
Mukti benar-benar speechless dia tak percaya Silvana berani mendatanginya dan ingin langsung naik ke podium tapi yang lebih membuat dia tak percaya adalah sosok di belakang Silvana yang terus maju ke podium dan saat ini sudah mulai menapaki satu persatu tangga podium. Rasanya Mukti tak ingin berkedip. Karena tak ingin gerak kelopak matanya saat berkedip akan menyapu bayangan tersebut. Mukti takut akibat kedipannya bayangan itu hilang. Jadi benar-benar Mukti tak berani berkedip sama sekali.
“Honey!” ucap Mukti terbata.
“Mas,” jawab sosok tersebut dengan lembut.
Mukti langsung memeluk sosok itu. Perempuan yang sangat dia rindukan. Perempuan yang sudah 3 minggu menjauh darinya!
“Maafin Mas, maafin Mas,” begitu Mukti mengucap berulang kali di telinga perempuan dalam pelukannya. Mereka tak sadar menjadi tontonan karena posisi mereka sudah di atas panggung untuk penutupan.
__ADS_1
“Mas pikir menghapus luka itu sama seperti penghapus tulisan di papan tulis? Hanya dengan kata MAAF lalu semuanya bisa jadi bersih? Bisa selesai tanpa jejak?”
Mukti mendengar kata-kata pedas itu. Dia tak membantah. Memang tak semua bisa hilang dengan hanya kata maaf saja. Bahkan dia rela meminta maaf dengan sungkem pada Ayya agar gadis pujaan hatinya mau memaafkannya.
“Sekarang kita bermain drama saja. Bersikaplah seolah-olah tak ada apa-apa diantara kita. Kita perlihatkan pada semua orang yang pernah menjebak bahwa kita tak tergoyahkan. Hanya untuk di depan orang terlebih barusan jelas ada Silvana di sini,” bisik Ayya. Mukti pun mengangguk. Dia menjadi lebih bersemangat karena sekarang ada Ayya di sisinya. Walau seperti yang tadi Ayya bilang sebaiknya mereka bersandiwara dulu sampai acara selesai. Nanti sesudah itu baru mereka menyelesaikan masalah yang mengganjal di antara mereka.
Ambar maupun Abu plong melihat pasangan tersebut sudah bersatu kembali. Mereka tak tahu apa yang kedua anak dan calon menantunya itu katakan. Yang penting mereka melihat keduanya sudah bersama dan Ambar baru tahu mengapa Ayya minta Ambar memberikan baju kemeja tangan pendek berwarna ungu kepada Mukti. Ternyata Ayya mengenakan sarimbitnya atau pasangan kemeja tersebut.
__ADS_1
Ayya menebar senyum pada semua temannya Mukti, penjaga tentu saja tidak menahan Ayya karena mereka sudah kenal. Beberapa kali sosok Ayya sudah mereka temui di rumah bigbosnya. Jadi waktu Ayya akan naik ke podium tak ditahan oleh penjaga. Selain itu pakaian Ayya kembar dengan Mukti pasti mereka pasangan. Jadi tak mungkin dijaga seperti Silvana.
“Aku duduk sama mama dan papa ya. Mas lanjutin sendiri nanti kalau sudah acara penutupan dan ada gubernur nggak apa-apa kalau aku mau dipanggil seperti saat waktu dengan menteri,” bisik Ayya.
“Iya Honey, kamu sama mama papa saja,” jawab Mukti. Dia cium pipi perempuan itu tak peduli saat itu mereka masih tetap di podium. Ayya pun tersenyum dia mengusap wajah Mukti yang terlihat tirus karena habis sakit juga karena perpisahan mereka.
“Pantes ya Mama disuruh kasih kemeja ke Mukti. Ternyata kamu pakai kembarannya,” Kata Ambar saat Ayya salim pada dirinya dan Abu.
“Jadi Mama nggak rela nih ngasihin kemeja ke Mas Mukti?” goda Ayya.
__ADS_1
“Lihat tuh anak Papa kelakuannya. Malah mamanya yang dikatain seperti itu Pa,” jawab Ambar dengan bahagia. Dia sungguh-sungguh bahagia Ayya mau datang. Abu juga tersenyum bahagia. Saat itulah MC mulai membuka acara karena sudah diberi kabar bahwa gubernur akan memasuki ruangan.