
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
“Pak ini resep untuk mbaknya. Harap segera ditebus karena kami butuh obat luar yang sedang kosong di sini,” kata seorang perawat.
Mukti langsung mengambil resep tersebut.
“Tanya Made, bagaimana perkembangannya. Apa yang dia lihat di CCTV-nya,” kata Mukti pada Wayan yang masih menemaninya di rumah sakit.
“Aku ke apotek dulu ya,” Mukti bergegas ke apotek depan. Dia juga membeli vitamin lainnya sesuai dengan kebutuhannya Ayya.
“Kamu yakin?” tanya Wayan tak percaya mendengar cerita Made.
“Sangat yakin, aku melihat dengan beberapa teman di sini. Jadi banyak saksi. Tak akan aku hilangkan alat bukti ini,” jawab Made.
“Saat kami sedang melihat CCTV, Saras sudah pergi.”
“Kenapa dia sengaja melakukan itu ya?” Wayan masih bingung.
“Mungkin dia cemburu pada Komang Ayu dan aku juga lihat memang Muktinya menyukai Komang Ayu, lihat aja panggilan dia kan beda.”
“Aku tahu itu sejak dari di Solo,” kata Wayan.
“Tapi sayangnya Komang Ayu tak punya rasa tertarik pada Mukti. Dia merasa Mukti adalah orang yang patut dia hormati dan dia junjung tinggi martabatnya. Tak patut untuk dia cintai,” kata Wayan lagi.
“Aku tahu itu bagaimana mungkin cemburunya Mukti waktu di Solo dulu.”
“Berarti dia bertepuk sebelah tangan?” tanya Made.
“Sepertinya begitu, tapi ya semoga aja ada harapan. Yang aku tahu Komang Ayu belum berniat untuk pacaran, karena dia ingin hidup dengan papanya dulu. Dia tak mau menjadi artis atau hal lain dia hanya ingin hidup tenang di desa bersama papanya.”
__ADS_1
“Ini suster obat yang tadi dari resep dokter,” Mukti terengah menyerahkan obat yang dia tebus.
“Dan ini tolong berikan juga vitamin tambahannya, tadi saya tanya apoteker.”
“Baik,” kata suster.
“Dan anda dipanggil oleh dokter yang menangani Ibu Komang Ayu.”
“Dia masih gadis jangan dipanggil ibu,” protes Mukti.
“Baik saya panggil Nona Komang Ayu. Anda dipanggil oleh dokter yang menangani nona Komang Ayu,” ulang suster tersebut. Tanpa buang waktu Mukti bergegas mengikuti suster ke meja dokter di ruang IGD itu. Bukan di ruang khusus, hanya meja yang terpisah dengan deretan bed periksa saja.
“Bagaimana kondisinya Dokter?” kata Mukti, tak sabar menunggu dokter bicara. Padahal dokter akan bicara bila dia sudah duduk. Mukti saat itu masih berdiri.
“Luka bakar tidak terlalu parah karena kan air kopinya bukan air mendidih, sudah agak dingin sedikit. Tapi ya cukup panassehingga membuat luka bakar. Bagian yang terkena bagian dada dan sedikit bagian perut untungnya tertahan oleh nampan jadi tidak terlalu luas area terbakarnya.”
“Resep yang sudah saya berikan itu bagus untuk segera recovery. Sudah saya berikan juga suntikan agar tak ada infeksi. Untuk sementara jangan boleh kena air. Mandi di lap saja bagian yang terluka.”
“Berapa lama Dok?” tanya Mukti. Dia yakin Ayya akan ngeyel kalau tak diberitahu waktu yang pasti.
“Maaf Dok, Sekali lagi maaf, biasanya buat perempuan tubuh itu kan harus mulus. Bagaimana nanti bekas lukanya?” tanya Mukti.
“Ini tidak akan membekas jelas. Akan ada bekas samar. Karena hanya luka luar tipis. Tapi saya anjurkan krimnya itu diteruskan aja sampai benar-benar hilang bekas lukanya. Kalau habis beli lagi aja. Kalau itu tak boleh beli di apotik karena harus pakai resep. Saya sarankan beli yang lebih bagus yang dijual bebas tidak perlu pakai resep. Banyak krim yang bagus seperti itu.” kata dokter.
“Atau nanti saya rujuk ke bagian kulit agar lebih mantap untuk dapat resepnya,” kata dokter tersebut.
“Saya rasa itu lebih baik Dok. Saya minta rujukan ke dokter kulit saja,” pinta Mukti.
“Untuk malam ini bisa pulang Dok?”
“Tunggu 3 jam lagi ya. Saya tunggu reaksi obatnya dulu apakah ada reaksi negatif. Kalau reaksi negatif dia harus dirawat tapi kalau dia aman-aman saja tidak ada kontra indikasi maka boleh pulang. Dia bebas bergerak koq. Tak ada pantangan kecuali bagian yang terluka jangan kena air.
“Baik Dokter. Terima kasih,” Mukti berdiri dan menyalami sang Dokter setelah menerima surat rujukan untuk ke dokter kulit.
__ADS_1
“Wayan aku harus menunggu 3 jam lagi untuk melihat reaksi obat. Kalau kamu mau pulang enggak apa apa. Aku nanti bisa panggil mobilku ke sini,” Mukti menjelaskan pada Wayan tak bisa segera pulang.
“Oh begitu?”
“Iya, sekalian aku juga menunggu papanya Ayya, eh maksudku Komang Ayu.”
“Enggak apa apa kamu panggil Ayya aku ngerti kok. Itu panggilan spesialmu. Aku juga akan tetap panggil dia Komang karena aku adalah bukan kerabatnya.
“Iya hanya aku dan papanya serta ibunya yang panggil dia Ayya, kalau keluargaku panggil dia Ayu dari nama Komang Ayu,” kata Mukti.
“Aku mengerti itu, tenang aja. Kalau begitu aku pulang ya,” pamit Wayan.
“Iya terima kasih bantuanmu.” Mukti sangat bersyukur Wayan menolongnya.
“Mukti bagaimana kondisi Ayya?” kata Wayan yang tiba-tiba datang.
“Eh, sebentar Pak. Kenalkan ini Wayan teman saya yang menolong membawa kami ke sini.”
“Wayan kenalkan ini Pak Wayan. Nama kalian sama rupanya. Dia papanya Komang,” Mukti bicara pada Wayan temannya. Wayan yang hendak pulang langsung berkenalan dengan Wayan papanya Komang Ayu.
“Terima kasih pertolongannya ya,” kata Wayan papanya Ayya setelah tahu bahwa yang membawa Mukti dan Ayya ke rumah sakit adalah Wayan.
“Sami-sami Pak. Saya pulang dulu karena anak dan istri saya menunggu,” kata Wayan.
“Terima kasih, sekali lagi terima kasih.”
Ada yang perhatikan enggak Wayan papanya Ayya langsung kenal Mukti. Enggak tanya-tanya dulu yang mana Mukti yang tadi telepon pakai nomor putrinya?
Jangan lupa secangkir kopi eyang tunggu di siang mendung hari ini.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
__ADS_1
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA yok.