
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
Sesuai rencana, sehabis kegiatan terbang layang mereka berniat melihat sunset. Rombongan segera menuju pantai yang menampakan keindahan di waktu senja.
"Hei, kita belum foto berdua disini," Mukti tak membuang kesempatan. Dia ingin moment dengan latar belakang keindahan sunset juga dia miliki.
"Ayok," sahut Adelia. Dia tersenyum manis menatap kamera.
"Ayok Ma, Pa. Kita makan dulu sebelum lihat sendratari," ajak Mukti. Dia akan membawa rombongan ke lokasi yang berbeda dengan yang pernah Adelia kunjungi.
"Ayok. Mas kamu bawa mobil besar. Tadi driver pulang karena anaknya demam." Abu memberi kunci pada Sonny.
"Ya sudah, aku bersama Mukti biar dia enggak sendirian," Angga berucap cepat.
Mukti dan Angga tiba lebih dulu di lokasi makan yang Mukti pilih.
Mukti langsung memesan makanan untuk rombongannya.
Rumah makan pantai ini sangat nyeni, kursi kayu panjang digunakan untuk berpasangan dengan meja kayu panjang bukan berbentuk kotak tapi berbentuk belahan batang pohon. Jadi bentuknya sangat artistik. Tidak di cat hanya dipernis saja sehingga warnanya kayu natural terlihat sangat indah.
"Silakan pesan tambahan bila ada yang ingin ditambahkan. Tadi aku sudah pesan ini," Mukti memperlihatkan menu yang sudah dia pesan pada rombongan yang baru saja datang.
"Adelia pesankan udang bakar yang enggak terlalu kering dan aku minta cumi cah aja," Sonny minta pesanan tambahan untuknya dan Adelia.
'*Mamas seakan sudah tak peduli pada Vio*,' pikir Mukti.
"Papa mau tambah apa Pa?" Tanya Vonny pada suaminya.
"Kayaknya belum lihat kekurangannya Ma. Sementara itu aja dulu," sahut Sjahrir.
"Del mau tambah apa?" Mukti memperjelas ada Adelia.
"Makanan tadi udah ditambahin ama mas Sonny. Paling yang belum lemon tea dua gelas pakai es dan satu gelas enggak pakai es," sahut Adelia membuat yang lain bingung.
“Aku mau itu Kak," pinta Aksa pada Adelia yang duduk berhadapan dengan Sonny.
Aksa duduk diapit Sonny dan Mukti. Meja kayu panjang ini lebarnya hanya 90 cm saja sehingga Adelia mudah mengambilkan apa yang diminta Aksa.
"Ma mau cobain udang bakarnya? Manis lho Ma," Adelia menawarkan udang bakar pada Vonny.
"Wah iya, Mama mau tambah itu ah," sahut Vonny.
__ADS_1
"Cumi cah nya enak enggak Mas?" Tanya Adelia.
"Kalau menurutku enak. Cobain deh," tanpa ragu Sonny menyuap sedikit cumi di sendok untuk di coba oleh Adelia.
"Iya Mas, enak," jawab Adelia.
"Kamu mau tambah itu Del?" Tanya Mukti yang jelas melihat acara suap dari Sonny ke Adelia.
"Enggak usah. Aku ambil sedikit punya mas Sonny aja. Aku mau makan cumi goreng tepungnya Aksa juga. Nanti malah enggak habis," tolak Adelia.
"Eyang enggak ada pantang?" Tanya Adelia pada Airlangga yang duduk disebelah Soñny.
"Enggak. Prinsip Eyang sugestikan diri kita sehat. Bukan mengecilkan ilmu kedokteran. Tapi semua itu kan memang berpangkal dari pikiran."
"Jadi selama yang kita konsumsi enggak berlebihan, semua akan baik-baik saja," jawab Airlangga ringan.
"Bener banget itu," Vonny setuju dengan pendapat Airlangga.
Sonny mengambil daging ikan bawal bakar lalu dia celup ke bumbu dan dia sodorkan ke mulut Adelia.
Tak ada penolakan dari gadis itu.
"Iya boleh," balas Aksa yang tetap sibuk mengunyah.
Adelia menuang lemon tea tanpa es ke gelas Sonny dan Aksa. Sisanya baru dia tuang ke gelas miliknya.
'*Sedekat itu mereka. Sehingga tahu tentang kebiasaan satu sama lain. Persis denganku ketika itu*,' Mukti merasakan kedekatan Sonny dan Adelia seperti ketika dia pacaran dengan Vio saat SMA.
Mukti menyadari Adelia tak tertarik pesonanya. Tampan, cukup mapan tak cukup untuk membuat Adelia merespon signal suka yang dia kirim. Padahal dalam dirinya juga hanya ada Vio seorang.
Istrinya sudah sepuluh hari tak bisa dia hubungi. Tapi dihadapan semuanya Mukti berupaya terlihat tak ada persoalan. Mukti berupaya terlihat natural.
Selama ini tak ada yang tahu kalau Mukti pernah sangat terluka ketika kelas dua SMA menjelang kenaikan kelas. Itu sebabnya sehabis lulus SMA Mukti hengkang ke Paris.
"Maaf. Aku angkat telepon dulu," Mukti berdiri dan berjalan menjauh dari keluarganya.
"Kenapa De? Ada masalah dengan rumah kakakku?" Tanya Mukti. Rupanya Made yang menghubunginya.
"Kirim nomor teleponnya. Aku akan coba hubungi. Nanti biar aku yang berhadapan dengannya. Dan kamu bicara padanya melalui telepon," sahut Mukti tanpa ragu.
__ADS_1
"Ada masalah?" Tanya Sonny pada adiknya. Dia tahu yang menghubungi Mukti adalah sahabat adiknya yang menempati rumah miliknya di desa Pajangan, Bantul, Yogyakarta.
"Bukan soal rumah, tapi soal anaknya. Dia enggak berani terlihat di Jakarta. Karena ada teman bilang, istrinya nyari dia ke Jakarta sehabis dia datang ke pameran patung bersamaku di Jakarta ketika itu," sahut Mukti.
"Jadi kalau aku dapat jadwal konsultasi seorang pengacara hebat di Jakarta, aku yang akan berangkat mewakili dia."
"Long weekend begini enggak bisa bikin appointment dengan pengacara itu kan?" Tanya Sonny. Dia menerima bon dan menyuruh pegawai rumah makan mengambil kembaliannya.
"Pasti enggaklah. Dan si pengacara ini hanya menerima tiga orang baru di hari Sabtu pagi saja. Hari Senin hingga Jumat khusus dia menangani kasus yang sudah dia terima," jawab Mukti.
Buat tahu pengacara yang Mukti maksud baca cerita UNCOMPLETED STORY novel karya yanktie di noveltoon juga ya.
Rombongan bersiap ke arena sendratari. Sonny memberikan jaket miliknya untuk Adelia gunakan.
"Aku sudah bawa pashmina koq," tolak Adelia.
"Anginnya kencang, jangan ngeyel," Sonny tak mau dibantah. Para nyonya membawa sweater rajut selain juga menggunakan pashmina
Rupanya tante Ambar sudah membawakan jaket untuk Aksa. Padahal niatnya Adelia akan menyuruh Aksa menggunakan jaket milik Sonny.
Mukti banyak bertemu para sahabatnya sesama seniman. Di tempat berkumpulnya para seniman begini tentu dia banyak bertemu rekannya.
Walau ini arena sendratari, tapi banyak pelukis dan pemahat yang juga ikut duduk disana. Mereka bertukar info dan berbagi cerita. Bahkan di arena seperti ini bisa berbagi proyek.
Selesai makan Adelia dan keluarga langsung menuju villa. Besok semua harus bersiap pagi untuk sarapan lalu berangkat untuk main jet ski.
\*\*\*
"Ayok sama aku Del," Mukti menawarkan Adelia lebih dulu daripada Sonny yang sedang membantu Aksa menggunakan jaket pelampung.
Tanpa banyak drama Adelia pun segera naik ke kapal jetski dan meminta Vonny membuatkan video untuknya dengan kamera yang sudah dia atur.
"Jangan ngebut ya. Dan jangan banyak jumping. Yang biasa-biasa dulu," pinta Adelia. Sejak tadi dia melihat banyak yang atraksi jumping.
"Udah jangan kebanyakan request." Mukti menggandeng Adelia.
Ada kapal yang untuk dua atau tiga orang dengan posisi kebelakang. Ada yang bersisian. Mukti memilih yang ke samping sehingga Adelia tak perlu memeluknya dan Adelia bisa melihat langsung ke depan. Samudra luas yang mereka arungi.
Dan ada kapal type santai untuk empat orang seperti yang dinaiki para orang tua.
Sonny mengambil type ke belakang. Aksa di belakangnya sangat senang karena mereka ngebut.
Puas dengan berolahraga jetski. Dua keluarga bahagia itu bersiap makan siang bersama.
__ADS_1