantai air asin. Mendekati tempat itu, mereka bisa lihat bahwa pantai masih sama. Tak ada jejak badai di tempat itu. Hutan kelapa itu masih menghijaukan pantai berpasir putih.
"Tampaknya badai tadi malam terjadi di tengah lautan." Alan berpendapat. Dean mengangguk.
"Ayo kita periksa garis pantai. Mungkin ada yang dibawa ombak hingga ke pantai ini." Ajak Dean pada Alan.
"Bukankah sebaiknya kita tak membuang waktu lagi di sini? Kita seharusnya melanjutkan pemeriksaan bagian sana. Kapan investigasi kita maju kalau begini." Gerutu Alan.
"Kita lihat dulu. Sekalian lewat juga kan." Dean tak mau kalah.
"Baiklah.. baiklah.. Mari kita puaskan rasa penasaranmu." Alan akhirnya setuju.
Mereka berdua terbang lebih rendah dan perlahan menyusuri bibir pantai. Memeriksa apa yang mungkin terdampar di pantai.
Dan mereka terkejut ketika melihat banyak pecahan dan kepingan kayu yang berserakan di pantai. Tanpa menunggu aba-aba, keduanya akhirnya terbang lebih rendah lagi dan memeriksa dengan teliti.
"Apakah ini seperti yang ku pikirkan?" Tanya Alan.
"Ku fikir juga, ini kemungkinan pecahan kapal." Sambung Dean.
Keduanya saling memandang, lalu cepat tersadar.
"Cari korban selamatnya." Ujar Dean.
Mereka terbang rendah dan menyusuri tepi pantai dimana terserak pecahan-pecahan papan yang mereka duga adalah pecahan kapal.
__ADS_1
"Dean, itu." Tunjuk Alan ke arah depan.
Keduanya terbang mendekat. Tampak sesosok tubuh tertelungkup di atas sebilah papan. Setengah bagian tubuhnya tersangkut di pasir pantai, sementara bagian kakinya masih dipermainkan ombak.
"Cepat." Kata Dean.
Mereka turun dan menjejak pasir basah. Mendekati tubuh yang dipenuhi pasir.
"Kelihatannya seorang wanita," gumam Alan.
"Jika bukan karena papan itu, dia pasti sudah tenggelam."
Dean berjongkok untuk memeriksa denyut nadinya. Dibalikkannya tubuh telungkup itu perlahan-lahan. Keduanya terkejut.
"Niken?" Kata mereka serempak.
"Cari yang lain. Kemungkinan mereka naik kapal dan dihantam badai tadi malam." Dean berkata dengan suara bergetar. Sangat khawatir dengan keselamatan tim Robert.
Dean berjongkok untuk meraba denyut nadi di leher Niken. Terasa samar-samar dan tak beraturan. Didekatkannya kepala ke hidung Niken untuk merasakan udara yang keluar. Dean sedikit lega, tampaknya cukup baik. Lalu mencoba memberi Niken bantuan CPR beberapa saat. Tapi Niken belum bereaksi. Dean memberi pernafasan buatan dari mulut ke mulut pada Niken.
Uhukk.. uhukkk..
Niken terbatuk-batuk. Dean memiringkan tubuhnya agar semua air yang tertelan bisa keluar. Niken masih batuk beberapa saat. Tubuhnya lemah. Dean mengangkatnya dan membaringkannya sedikit jauh dari bibir pantai. Dibawah keteduhan pohon kelapa.
"Niken, kau bisa mengenali suaraku?" Tanya Dean ketika melihat Niken tergolek sambil memejamkan mata. Ada air bening turun di sudut matanya.
"Kau baik-baik saja sekarang. Nanti kau akan bertemu dengan teman kita yang lain." Bujuk Dean.
"Aku carikan kelapa muda dulu. Kau pasti dehidrasi." Dean berkata sendiri.
Niken belum memberikan reaksi. Wajahnya masih terlihat tegang. Seperti orang ketakutan.
Dean datang dengan buah kelapa muda yang sudah dipotong di tangannya.
"Ayo bangun dulu." Dean membantu Niken duduk bersandar di batang pohon kelapa.
"Niken, aku Dean. Apa kau bisa mendengar suaraku?" Tanya Dean lagi.
"Niken!" Dean mengguncang sedikit bahu Niken untuk membangunkannya dari mimpi buruk.
Niken tersadar. Dia membuka mata dengan linglung.
"Indra.. Indra!" Ucapnya dengan bibir bergetar. Lalu tangisnya pecah..
"Niken, sabar. Kita akan mencari semuanya. Kau ingat aku? Aku Dean." Ujar Dean lembut.
Niken memandang Dean dengan heran. Meraba wajahnya untuk meyakinkan pendengarannya.
"Dean? Kau benar Dean?" Tanyanya tak percaya. Dean tersenyum dan mengangguk.
"Tidak. Dean dan Widuri sudah lama terpisah. Dunia ini tak bisa dipercaya. Ini hanya halusinasi. Ayo sadar Niken.. sadar!" Niken mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri.
Dean menahan air matanya melihat itu. Sebenarnya seberapa berat perjalanan yang mereka lalui selama ini?
'Apa dia juga diculik seperti Michael dan Marianne?' pikir Dean.
"Aku harus mencari Indra." Niken mencoba bangun, tapi tubuhnya yang lemah tak mau bekerjasama dengan keinginannya. Dia limbung dan kembali jatuh.
Dean menangkapnya dan membantunya duduk bersandar dengan nyaman.
"Tubuhmu masih lemah. Kau minum air kelapa ini dulu. Tunggu di sini. Aku dan Alan akan memeriksa yang lainnya." Dean meletakkan buah kelapa ke tangan Niken.
"Alan? Kau benar-benar Dean?" Niken memperhatikan Dean lebih seksama.
"Dean! Kemari!" teriakan Alan terdengar.
"Ya." Balas Dean.
"Itu Alan memanggilku. Mungkin dia menemukan teman kita yang lain. Tunggu di sini." Dean melesat terbang dengan cepat ke arah suara Alan.
"Di.. dia ter.. bang. Tak mungkin itu Dean." Ayo Niken, bangun. Pergi dari sini secepat mungkin. Mereka pasti penduduk di sekitar sini." Niken yang belum sempat meminum air kelapanya, melempar jauh buah kelapa itu. Dia bangkit dengan tubuh gemetar. Ketakutan membuatnya menyeret langkah meninggalkan batang pohon itu.
*
*
"Apa kau menemukan yang lainnya?" Tanya Dean pada Alan.
Alan menunjuk ke tumpukan rumput laut di pantai. Dean mendekat. Memotong juluran rumput laut yang saling membelit lalu membuangnya.
Keduanya shock saat melihat sosok yang diselubungi oleh rumput laut itu. Itu dokter Chandra. Wajahnya pucat. Dean segera memeriksa denyut nadi di leher dan mencoba mendeteksi aliran udara dari hidung n mulut dokter Chandra. Dean memberi pertolongan pertama dengan CPR. Sedikit air mengalir keluar dari sudut bibir dokter Chandra. Tapi dia masih belum sadar. Alan memberi nafas buatan. Belum ada reaksi. Dean kembali melajukan CPR. Alan pun kembali memberi nafas buatan.
__ADS_1
Uhukk.. uhuk...
Dokter Chandra tersedak. Alan dan Dean segera memiringkan tubuh dokter Chandra untuk mengeluarkan semua air yang tertelan.
"Sebaiknya kita bawa ke tempat Niken agar mudah dirawat bersama." Usul Dean. Alan mengangguk setuju.
"Alan tolong kau carikan beberapa kelapa muda dan bawa ke sana." Perintah Dean. Alan langsung bergerak memetik banyak buah kelapa.
Sementara Dean membawa tubuh dokter Chandra melayang bersamanya. Mereka menuju bawah pohon tempat tadi Niken ditinggalkan.
Dean heran, karena tak menemukan Niken di situ. Dia memandang berkeliling, tapi tetap tak menemukannya. Dibaringkannya tubuh dokter Chandra hati-hati di pasir.
"Dokter, ini aku Dean. Apa anda sudah sadar?" Tanya Dean untuk melihat respon dokter Chandra.
"Dean?" dokter Chandra menggumam pelan.
"Ini buah kelapanya. Dimana Niken?" Tanya Alan saat tiba.
"Tidak tau. Mungkin dia masih setengah sadar dan pergi mencari Indra. Dia terus menyebut namanya." Kata Dean.
Alan mengerutkan kening mendengarnya. Dia melihat ke sekitar. Terlihat jelas jejak bekas kaki diseret ke arah dalam hutan kelapa.
"Tidak. Dia tak mungkin mencari Indra ke dalam hutan bukan?" Alan menunjuk jejak di pasir pada Dean.
"Cepat kau cari dia. Jangan sampai makhluk itu menemukannya lebih dulu." Seru Dean cemas.
"Ahhh, menyusahkan saja!"
Meski menggerutu, tapi Alan tetap mengikuti jejak kaki di pasir itu.
"Alan, hati-hati!" teriak Dean mengingatkan.
"Eh, tunggu! Jika kau menemukannya, langsung bawa ke pondok. Panggil Yoshi untuk membawa tabib kembali ke pondok." Ujar Dean.
"Oke!" Sahut Alan dari kejauhan.
"Dokter, ini buah kelapa. Anda cobs minum ini dulu. Anda pasti haus kan."
Dean meletakkan buah kelapa di tangan dokter Chandra. Dibantunya untuk mengangkat buah kelapa agar dokter Chandra mudah untuk meminumnya.
"Sudah. Terima kasih." Ujar dokter Chandra.
"Syukur kau benar-benar Dean. Akhirnya kita bertemu lagi." Dokter Chandra bersandar lemah. Tapi matanya menatap lurus ke arah Dean. Pandangan yang terlihat rumit.
"Kau harus mencari yang lain. Kami naik 2 perahu. Di kelompokku ada Indra, Niken dan Leon. Di kelompok Robert, ada Laras, Silvia dan Liam. Uhuk.. uhukk.." Dokter Chandra terbatuk-batuk
"Apa kalian menghadapi badai tadi malam?" Tanya Dean.
"Ya, bagaimana kau tau?" dokter Chandra menyipitkan mata melihat Dean.
"Kami tinggal di sisi lain pulau ini. Tadi malam kami melihat cahaya kilat menyambar dan suara guntur bersahutan dari arah sini. Kami sudah bersiap menghadapi badai jika anginnya topannya mengarah ke sana. Tapi sebelum tengah malam, badai reda. bahkan hujan gerimispun tak sampai ke sana."
"Jadi pagi ini kami memeriksa ke sini, ingin melihat keadaan pantai yang disapu badai. Ternyata badainya di tengah laut." Dean menjelaskan bagaimana mereka sampai di pantai itu.
"Aku mengerti. Tapi coba cari Yang lainnya. Lebih cepat menemukannya, lebih baik." Kata dokter Chandra.
"Apa anda akan baik-baik saja saya tinggal sendirian? Tanya Dean.
"Ya. aku tak kan kemana-mana." Dokter Chandra meyakinkan Dean.
"Tapi hutan ini.." Dean ragu mengatakannya.
"Aku khawatir anda ikut menghilang seperti Niken. Hutan ini hutan terlarang yang apapun bisa terjadi di sini." Jelas Dean.
Dokter Chandra tak dapat berargumen lagi.
"Sebaiknya anda ku bawa kembali ke pondok. Biar tabib dan para wanita yang merawat anda." Putus Dean.
Dean memasukkan semua buah kelapa yang dipetik Alan ke dalam ruang penyimpanannya. Dokter Chandra terkejut melihat segunung buah kelapa langsung lenyap saat Dean mengibaskan tangan.
'Apa dia sungguh Dean?' batin Dokter Chandra mulai ragu.
"Kita berangkat. Setelah sampai pondok, saya akan kembali untuk mencari yang lainnya." Ujar Dean.
"Tapi.."
Ucapan dokter Chandra lenyap bersama angin saat dia merasa perutnya seperti tertarik dan tubuhnya seakan sedang dihantam angin kencang. Dia ingin menjerit, tapi lidahnya kelu. Perutnya bergejolak.
Dean melesat dengan kecepatan tinggi sambil membawa dokter Chandra. Dalam 5 menit dia tiba di atas pondok.
Dokter Chandra merasa gempuran angin berhenti tiba-tiba. Dia panik saat menyadari sedang melayang di ketinggian. Rasa panik dan takut membuat perutnya makin bergejolak dan tak tertahankan lagi.
__ADS_1
Dokter Chandra memuntahkan semua isi perutnya saat masih di ketinggian 30 meter dari permukaan tanah. Saat itulah Dean baru sadar bahwa dia telah membawa dokter Chandra terbang terlalu cepat.
*****