CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
ISTRI DALAM TANDA PETIK


__ADS_3

“Mas mau nambah minum atau pudingnya lagi?” tanya Ayya memecah kebisuan Mukti.


Tanpa menjawab atau apapun Mukti tetap diam. Setidaknya kalau tidak menjawab cukup mengangguk atau menggeleng kan? Ini tidak. Dia benar-benar diam memandang tajam mata Ayya.


Melihat reaksi seperti itu Ayya pun tak mau bikin ribut. Dia memutuskan ikut cuek seperti Mukti. Ayya langsung mengajak Sri bicara tanpa peduli pada Mukti lagi.


“Sri ke depan sebentar yuk?” ajak Komang Ayu setelah mereka lama berbincang tentang teman-teman di cafe.


“Ngapain?”


“Aku mau cerita banyak sama kamu,” jelas Ayya.


“Dek, Mas aku ke kamar ya,” pamit Ayya pada Aksa dan Mukti.


“Tadi katanya mau ke depan?” Sri memastikan Komang mau ke depan atau ke kamar.


“Enggak ah, enakan di kamar enggak ada yang dengar. Kalau ke depan nanti ada saja yang ganggu,” jawab Ayya sambil berdiri.

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban dari Aksa dan Mukti, Ayu pun berjalan ke kamarnya.


“Kamu mau cerita apa?”


“Aku bingung Sri. Selama ini aku kan enggak pernah cerita kepada siapa pun masalah aku dan Mas Mukti. Sekarang aku cerita ke kamu karena kamu lihat sendiri sikap marahnya dia barusan.”


“Sejak awal Mas Mukti itu enggak pernah anggap aku pembantu. Dia lebih menganggap aku itu miliknya !”


“Maksud kamu?”


“Kalau yang aku lihat, Mas Mukti lebih menganggap aku itu istri dalam tanda petik.” Jelas Komang Ayu.


“Bahkan semua uang belanja dia kasih ke aku. Gaji juga enggak pernah kurang selain bounus yang dia berikan buat pribadi.”


“Tapi aku enggak bisa terima cintanya dia.” Ayya terdiam.


“Memangnya Pak Mukti pernah menyatakan cinta sama kamu?” tanya Sri.

__ADS_1


“Pernah dan sering. Hanya semua aku pendam sendiri.”


“Pertama waktu kami berantem di Solo. ada seorang sutradara yang minta aku jadi bintang filmnya tapi aku tolak karena aku sudah janjian sama papa mau buka toko sembako di rumah. Aku bilang sama papa 3 bulan aku kerja. Selain berterima kasih atas pertolongan mas Mukti saat ibu meninggal, aku akan menabung lalu tinggal di desa.”


“Aku sudah banyak kehilangan waktu sama papa, jadi aku ingin ketika papaku kembali aku juga ingin kembali aku ingin hidup bersama papa.”


“Mas Mukti salah paham. Dia ngambeg seperti tadi. Saat akan pulang kami salat bersama. Aku sudah keluar dari mushola, mas Mukti masih nunggu aku di mushola sampai dia ngamuk-ngamuk padahal aku dan Wayan sudah menunggu dia di mobil.”


“Kami bertengkar hebat sepulang dari tempat meeting itu. Kamu tuh enggak ngerti ya. Aku tuh ngebatasi kamu bukan enggak ada maksudnya. Aku ngebatasin gerak kamu karena aku sayang sama kamu! Begitu yang mas Mukti bilang hari itu.”


“Sejak itu aku diam tak mau membahas soal itu lagi. Karena aku tahu diri, aku enggak pantas buat dia.”


“Saat kegiataan di Solo juga ada seorang perempuan yang sangat terobsesi sama dia, aku lupa namanya. Dia seorang penari terkenal sampai dia menjebak Mas Mukti.”


“Sejak awal mas Mukti  sudah menceritakan semua kisah kelamnya termasuk perempuan-perempuan yang sangat dekat dengannya perempuan yang sudah memporak-porandakan hatinya.”


‘Perempuan itu istri sirinya,’ kata Ayya dalam hati. Masalah itu enggak akan dia sebutkan kepada siapa pun. Karena itu nanti bisa berimbas bocor ke mana-mana dan orang akan bilang kata Ayu, itu yang tidak mau Ayu hadapi. Semua itu biar ada di dalam hatinya sendiri, dia pendam sendiri rapat-rapat.

__ADS_1


“Jadi dia pernah mengatakan cinta sama kamu waktu masih di Solo?”


__ADS_2