CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
SETELAH SATU TAHUN


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.



"Alhamdulillah, aku kepikiran tentang mereka," Lastri mengucap syukur ketika suaminya bilang dapat khabar dari pakdenya Sukma kalau keponakanya ada di Badung.



Semua keluarga Sukma tahu Ayya adalah anak Sukma ketika Ayya umur dua tahun dia bawa pulang ke Banyuwangi. Walau di depan khalayak Sukma bilang Ayya anak majikannya, tapi pada keluarganya Sukma jujur mengakui kesalahannya.



Selama bekerja Sukma mengirim uang pada kedua orang tuanya. Sejak mereka tahu keberadaan Ayya, mereka minta Sukma menabung gajinya buat simpanan. Orang tua Sukma bilang untuk persediaan kebutuhan Ayya. Mereka sadar Ayya bukan anak resmi Wayan sehingga Sukma harus punya tabungan yang banyak. 



"Dimana mereka?" Tanya Wayan yang sudah sangat kurus tak terawat. Tujuh tahun dia dirawat Sukma dengan baik. Sangat berbeda dengan sekarang atau sebelum bertemu Sukma.



Saino dan Lastri kaget tuan mereka ada didepannya.


\*\*\*



"Ibu, ada bude Ati dan pakde Ano," kata Komang Ayu pada ibunya yang sedang menguleni adonan kue untuk dia titip di warung-warung.



Sukma kaget bagaimana bu Lastri dan pak Saino tahu keberadaannya. Dan dia kaget melihat pria kuyu yang datang bersama mereka. 



Wayan berlari memeluk Sukma dan menangis. Satu tahun dia mencari kedua perempuan kekasih hatinya itu. 



Selanjutnya Wayan kadang sembunyi-sembunyi datang. Dia tak bisa setiap bulan memberi uang karena semua keuangan sudah dikontrol oleh Dewi. 



Setelah mengetahui  keberadaan Sukma. Lastri dan Saino pun keluar dari rumahnya Dewi. Mulanya Lastri mengontrak rumah tak jauh dari rumah Sukma. Saat depan rumah Sukma dijual murah maka Saino membelinya.



Saino masih tetap bekerja pada Wayan tapi di toko bukan di rumah.



Kalau Saino pulang ke Badung, Wayan suka menitipkan uang sedikit.



Titipan itu kadang jumlahnya ditambahkan oleh Saino dan Lastri tanpa sepengetahuan Sukma.



Sukma tahu sekarang Wayan harus berkorban untuk keluarga besarnya, sehingga tak bisa memilih hidup bersama dia dan Ayya. 



Kadang orang tuanya Wayan juga memberi uang walau tidak sering karena mereka juga bukan orang berkecukupan. Pernah juga beberapa kali mereka datang menengok Ayya.



Untungnya sejak Ayya dua tahun Sukma rajin menabung semua uang gajinya sehingga walau kecil di Badung dia tidak mengontrak rumah.



"Tak usah berharap pada papa harta papamu, kita bahagia aja berdua itu sudah cukup. Selalu doakan papa dan nenek sehat," itu yang Sukma katakan pada saat Komang tahu kalau Wayan orang cukup kaya di Gianyar.



"Bahkan papa enggak bisa bantu kakek nenek, semua keluarga harus bekerja di tokonya, tak ada yang dapat uang walau itu nenek."


__ADS_1


Ayahnya Wayan sudah meninggal dua tahun lalu.



Saat daftar sekolah SD, Sukma mengenakan data akte yang dibuat Wayan. Tapi dalam kolom agama dia tulis sesuai agama dirinya. 



Kalau identitas Sukma tak bisa ganti karena harus diurus ke dukcapil dan itu tak akan bisa dilakukan oleh Sukma karena dia nggak punya surat nikah.



Jadi nama putrinya tetap Komang Ayu. Saat Ayya SMA, Sukma menceritakan semua rahasia cintanya bersama Wayan hingga kini. Keduanya tak pernah mencintai orang lain.



Awalnya Wayan mempersilakan Sukma yang masih muda mencari pria lain agar ada yang mengayomi dan memberi nafkah. Tapi Sukma muda menolak hingga akhir hayat.


\*\*\*



Kembali kemasa kini, Komang akhirnya mengirim sedikit uang ke rekening milik ibunya dan mengabarkan pada pakde Saino. 



"Itu yang bisa aku kirim pakde," ujar Komang pada Saino.



"Ya sayang, nanti pakde gunakan buat bawa ibumu ke puskesmas," jawab Saino. Dia juga sudah banyak membantu. Dan sekarang tak ada lagi tabungan mereka.



Saino sudah mencoba menghubungi Wayan tapi belum bisa. Wayan ganti nomor ponsel karena ponselnya hilang di toko.



Saino menghubungi nomor toko tapi penerima toko mungkin lupa pesan darinya sehingga Wayan belum juga menghubunginya.




"Lalu nanti aku makan bagaimana?" Jawab Komang.



"Ya ampun kamu tuh kayak sama siapa aja. Kan ada aku. Kita makan berdua lah," Sri memang sangat pengertian pada Komang.



"Enggak lah jangan menyusahkan kamu terus," Komang tak enak.



"Terus? Memang kapan kamu menyusahkan aku? Kita ini sama-sama perantau jadi harus saling membantu," kata Sri.



"Sorry ya terima kasih. Tapi sekarang biarin aja aku akan banyak lembur biar dapat tambahan buat kirim ibuku," kata Komang.



Mereka pun kembali giat bekerja. 



Sejak saat itu Komang memang benar-benar full time agar bisa dapat uang lebih banyak.


\*\*\*



Satu bulan sudah Mukti dan Vio berhubungan jarak jauh Denpasar ~ Jakarta. Setiap malam mereka berbincang lewat telepon.


__ADS_1


Pernah satu kali Mukti kabur ke Jakarta. Saat itu Vio diangkat jadi manager keuangan di kantor Abu dan Mukti menemani Abu dengan alasan bertemu rekanan. 



Dua malam mereka merajut kasih tanpa jeda. Kali ini tentu Mukti main aman, dia tak mau Vio hamil saat masih berstatus menjadi tunangan Sonny.



"Bagaimana kalau kita nikah siri aja?" Ajak Vio malam itu.



"Kenapa?"



"Biar kamu yakin, aku hanya milik kamu. Nanti kita tinggal itsbat, tak perlu nikah ulang," ujar Vio dalam dekapan Mukti.



Mereka masih naked, dan entah sudah berapa kemasan pelindung yang Mukti robek untuk dia gunakan.



"Aku janji kita akan urus ITSBAT  setelah menyelesaikan misiku," Vio berkata sambil tangannya mengusap perut sixpack Mukti dan dengan nakal jemarinya memegang dan mengusap jagoan kecilnya Mukti.



Isbat nikah adalah pengesahan nikah seorang laki-laki dan perempuan muslim yang pernikahannya telah dilaksanakan dan memenuhi syarat rukun perkawinan namun tidak dicatatkan di Kantor Urusan Agama ( KUA ) tempat tinggalnya.



"Aku enggak akan pernah berhubungan dengan pak Sonny karena aku tak pernah  mencintai dia."


\*\*\*



Akhirnya Mukti dan Vio berhasil menikah siri tiga minggu kemudian di Bogor.



Mereka menikah dua bulan setelah pertunangan Sonny dan Vio. 



Sejak menikah Vio menggunakan kontrasepsi suntik agar tak kebobolan lagi.



Sejak itu rumah tangga Mukti dan Vio berjalan sembunyi-sembunyi. Kadang Mukti yang ke Jakarta tapi pernah Vio yang ke Surabaya. Tak pernah mereka bertemu di Bali.


\*\*\*



"Mukti, aku mau pinjam mobilmu. Mobil rental full, aku sudah pakai mobil Aksa dan mama," Sonny menghubungi Mukti.



"Pakai aja Mas, aku lagi di Kudus ke rumah temanku." Jawab Mukti, padahal dia ada di Jakarta bersama Vio.



"Wah kebenaran, kalau kamu enggak ada di Bali, bisa aku pakai satu minggu kalau memang konsumen mau pakai lama."



"Iya Mas, aku akan suruh pegawaiku antar ke villa," ujar Mukti.



"Mau apa?" Bisik Vio.



"Mas Sonny pinjam mobilku di Bali karena rentalnya sedang overload penyewa.

__ADS_1


__ADS_2