
“Ini kopinya siapa?” tanya pakde Pram yang penggila kopi.
“Kalau itu jangan disentuh, itu punyanya Mukti dan yang bikin juga spesial nanti dia ngomel kalau kopinya hilang,” ujar Soetiono pada putranya.
“Oalah buatan sang kekasih tho,” kata Pakde Pram mencoba mengerti.
“Iya. Makanya aku bilang jangan disentuh,” kata ayahnya Pram.
“Iya Yah, aku juga tahu,” jawab Pram.
Yang jadi topik pembicaraan baru aja keluar dari kamar tapi dia sudah mandi.
“Kamu itu ngalah-ngalahin orang yang punya istri,” goda Soetiono.
“Kenapa Eyang?” tanya Mukti yang tidak mengerti mengapa dia malah diledekin pagi-pagi.
“Yang punya istri saja belum ada kopi dan teh, kamu malah sudah ada kopi dan roti,” jawab Soetiono. Sampai sekarang keluarga Ambar tak ada yang tahu soal Mukti bukan anak kandung Abu. Semua hanya tahu kalau Mukti anak Abu dengan perempuan lain yang di rawat Ambar sejak lahir.
“Itu karena kebetulan aja lagi dibuatin Eyang,” balas Mukti.
“Wah pemutar balikan fakta ini,” kata eyang Angga. Semua pun akhirnya tertawa karena mereka tahu memang yang disiapin adalah Mukti eyang Angga yang jadi subsidernya.
“Sri kamu bawa ini ke depan,” Komang Ayu memberikan dua termos pada Sri. Termos berisi teh dan kopi tanpa gula.
Komang Ayu membawa nampan berisi cangkir, gula serta sendok. Di termos sudah tertulis isi termos tersebut yaitu kopi dan teh, sehingga nanti siapa pun bisa ambil langsung sesuai keinginannya.
Selain gula juga sudah ada creamer bila ada yang menyukai kopi dengan creamer.
“PULU UNTI yang di meja tadi bawa ke depan aja sambil nunggu sarapan siap,” pinta Sri saat tiba di ruang tengah dan Sri sudah meletakan dua termos di sana.
__ADS_1
Pulu unti adalah makanan khas dari Ambon yaitu ketan yang dimakan dengan unti dari kelapa parut dan gula merah.
“Oke siap,” jawab Sri.
“Kamu cukup ya. Kamu sendiri belum minum teh dan isi apa pun,” kata Abu menegur Ayu.
Sri kaget karena Abu bicara persis di depan dia ketika membawa pulu unti.
“Iya Pa, ini aku mau bikin minum buat aku kok. Sekalian aku bikinin buat Papa ya biar pas gulanya,” jawab Ayu.
“Ya, bikinkan kopi Papa,” kata Abu.
Ayu pun membuat kopi untuk Abu yang ditambahkan 2 sachet creamer, lalu dia berikan pada Abu.
“Pakde mau aku bikinkan?” tanya Ayu pada pakde Pram.
“Enggak usah. Pakde bikin sendiri saja,” jawab Pram.
“Boleh, Pakde bikinkan saja. Pakde sih seleranya apa saja pokoknya kopi,” jawab Pras.
“Pakai creamer tidak Pakde?”
“Tidak usah. Pakde enggak suka. Pakde lebih suka kopi hitam,” jawab Pras.
‘Komang bukan pembantu. Perhatian papanya pak Mukti bukan perhatian pada pegawai anaknya,' batin Sri.
“Tuh kan kamu malah sibuk bikinkan minum buat orang lain,” protes Abu.
“He he he, itu teh aku sudah jadi Paa, taapi kaan masih panas.”
__ADS_1
“Ya sudah kamu duduk dan ganjal perut dulu,” perintah Abu.
“Baik Pa,” balas Ayu.
Sri tentu aja tidak ikut duduk di depan bersama Ayu, dia merasa bukan keluarga seperti Ayu.
“Tante, adek-adek enggak bikin su5u?” tanya Ayu pada Laksmi.
“Enggak, mereka teh manis saja. Susunya selama bepergian mereka minum pakai su5u kotak atau su5u botol kemasan kecil. Jadi enggak perlu dibikinkan lagi. Kamu santai aja,” Laksmi menjawb attensi Ayu.
“Kalau minta bikinkan apa-apa bilang aku ya,” jawab Ayu.
“Enggak kok nanti mereka juga sarapan langsung saja,” ucap Laksmi sambil mengambil pulu unti.
“Wah pengantinnya baru keluar,” Mukti menggoda Adelia.
“Kamu kali yang baru keluar, aku sudah keliling dari tadi,” jawab Adelia sang kakak ipar.
“Kok aku enggak lihat tadi subuhan,” kata Mukti selanjutnya.
“Karena kesiangan ya?”
“Aku lagi sedang enggak salat,” jawab Adelia.
“Wah belum malam pertama dong?” goda Mukti lagi.
“Enggak usah berisik,” Adelia tersipu malu, lalu meninggalkan ruangan itu. Dia menuju rombongan Vonny dan Ambar yang berkumpul dengan keluarga Ambonnya.
Mukti tertawa terbahak-bahak melihat Adelia seperti itu dia punya bahan untuk menggoda Sonny.
__ADS_1