
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Kirim ke email saya sekarang juga ya.” pinta Mukti pada lawan bicaranya.
Ayya keluar membawa laptopnya, dia nyalakan di ruang tengah lalu dia tinggal, dia ambil dulu air putih dan atu mangkok salad.
“Kamu baru makan mie segitu banyak sekarang ambil salad lagi?” tanya Mukti melihat Ayya membawa air putih dan salad.
“Enggak, ini buat eyang Angga, tadi sebelum aku selesai cuci piring eyang minta salad.” bantah Ayya.
“Saya masih cukup kenyang, tapi kalau salad walaupun kenyang tetap saya makan. Tapi nanti dulu, kita kerja dulu baru saya mikirin salad,” ujar Ayya.
“Mana laptop Bapak, biar saya nyalain share it atau bluetooth-nya biar langsung saya kirim karena memang dari kemarin sudah selesai semua yang harus saya kerjakan.” kata Ayya
“Sekarang kerjaan kamu banyak. Barusan saya dapat email yang memang harus kamu olah,” kata Mukti.
Mukti tak mau Ayya ngobrol dengan Aksa jadi dia sengaja minta pada Sita untuk mengirim data via emailnya agar ada kerjaan buat Ayya.
Big Boss mah bebas berbuat curang seperti itu.
“Tapi datanya belum ada di saya Pak,” ucap Ayya.
“Kamu memang harusnya di kasih denda ya. Bapak terus panggilanmu, kalau kemarin dendanya cium, sudah dapat berapa cium aku dari kamu,” cetus Mukti.
“Eh maaf Mas, maaf. Saya enggak sengaja. Saya lupa soal itu,” kata Ayya gugup.
“Aku perhatikan kamu kalau bicara sama Papa, Mama, Aksa, dan eyang ngomongnya aku loh bukan saya, kenapa kalau ngomong ke aku pakai saya?” protes Mukti
__ADS_1
“Masalahnya saya kan pegawainya Mas. Jadi ya harus saya, enggak boleh aku,” Ayya memberi alasan logis soal penggunaan kata saya.
“Saya kan manggil Mas juga karena disuruh. Kalau enggak saya panggilnya Bapak, karena Mas adalah Bos saya. Saya pegawai, jadi memang harus berbeda penggunaan kata yang saya ucapkan,” kata Ayya.
“Enggak, pokoknya mulai sekarang kamu memang harus dihukum. Kamu harus menggunakan kata aku, bukan saya, dan kamu harus manggil Mas bukan Bapak. Hukumannya saya tekankan satu kali salah pokoknya cium pipi. Tapi kalau tiga kali kesalahan cium bibir,” ucap Mukti tanpa senyum.
Tentu saja Ayya ketakutan dia akan berupaya tidak salah, dia tidak bisa memberikan cium pipi apalagi cium bibir pada Mukti.
‘*Apa aku harus beli lakbannya. Biar aku inget setiap mau bicara kan harus aku buka jadi kan ingat enggak boleh bicara saya dan enggak boleh bicara bapak*.’
‘*Atau aku tutup aja mulutku biar enggak salah salah, daripada aku kena denda. Boro-boro cium bibir, cium pipi aja nggak bisa, nggak pernah. Aku memang harus segera resign*!’ Ayya jadi berpikir ulang.
“Sudah Mas, itu sudah saya kirim semuanya. Mana data yang harus aku kerjakan,’ pinta Ayya.
“Mau ngapain habis magrib keluar rumah?”
“Mau ketemu teman, dia besok pagi sudah kembali ke Jakarta karena selama ini dia bekerja di Jakarta,” kata Ayya jujur.
“Enggak bisa keluar malam-malam, enggak boleh keluar sendirian,” tolak Mukti.
“Kalau dia ke sini atau dia jemput aku boleh enggak?”
“Kamu dijemput di sini nggak boleh,” jawab Mukti.
“Kalau ngobrol di rumah ini boleh?” tanya Ayya.
__ADS_1
“Ya boleh kalau kamu ngobrol di rumah ini dan waktunya maksimal satu jam,” Mukti membatasi waktu bertemu, tak ingin repot mengusir orang yang tidak tahu waktu.
“Baik Mas. Terima kasih, nanti saya kabari dia dan saya akan share loc rumah ini,” kata Ayya.
Mukti tak keberatan, asal Ayya tidak keluar rumah dan tidak dibawa ke mana-mana. Kalau di rumah dia masih bisa ngawasin Ayya.
‘*Ini anak kerja cepet amat*,’ Mukti melihat hasil yang dikirim oleh Ayya.
‘*Katanya dia kerjakan kemarin malam, tapi hasilnya begini prima*,’ pikir Mukti.
Sekarang Mukti melihat Ayya sedang tekun mengerjakan data dari email yang dikirim oleh Sita.
Ayya tak menoleh ke siapa pun juga. Ayya tak peduli pada apa pun walau Abu dan Angga bolak-balik lewat. Ayya tetap serius bekerja sendirian karena Mukti pun tak ada di situ. Mukti kadang datang kadang pergi karena dia juga sambil beres-beres membantu Abu.
“Yeaaaay. Akhirnya selesai juga,” kata Ayya sambil tersenyum. Dia langsung mengirim data yang baru dia kerjakan ke laptopnya Mukti. Lalu kedua laptop dia matikan.
Tidak sampai 1 jam data laporan yang harusnya dikerjakan oleh orang ahli bisa sampai 4 atau 5 jam dikerjakan hanya dalam waktu 45 menit oleh Ayya.
“Kamu sudahan?” tanya Mukti.
“Sudah Mas dan sudah saya kirim ke laptopnya Mas. Semua sudah ada di situ, kalau nggak percaya cek aja. Kalau ada kesalahan bilang, nanti saya revisi,” kata Ayya.
‘*Ini ama beneran anak SMA apa bukan sih*?’ pikir Mukti.
‘*Masa anak SMA begitu cepatnya kerja. Kan dia kuliah sekretaris cuma satu semester. Aku jadi curiga jangan-jangan dia memang dulu banyak kursus sehingga apa pun bisa. Kalau masak sih nggak aneh karena dia pernah kerja di cafe. Dan kalau kue enggak aneh karena ibunya pedagang kue. Tapi kalau kerjaan kantor kayak gini, dia dapat dari mana coba*?’ pikir Mukti.
Benar-benar Mukti mendapat kejutan karena semua yang dikerjakan Ayya cepat dan benar.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING yok.
__ADS_1