
"Kamu tetap akan kembali ke desa?" Sri tak percaya Komang yang sudah mapan tetap ingin jadi sukses di desa bukan menjadi bintang film tenar atau jadi pacar Carlo.
"Pasti, aku akan kembali ke desa. Aku akan tunjukkan pada semua orang bahwa aku bukan hanya mempermalukan mereka."
"Kalau ada pekerjaan lain, boleh aku minta tolong padamu?" tanya Sri.
"Kenapa?"
"Aku juga mau kalau seperti itu. Aku enggak perlu mikirin sewa kamar dan urusan perut."
"Aku akan katakan pada Pak Mukti kalau memang kondisinya memungkinkan untuk bicara."
"Serius ya."
"Seriuslah aku mana pernah bohong? Kamu teman terbaik. Kamu yang banyak menolong aku, masa aku enggak menolong kamu. Kalau kamu memang ingin itu mungkin, mungkin ya aku juga enggak tahu, tapi aku pikir kamu bisa ikut Ibu Adel."
"Maksudmu?"
"Ibu Adel kan juga butuh orang di rumahnya di Jogja. Atau mungkin di rumah sakitnya. Dia baru aja di kasih hadiah sebuah rumah sakit sebagai kado pernikahannya. Makanya nanti aku katakan pada Bu Adel kalau kamu mau. Tapi lokasinya di Jogja."
"Enggak apa-apa berarti kan dekat ke kampungku." jawab Sri antusias.
"Ya sudah nanti aku katakan pada pak Mukti atau nanti kalau pas Bu Adel bicara padaku karena kadang bu Adel suka bicara juga sama aku," Komang bicara jujur.
__ADS_1
"Tapi enggak dalam waktu dekat ya, aku takutnya mereka masih sibuk karena habis ini Pak Mukti akan menggelar pameran di Solo."
"Padahal seharusnya pameran Solo itu lebih dulu dari pernikahannya pak Sonny, tapi ternyata pak Sonny minta pernikahannya dipercepat sehingga pameran di Solo dilakukan belakangan dari pernikahan Pak Sonny."
"Oh gitu ya."
"Kalau orang tua Pak Mukti dan Pak Sonny itu ada di Solo dan pasti akan sibuk nanti aku kabari bila sudah bicara bila pak Mukti butuh tenaga pembantu baik di Solo mau pun tinggal di Jogja atau nanti di Bali."
"Kalau di Bali aku enggak lah." Kata Sri.
"Kenapa?"
"Nanti aku repot bila ada apa apa dengan orang tuaku di kampung. Kalau masih di Jogja atau Solo kan lebih mudah dicapai dengan kendaraan umum."
Mukti dan Aksa sedang memperhatikan foto-foto akad nikah tadi pagi antara Sonny dan Adelia. Mukti terpaku melihat tangan Sonny yang sedang berjabat tangan dengan Ariel juga berjabat tangan dengan penghulu. Mukti ingat dia pernah melalui proses itu saat dia menikah siri dengan Vio.
Mukti pernah berjabat tangan dengan seorang penghulu yang menikahkan dirinya.
“Saya terima nikah dan kawinnya Violine Ayaka binti fulan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu buah cincin emas 5 gram dibayar tunai!”
Mukti melamun mengingat sosok Vio yang baru dia temui setelah tujuh tahun berpisah. Bertemu saat Vio akan bertunangan dengan Sonny.
Sosok perempuan yang sangat dia cintai tapi menikam teramat dalam. Ternyata Vio tak pernah mencintai dirinya apalagi Sonny. Antara cinta dan benci memang tanpa spasi.
__ADS_1
Orang bilang cinta dan benci hanya terpisah sehelai benang yang teramat tipis.
Mukti bilang TANPA SPASI.
“Mas … Mas,” panggil Aksa.
“Eh kenapa Dek?” Mukti tersadar mendengar panggilan berulang dari Aksa.
“Kok ngelamun? Apa karena Mbak Ayu sudah masuk kamar?”
“Enggak ada hubungannya sama Ayu kok. Kamu tanya apa?” kata Mukti yang terputus lamunannya.
“Mama bilang besok pagi jangan kelupaan. Semua dibawa. Nanti kayak tadi, Mas enggak keluarin baju koko.”
“Iya nanti aku juga akan kasih ingat Ayu saja. Kemarin aku memang sombong enggak mau dia yang siapin,” jelas Mukti. Tadi saat akan solat Jumay dia jadi grabak grubuk sendiri. Akhirnya pinjam punya om Ariel.
“Kalau buat besok semua sudah siap kok. Ayya, maksudku Ayu sudah pisahin baju-baju kita yang buat di gedung.”
‘Ayya?’
“Ya wis kalau gitu aku tidur dulu ya Mas,” kata Aksa sambil senyum simpul.
‘Rupanya ada panggilan khusus buat mbak Ayu.’
__ADS_1