
“Yank, bisa kita bicara sebentar?” pinta Mukti
“Mas kan masih banyak temannya, lebih baik Mas urus teman-teman dulu. Nanti kalau mereka sudah nggak ada baru kita bicara,” kata Ayya.
“Mas enggak peduli kok mereka mau ngapain toh kami nggak janjian juga. Kebetulan aja mereka memang sedang ada rute ke sini jadi mereka tanya Mas ada di galeri enggak. Karena Mas bilang ada, ya sudah mereka datang dan ngobrol.”
“Biarpun nggak janjian tetap harus hormati tamu. Lebih baik Mas keluar dulu temui mereka. Kan aku nggak ke mana-mana. Ada di sini,” jawab Ayya membuat Mukti speechless. Ayya mengatakan DISINI dengan menunjuk d4da Mukti dengan telunjuknya.
“Tapi Mas nggak suka kalau kamu marah,” rajuk Mukti setelah bisa bicara.
“Siapa yang marah? Sudah temuin aja mereka dulu. Aku nggak apa-apa kok,” jawab Ayya tenang.
“Mas akan keluar kalau sama kamu. Kalau kamu nggak keluar ya udah Mas di sini aja nemenin kamu,” mulai nih Mas Mukti modus. Dia merajuk ngalahin Fahri adik kecilnya.
Mengetahui Mukti sangat keras kepala, maka Ayya pun ikut keluar bersama dengan Mukti.
Ternyata Ghofur dan Lina sudah pulang tinggal beberapa teman yang tersisa.
__ADS_1
“Maaf ya, tadi saya masuk dulu karena saya harus telepon mamanya Mas Mukti. Tadi waktu saya pergi dia nyariin saya,” kata Ayya ramah.
“Mama itu kalau Komang nggak ada kabar galau, nggak ada kabar sebentar aja dia kehilangan. Tapi kalau aku seharian nggak berkabar Mama tuh tenang,” jelas Mukti.
“Wah menantu idaman rupanya,” ucap seorang teman Mukti.
“Nggak juga. Mama sama kak Adel juga sama seperti itu kok. Mama memang orangnya sayang pada semua anak dan menantunya,” kata Ayya. Biar bagaimana pun tadi Mukti mengenalkannya sebagai tunangan, tentu dia tak mau membuat nama Mukti jadi buruk. Dia tetap harus berperan sebagai tunangannya Mukti.
“Kapan kalian akan nikah?” tanya seorang teman yang lain.
“Kalau aku sih sekarang juga diajak nikah tentu mau,” kata Mukti sambil merengkuh tubuh Ayya di depan kawan-kawannya dia kecup sekilas pipi Ayya.
“Kenapa Komang? Kok kamu nggak kepengen cepat nikah?” seorang teman perempuan Mukti bertanya langsung ke Ayya.
“Masih belum puas pacarannya,” jawab Komang Ayu dengan senyum manisnya.
“Wah asyyiknya yang maunya pacaran terus,” kata teman lainnya.
__ADS_1
“Dia kan memang masih muda, tidak seumuran kita. Kalau kita belum nikah ya bahaya,” jawab teman perempuan lainnya.
“Kalau laki-laki memang seusia kita masih banyak yang belum nikah. Lihat saja teman-teman sekolah kita juga masih banyak yang belum menikah seperti Mukti dan beberapa teman lain.”
“Perempuan memang kalau telat dikit pasti diomongin. Akan banyak yang bilang kita nggak laku atau perawan tua.”
“Nanti kalau kami menikah pasti sampai kok undangannya,” kata Ayya lembut.
“Kira-kira kapan?” desak teman Mukti. Ayya menatap tajam mata lelaki yang masih belum membuat dia bisa mengambil keputusan itu. Ada tatapan minta kepastian di mata Mukti. Seakan pertanyaan temannya mewakili apa kata hatinya.
“Tunggu mama dan papa tarik napas dulu,” kata Ayya.
“Mereka baru saja menikah kan kakaknya Mas Mukti satu minggu lalu. Tentu mereka butuh istirahat, baru memikirkan proses pernikahan kami,” jelas Ayya.
Mukti hanya tersenyum mendengar jawaban Ayya seperti itu. Tentu dia sangat bahagia. Artinya Ayya tidak menolak, hanya belum sampai pada tahap pemikiran menikah dengannya. Itu saja sudah membuat Mukti tenang. Karena dia tahu kalau Ayya sudah berkomitmen nggak akan mungkin bohong.
Kalau Ayya tidak menerima Mukti, walau Mukti sudah pamer dia sebagai tunangan, Ayya pasti tak mau bersandiwara seperti sekarang. Ayya selalu tegas. Ketika dia tidak mau menerima lamarannya Arjun, ya dia bilang tidak mau dan dia jelaskan alasannya. Begitu pun pada Carlo. Tapi lamarannya Mukti kan nggak ditolak.
__ADS_1
Ayya bilang kalau mereka nikah akan diundang kalau Ayya memang menolak pasti dia akan bilang bahwa tak akan pernah ada pernikahan. Pada Ambar atau Abu juga Ayya tak menolak, hanya bilang mohon agar Mukti mau membantunya mengikis trauma nya. Artinya Mukti harus ikut aktiv kan?