CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
TAK ADA MASAKAN AYYA


__ADS_3

“Hari ini mau masak apa Mbak Komang,” tanya Bu Pinem.


“Enggak ada masakan spesial yang saya ingin buat Bu. Saya enggak titip apa-apalah. Paling Ibu belikan aja bahan-bahan untuk pisang goreng atau pisang rebus seperti kemarin,” jawab Ayya.


“Kalau pisang masih ada yang bisa diolah Mbak.”


“Ya sudah nanti itu aja di bikin kue pisang Nagasari. Jadi enggak digoreng. Tinggal petikan aja satu daun pisang untuk bungkusnya Bu. Tepung beras ada kan?” Komang tak mau bahan dasarnya terlupa.


“Tepung beras, tepung hunkwe, maizena serta terigu masih ada semua,” jawab bu Pinem.


“Ya udah kita bikin kue pisang aja lah, kurangi gorengan.  Walau saya paling suka gorengan,” jelas Komang Ayu.


“Kalau buat sore ini masih ada singkong kok tinggal digoreng,” kata Bu Pinem.

__ADS_1


“Nanti singkong biar digoreng jam 09.00 atau jam 10-an aja Bu, buat cemilan pagi,” kata Komang Ayu.


Hari ini Ayya sedang tidak bersemangat sama sekali. Dia masih memikirkan Arjun dan Carlo. Dua lelaki yang jelas-jelas menyatakan cinta padanya. Dua lelaki yang bilang akan menseriusi hubungannya dengan dia.


Semalam Ayya sudah menimbang-nimbang keduanya. Arjun pasti tak mungkin dia pertimbangkan karena Ayya yakin Arjun mencintai tapi ibunya tidak suka. Bisa-bisa sepanjang pernikahan dia akan sakit hati karena selama Arjun tidak ada di dekat dia, pasti Ayya akan di doktrin dengan keras dan Ayya tidak mau menerima itu.


Kalau Carlo dia sama sekali tidak mau mempertimbangkan. Ayya tahu walau hanya dari media, tentang gosip maupun kiprahnya Carlo. Tapi tidak tahu bagaimana pribadinya Carlo sebenarnya. Tak mungkin menerima cinta seseorang yang baru bertatap muka satu kali.


Itu tidak akan mungkin dia pertimbangkan. Tapi tentu saja Ayya merasa bersalah karena telah menolak Carlo.


Itu sebabnya Ayya tak mungkin memikirkan permintaan Carlo apa pun alasannya.


“Aku memang tidak boleh memikirkan pria pendamping hidupku nanti. Sekarang aku harus fokus cari uang buat usaha papa dan kami hidup bersama di Badung. Soal nanti siapa yang jadi pendampingku, aku tidak mau memikirkan sekarang,” begitu ucap Ayya tadi pagi saat bangun tidur.

__ADS_1


Dulu saat di Jakarta fokus Ayya mencari uang untuk pengobatan ibunya, sekarang untuk modal usaha papanya.


Ayya bahkan tidak membuat sarapan khusus buat Mukti karena Mukti juga tidak bangun dini hari sebelum subuh. Mukti bangun setelah Ayya mengetok kamarnya. Mungkin dia tidur terlalu larut karena begadang bersama teman-teman sesama seniman tadi malam.


Menu sarapan pagi ini adalah nasi putih, dadar telur dan tumis tempe yang dicampur dengan kacang panjang berbumbu kecap, serta kerupuk. Benar-benar tanpa sentuhan tambahan dari Ayya. Mukti tahu itu karena tidak ada tambahan menu lain dan dadar telurnya pun bukan buatan Ayya.


Mukti hafal dadar telur Ayya selalu tebal, banyak daun bawang dan dibentuk kotak. Bukan bulat seperti yang pagi ini terhidang di meja makan.


‘Mengapa dia sama sekali tak masak pagi ini?’ batin yang Mukti melihat menu yang terhidang pagi ini. Mukti hanya melihat kopi dari Ayya, selebihnya tidak ada.



__ADS_1


![](contribute/fiction/6969677/episode-images/1691038565756.jpg)


__ADS_2