
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Mas, tadi Mama telepon,” kata Ayya lapor pada saat mereka sudah selesai salat ashar.
“Mama bilang apa?” tanya Mukti.
“Mama bilang kalau bisa aku berangkat lebih cepat dari kamu untuk ke Solo,” kata Ayya.
“Enggak bisa.”
“Maksudnya Mama aku ke Solo dulu, nanti ke Jakartanya sama Mama,” jelas Ayya.
“Enggak bisa,” jawab Mukti.
‘*Kalau kamu di Solo, Arjun gampang nemuin kamu. Alasan dia ke kantor pusat. Padahal mau nyambangi kamu*.’ Mukti langsung memikirkan kemungkinan terburuk. Dia tak takut bersaing dengan Aksa yang anak bawang. Remaja kelas 10 bukan kompetitor yang perlu dia risaukan.
“Beberapa hari ini aku rampungin pengerjaan ini dulu. Itu pun belum bakal rampung. Baru sampai bahan kasar saja, belum finishing. Masih jauh dari sempurna kalau bahan kasar itu. Itu alasan yang pertama kamu enggak boleh berangkat duluan.
__ADS_1
“Alasan kedua empat atau lima hari lagi kita pulang ke Badung karena ada barang di Badung yang harus kamu data buat bawa ke pameran Solo.”
“Nanti sesudah itu baru kita langsung ke Solo biar berangkat bareng ke Jakartanya bareng mama.”
“Atau kalau memang telat ya kita langsung ke Jakarta dua hari sebelum hari H. kalau rombongan Solo sepertinya berangkat ke Jakarta 5 hari sebelum hari H.”
“Tante Laksmi juga datang dua hari sebelum hari H jadi langsung ke Jakarta,” kata Mukti.
“Aku kan cuma sampaikan omongan mama, bukan aku minta berangkat ke Solo. Terserah.”
“Kalau enggak dikasih juga nggak apa-apa. Aku di Badung aja selama Mas di Jakarta juga aku enggak apa-apa kok.” kata Ayya.
“Mbak ini sudah jadi,” lapor bu Pinem.
“Ya Bu. Terima kasih.” Ayya menerima piring yang bu Pinem ulurkan.
“Kamu yang bikin ini?” tanya Mukti.
__ADS_1
“Aku bikin sampai rebusnya aja sih, yang goreng barusan bu Pinem.”
“Lumayanlah buat cemilan sore seisi studio.”
“Bukan lumayan lagi Mbak di sini jarang saya bikin cemilan karena enggak ada yang makan,” jelas bu Pinem sambil menaruk lemon tea yang diminta Ayya sebagai teman satu piring singkong goreng yang sudah merekah karena sudah diberi bumbu dan direbus dulu oleh Ayya.
“Jadi inget eyang Angga, dia suka banget singkong rebus karena aku tahan enggak boleh makan singkong yang digoreng,” kata Ayya sambil melihat singkong yang masih hangat tersebut. Tanpa menunggu ditawari Mukti langsung mengambil singkong tersebut. Siapa sih yang enggak suka singkong goreng yang renyah dan merekah seperti itu?
“Nanti kalau ke Badung, aku pulang ya Mas. Aku pengen ketemu papa sebentar,” pinta Ayya.
“Iya nanti aku temani, aku juga pengin tahu rumahmu,” Mukti tak melarang. Dia malah ingin mengantarkan Ayya ke rumahnya.
“Oh boleh, itu rumah Ibu. Dulu ibu beli ketika habis keluar dari rumah Bu Dewi. Selama ini gaji ibu termasuk uang yang diberikan oleh Papa sengaja Ibu tabung. awal-awal bekerja Ibu masih memberi uang ke mbah di Banyuwangi. Tapi begitu mbah tahu ibu punya anak, mbah enggak mau terima uang Ibu lagi. Mbah bilang uang ibu harus ibu tabung, suatu waktu diperlukan untuk anaknya. Sejak itu memang ibu tak pernah memberi uang lagi untuk mbah dan uang tabungannya jadilah rumah di Badung itu.”
“Alhamdulillah ya ibumu berpikir panjang yaitu membeli rumah. Kalau dia ngontrak pasti lebih berat karena tiap tahun harus tambah biaya.”
“Ya Ibu memang tidak pernah buang-buang uang. dia selalu menabung itu sebabnya aku juga menabung.”
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA KECILNYA MAZ yok.
__ADS_1