CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
PESAN DARI ORANG YANG DUDUK DI SEBELAH


__ADS_3

Mukti kaget mendengar bahwa Ayya tak jadi pulang bila harus dia antar.


“Kenapa sih Yank? Kok Mas nggak boleh antar kamu?” tana Mukti mencoba ingin mengerti alasan Ayya.


“Ya nggak usah diantar, kan aku nggak pulang,” jawab Ayya. Dia langsung membuang pandangannya keluar jendela. Tak ada yang enak dilihat di jalan raya karena mereka sudah ada di dalam tol. Tapi daripada kesal dengan orang di sebelahnya lebih baik Ayya langsung buang muka.


“Dengerin Mas dulu deh, apa salahnya sih kalau Mas antar kamu ke rumah? kan nggak apa-apa. Juga Mas bisa ketemu papamu,” jelas Multi.


‘Justru itu yang tidak boleh. Mas enggak boleh bertemu dengan papa sebelum kami diskusi,’ batin Ayya.


“Maaf ya Mas. Enggak usah dibahas lagi. Aku nggak akan pulang kok,” kata Ayya tak mau lagi membahas apa pun. Ayya sengaja memejamkan matanya agar tak diganggu lagi oleh Mukti, dia malas ribut.


“Dangke banya Om Yappie,” kata Mukti. Walau sedikit-sedikit dia bisa bahasa Ambon karena dulu memang papanya dan Om Ariel kenalan di asrama di Ambon dan mereka sering bicara pakai bahasa Ambon sehingga Mukti terbiasa mendengar kata-kata itu. Danke banya artinya terima kasih banyak.


“Sama-sama Mas Mukti. Sampe baku dapa jua,” kata Om Yappie. Lelaki setengah umur itu menjawab sampai jumpa lagi.


“Terima kasih Om,” kata Ayya.

__ADS_1


“Sama-sama Mbak Ayya, sampai ketemu ya,” balas om Yappie. Lalu mereka langsung masuk ke tempat check in tak mau menunggu lama.


Ayya tetap diam saja. Saat Mukti meminta KTP dia mengeluarkannya dengan diam. Tentu saja Mukti jadi serba salah.


‘Kalau tak diantar  kapan aku bicara dengan pak Wayan untuk atur waktu dengan mama dan papa?’ pikir Mukti galau.


“Yank, kamu marah ya sama Mas?” tanya Mukti sebelum mereka boarding.


“Nggak ada yang perlu dimarahin kok Mas. Sudah nggak usah bahas apa pun,” jawab Ayya.


“Kalau nggak ada yang perlu dimarahin seharusnya kamu nggak diam aja sejak tadi,” tukas Mukti.


“Paling nggak kita bisa ngobrol kan?”


“Maaf Mas, aku ngantuk. Nanti juga di pesawat aku mau tidur aja,” jawab Ayya datar.


Mukti makin kalang kabut ternyata tunangannya malah diem hampir 1000 bahasa seperti sekarang.

__ADS_1


Tunangan? Katanya bukan cincin tunangan, bagaimana sih Mas Mukti ini.


Masih cukup waktu untuk ngobrol sebenarnya, tapi Ayya sama sekali tidak mau bicara pada Mukti. dia malah berbalas pesan dengan Sri yang sudah sejak kemarin ada di Solo.


‘Hati-hati ya,’ begitu pesan yang Ayya terima. Dia memang sengaja memposting foto beberapa pesawat di bandara sebagai status WA-nya. langsung Carlo merespon seperti tadi.


‘Terima kasih,’ jawab Ayya.


‘Wah sudah mau mudik lagi,’ Arjun pun yang melihat status itu langsung mengirim pesan.


‘Mending kalau bisa dibilang mudik, orang baliknya ke pekerjaan kok nggak balik ke rumah,’ jawab Ayya.


‘Setidaknya kan ada di satu tempat yang sama yaitu di tanah kelahiran. nggak seperti aku yang jauh di rantau begini,’ kata Arjun.


Mukti melihat Ayya terus berbalas pesan dia melihat apa yang Ayya tulis maupun apa yang diterima karena memang terlihat dan jelas terbaca dari tempat duduknya karena mereka duduk bersebelahan.


‘Wah asyik ya yang status WA-nya langsung banyak respon dari para pemuja,’ Ayya kaget menerima komen dari orang di sebelahnya.

__ADS_1


Namun Ayya sama sekali tak membalas, dia membalas yang lain termasuk Kusno dan Dadang.


__ADS_2