CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
MUKTI KALAH TELAK


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



 “Dapat?” tanya Ambar.



“Dapat lah Ma,” Komang Ayu membalas sambil melepas helm dan memberikan pada Aksa.



“Yang buat Aksa?” Ambar penasaran apakah Ayu bisa membujuk Aksa membeli celana dari bahan kain. Karena buat anak seumur Aksa selain celana sekolah tak akan dia mau pakai bahan kain.



“Kalau Yayangku yang pilihin ya pasti aku mau lah Ma,” kata Aksa santai.



“Malahan beli 3 macam Ma, yang bahan corduroy, bahan katun  slim-fit dengan bahan stretch tebal, juga celana cargo yang mempunyai banyak saku. Nanti Mama lihat deh yang mana yang paling pas,” jawab Ayya.



“Baguslah kalau begitu, tadi celana punya Mukti sudah Mama masukkan begitu pun punya yang lain,” kata Mama.



“Aksa kamu masukin deh punyamu ini ke koper yang buat seragam,” Ayya memberikan 3 celana yang Aksa beli tadi.



“Lah punyamu enggak dimasukin?” tanya Aksa.



“Enggak, punya aku di tas sendiri, kan aku nanti enggak enak kalau harus ambil ke kamar mama di hotel saat di Jakarta,” jawab Ayya pada Aksa.



“Oh gitu.”



“Ya sudah aku langsung ke kamar dulu ya Ma. Mau taruh barang dulu,” pamit Ayya pada Ambar.



“Iya,” jawab Ambar. Karena memang tadi dia menghadang keduanya di teras, saat keduanya baru turun dari motor sambil tertawa-tawa.



“Wah yang pulang pacaran seger ya,” goda eyang Angga.



“Eyang bisa aja deh,” jawab Komang Ayu.



“Dapat yang dicari?” tanya eyang Angga.



“Sudah dapat Eyang, punya aku dan Aksa,” jawab Ayya lagi. Tadinya Ayya akan pakai bawahan putih atau cream yang dia miliki karena dia tak punya celana atau rok polos hitam.



“Eyang sudah *dahar* ( makan )?” tanya Ayya lembut pada orang tua itu.



“Sudah.”



“Sekarang mau teh madu sebelum tidur?” tanya Komang Ayu penuh perhatian.


__ADS_1


“Boleh deh, biar malam ini eyang agak nyenyak tidurnya, karena besok pagi kita berangkat pagi-pagi,” jawab Airlangga.



“Sebentar ya eyang, aku buatin dulu ya. Sekalian aku taruh belanjaanku di kamar,” kata Komang Ayu. Eyang Angga memang sedang di ruang tengah di rumah itu.



Mukti yang melihat Ayu masuk hanya menatapnya sinis.



Ayya langsung menaruh bajunya di atas travelling bag yang akan dia gunakan besok, nanti dia akan masukkan yang rapi. Sekarang dia bersiap membuat the madu untuk eyang dulu.



“Kamu lagi bikin apa?” tanya Sonny.



“Mau bikin teh madu buat eyang, Mas mau bikin apa? Sini aku bikinkan sekalian,” tanya Komang Ayu.



“Enggak Mas cuma mau ambil air putih kok,” jawab Sonny yang memang ingin ambil air putih untuk di kamarnya agar bila malam ingin minum tak perlu keluar kamar.



“Kirain mau bikin teh atau kopi, biar aku bikin sekalian sama punya eyang,” Ayya menjawab sambil menuang madu ke cangkir eyang Angga.



" Enggak lah."



“Bikin apa kamu Yu?” tanya Abu yang juga ke dapur untuk menaruh gelas bekas minum kopinya. Memang di rumah ini untuk hal-hal kecil tidak menyuruh pembantu, apa-apa dikerjakan sendiri agar tak memberatkan para pembantu di rumah.



“Ini teh buat eyang Pa. Papa mau apa? Nanti biar aku buatkan.” Komang Ayu menawarkan teh atau kopi pada Abu.




“Bisa Pa?”



“Maksudmu bisa apa?”



“Katanya kalau orang habis ngopi terus enggak bisa tidur,” Komang Ayu memberitahu apa yang dia maksudkan.



“Buat Papa sih enggak ngaruh tuh. Tidur mah tidur aja, ngopi mah ngopi aja. Apa hubungannya coba?”



“Katanya akibat cafeinnya Pa, jadi enggak bisa tidur,” jelas Komang Ayu



“Mungkin Papa udah terlalu kebal dengan cafein jadi biarpun habis ngopi kalau mau tidur ya tidur aja. Cafein enggak menghalau ngantuknya Papa. Kantuknya sudah kebal sama cafein. Sudah diomelin, sudah dipukulin, sudah dioprak-oprak pun enggak mau cafein bergerak mengusir kantuk Papa. Jadi walau habis minum kopi ya ngantuk tetap datang. Si cafein kalah,” kata Abu tentu saja membuat Ayu tertawa.



“Mungkin oprak opraknya harus pakai sapu lidi Pa. Jadi cafeinnya bergerak dan semangat ngusir si kantuk. Kalau cuma di elus pakai tangan dia enggak mempan,” balas Ayya konyol.



“Oh iya juga ya. Nanti papa bilangin sama kafein oprak-oprak pakai sapu lidi,” Abu ikut aja dengan seloroh dari Ayu.



Mukti melihat kalau Komang Ayu itu bisa berbaur dengan seluruh anggota keluarganya kecuali dirinya. Sama eyang, sama papa, bahkan sama Aksa Komang Ayu bisa akrab. Tapi tidak dengan dirinya.


__ADS_1


‘*Entah apa yang salah pada diriku*,’ kata Mukti bingung. Bahkan Adelia yang sudah akan resmi dengan Abu saja tak seakrab Ayya dan Abu. Adelia bisa ngobrol atau diskusi dengan Angga tapi juga tak bercanda seperti yang Ayya lakukan.



“Mas celana hitam dari bahan kain sudah dimasukkan ke koper baju seragam belum?” tanya Komang Ayu saat selesai menaruh teh madu untuk eyang Angga.



“Sudah,” jawab Mukti jutek.



“Oh ya sudah, berarti semuanya sudah ada, kecuali baju harian Mas. Karena Mas kan enggak nyuruh aku,” jawab Mukti.



“Iya nanti aku siapin sendiri. Kamu aja enggak peduli aku ada celana bahan warna hitam atau enggak. Kalau pun ada, bersih dan siap pakai enggak. Kamu malah sibuk urusin kelengkapan Aksa,” protes Mukti.



“Tadi aku mau pergi sendiri, Aksa pulang sekolah, dia tanya aku mau ke mana. Lalu dia berinisiatif mengantar sekalian cari celana untuknya saat mama bilang besok Sabtu seragam bawah pakai warna hitam dari bahan kain,” Ayya membela diri.



“Tapi sekarang Mas sudah ada celana bahan warna hitamnya?” tanya Ayya dengan ras bersalah.



“Sudah,” balas Mukti ketus. Tadi dia minta bu Parman segera mencuci dan keringkan celana kotornya lalu langsung di setrika.



“Mau pakai travel bag kemarin atau mau pakai yang lain?” tanya Ayya dengan sabar.



“Boleh, pakai travel bag yang kemarin aja karena enggak banyak kan yang mau dibawa?”



“Enggak tahu juga banyak atau enggak.”



“Kalau mau pakai yang kemarin, aku ambilkan,” jawab Ayya. Ayya bergegas ke kamar untuk mengambil travel bag kecil untuk digunakan oleh Mukti.



“Ini Mas,” Komang Ayu memberikan travel bag size small yang kemarin digunakan untuk Mukti.



“Mbak, mama bilang semua tas suruh ditaruh di depan biar enggak ketinggalan. Tasmu dan milik mas Mukti belum ada di depan,” kata Aksa pada Ayya.



“Iya Dek, aku ambil tasku di kamar. Tadi enggak bilang waktu aku mengambil tas buat Mas Mukti,” protes Ayya.



“Mana aku tahu. Orang mama ngomongnya barusan,” jawab Aksa.



“Biar aku ambilkan aja, kamu berat nanti. Enggak tega aku sama Sayangku angkat berat-berat,” kata Aksa.



“Nah gitu dong, kalau sama kekasih itu harus pengertian,” Goda Ayya.



“Pasti pengertianlah. Kalau enggak pengertian enggak jadi pacarku kan?” jawab Aksa sambil mengikuti Ayya berjalan ke kamar belakang untuk mengambil travel bag-nya Ayu, Mukti yang mereka tinggal merasa darahnya mendidih.



Nah lhoooooooooooo, sementara team Aksa bisa kipas-kipas nih lihat mas Mukti makin marah. Mana kopi buat eyank? He he kalau poin belum cukup, mawar juga enggak nolak deh buar ruang kerja jadi harum.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA yok.


__ADS_1


__ADS_2