
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Di sini punya blender tidak Bu?” tanya Ayya. Wajar dia bertanya seperti itu karena pemilik studio kan seorang bujangan yang buat makan saja susah.
“Blender ada tapi jarang saya pakai, bahkan mixer dan oven pun ada. Ovennya yang listrik karena dulu pak Mukti bawanya itu. Terus juga ada microwave tapi tak pernah saya pakai,” jawab bu Pinem.
“Kalau begitu saya titip belanjaan ya, nanti kalau Ibu belanja ke pasar. Sebenarnya saya pengin ikut, tapi takutnya barengan dengan jam makan pagi. Kalau saya pergi ke pasar nanti Mas Mukti nyariin,” jelas Ayya.
“Kalau begitu nanti saya ke pasarnya sesudah sarapan saja, biar Menik berangkat sendiri tak apa-apa, dia bisa naik sepeda kok.”
“Ya sudah kalau gitu kita belanja hari ini saya ikut. saya ingin belanja banyak buah untuk bikin juice,” kata Ayya.
Memang dia lihat di kulkas juga tak ada sayuran atau buah. Yang ada hanya air saja. Bahkan ikan atau daging dan sebagainya di freezer juga tidak ada sama sekali. Bu Pinem senangnya langsung belanja pagi di pasar. Dia tidak pernah berpikir kalau hujan atau tidak bisa berangkat ke pasar karena ada halangan, lalu nanti makannya bagaimana? Karena terbiasa mendapat kemudahan pergi ke pasar tiap hari.
Ayya juga punya keinginan akan merombak halaman belakang, dia ingin setidak rumputnya tumbuh subur dan ada satu atau dua bunga yang tidak rewel misalnya bunga Adenium. Itu kan gampang dan tetap berwarna-warni serta bagus. Banyak bunga adenium yang tumpuk. Ayya ingin merubah halaman belakang menjadi lebih bagus untuk dipandang-pandang.
“Mas, kopimu masih utuh loh. Padahal kita sudah mau sarapan. Ayya mendekat kepada Mukti sambil membawa cangkir kopi yang sudah dingin lengkap dengan piring kecil sebagai alas cangkir.
“Ya sudah kita langsung sarapan aja. Kopinya buat nanti kerja biar ditaruh di sini aja.” Mukti menerima cangkir kopi yang diberikan Ayya lalu dia tutup dengan lepek atau piring kecil tatakan cangkir yang dia letakkan terbalik.
“Ayo kita sarapan,” ajak Mukti.
“Wah tumben Pak Mukti cepet dipanggil sarapan. Biasanya kalau sudah kerja, nunggu 1 jam pun belum bergerak juga,” kata bu Pinem melihat hanya dipanggil sebentar Mukti langsung masuk ke pendopo.
Meni baru saja berangkat sekolah bersama temannya.
__ADS_1
“Ibu kenapa enggak berangkat ke pasar bareng Menik?” tanya Mukti. Biasanya Menik ikut naik motor.
“Saya mau ke pasar dengan mbak Komang, dia bilang mau lihat-lihat pasar,” jawab bu Pinem sambil meletakkan maangkok untuk cuci tangan.
“Kamu mau cari apa?” tanya Mukti pada Ayya.
“Cuma pengen tahu aja lokasi pasar dan letak toko di mana. Jadi kalau suatu saat aku mau cari sesuatu aku bisa pergi sendiri enggak perlu bingung,” jawab Ayya yang tidak mau menceritakan dia mau ke pasar buat apa.
“Masih ada uangnya?” tanya Mukti persis seperti suami yang tanya uang belanja pada istrinya.
“Masih dan aku juga kan bawa kartu ATM. Di pasar pasti ada mesin ATM.”
“Kalau bisa ambilkan uang cash ya? kayanya uang cash-ku habis.”
“Kita mau pergi ke mana ya? kayanya enggak ke mana-mana. 2 juta cukup lah,” jawab Mukti.
“Baik nanti aku ambilkan dua juta,” jawab Ayya. Ayya mengambilkan nasi goreng serta tempe dan ayam untu Mukti.
“Mau pakai sambal?” Ayya menyodorkan tempat sambel ke dekat Mukti.
“Pasti ini yang bikin kamu kan? Karena Bu Pinem enggak pernah bikin sambal, terlebih-lebih pagi-pagi.”
“Iya Ibu Pinem katanya enggak kuat sambal. Mas kalau enggak kuat juga jangan, nanti sakit perut.”
__ADS_1
“Aku kalau enggak makan sambal tuh kayak sayur enggak pakai garam. Tapi ya selama ini manut aja karena Bu Pinem enggak suka sambal. Mukti mengambil sambal nasi uduk dia pun mulai makan.
“Yaaaah, aku lupa. Maaf,” kata Ayya mengagetkan.
“Apa?” tanya Mukti.
“Aku lupa menambahkan bawang goreng di atas nasi,” ucap Ayya sambil membuka toples kecil berisi bawang goreng.
Ayya pun menambahkan bawang goreng yang tersedia di meja dalam toples dia berikan ke nasinya Mukti juga ke nasinya sendiri.
“Kenapa Bu Pinem dan yang lain enggak makan bareng kita?” tanya Ayya, karena mereka hanya makan berdua.
“Mereka di sini enggak ada yang mau makan bareng dengan aku. Sejak awal aku sudah bilang makan itu bareng tapi mereka yang menolak. Mereka enggak mau karena mereka merasa beda levelnya, beda kastanya karena merasa mereka itu pegawaiku.”
“Sudah aku ajak sejak dulu. Tapi ya enggak mau. Mau diapain kalau sudah begitu? Masa mau ribut sepanjang hari,” kata Mukti.
‘*Itulah yang wajar buat orang Bali. enggak mungkin mau makan bersama tuannya apalagi menerima cinta tuannya itu hal yang tidak mungkin*,’ jawab Ayya di dalam batinnya sendiri.
Ayya ingat dulu ibunya Sukma Ayu mau menerima cinta Wayan karena dia bukan orang asli Bali, sehingga buat Sukma wajar menerima cinta seorang lelaki padahal itu majikannya. Tapi buat Ayya tentu beda. Dia masuk kultur Bali. Kultur yang sangat menghormati orang yang lebih tinggi derajatnya. Dia bangga dengan adatnya.
“Kalau Mas lama makannya, kasihan dong mereka nunggu sarapan?”
“Enggak nunggu. Mereka bebas makan duluan karena mereka akan makan di belakang. Ada meja depan teras kamar mereka. Di sana mereka makan. Tak mau di meja ini.”
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul REVENGE FOR MY EX HUSBAND yok.
__ADS_1