CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
KEDATANGAN ORANG TUA SEKAR


__ADS_3

”Yank, keluar sebentar yuk,” ajak Mukti.


“Kenapa Mas?” tanya Ayya. Dia sedang bicara dengan bu Pinem yang sedang memarut singkong.


“Aku malas ganti baju,” rajuk Ayya, malas bangkir dari duduknya. Mukti menciumi pipi Ayya dari belakang kursi di depan bu Pinem.


“Bajumu cukup sopan untuk terima tamu kok, nggak usah ganti baju,” bujuk Mukti memegang kedua lengan Ayya dari belakang dan mengajaknya berdiri.


“Kenapa sih Mas, aku harus temenin. Sudahlah Mas saja yang ngobrol sama kak Made dan kak Wayan,” ucap Ayya malas. Sesungguhnya dia masih sangat demam dan kak Adel menyuruhnya kembali minum obat.


“Ada orang tuanya Lingga dan orang tua Sekar. Mereka mau minta keringanan sama kamu. Semua terserah kamu. Tadi Mas sudah bilang sama mama. Mama bilang tidak ada maaf! Dan mama sudah bilang sama pak Putut langsung. Mama bilang harus tuntut walau itu tidak melukai dalam artian menyakiti kamu secara langsung. Tapi kamu sama sekali nggak ada salah. Yang bikin Lingga kesal adalah Mas, karena Mas nggak mau menyapa dia. Kenapa kok sekarang Lingga tiba-tiba benci sama kamu dan marah sama kamu. Padahal kamu baik sama mereka. Jadi mama bilang, mama tidak kasih izin kamu untuk memaafkan mereka. Suruh mereka langsung berhubungan sama pak Putut. Begitu yang tadi mama tekankan. Tapi ya semua tergantung kamu lagi. Dan mama juga bilang kamu yang tidak bersalah kenapa harus sakit? Belum lagi malu karena sepertinya kok kamu yang pelakor,” kata Mukti memberi tahu bahwa dia sudah langsung menghubungi Ambar minta pertimbangan jenderal keluarga Lukito.


“Mas kenapa sih hidup aku harus kayak begini?” keluh Ayya. Dia sama sekali tidak menyangka harus terlibat dengan masalah-masalah yang buat sebagian orang ini masalah kecil. Tapi buat dia sangat besar karena jadi berhubungan dengan masalah hukum. Padahal dia tak ingin bikin masalah. Tapi kalau dia tidak menegakkan hukum dengan sebenar-benarnya nanti akan banyak lagi perempuan yang menyepelekan dirinya. Dia akan lebih sering dibully orang padahal dia tidak bersalah.

__ADS_1


“Makanya kamu temui dulu orang tua Lingga dan sekarang semua keputusan di tangan kamu. Kami keluarga Lukito hanya menunjang saja,” jawab Mukti pada perempuan yang telah berdiri dihadapannya. Dia kasihan pada Ayya yang harus menghadapi kepahitan seperti ini karena cinta mereka.


Ayya menarik nafas panjang yang berat, sangat berat. Sebenarnya dia tak suka dengan keributan ini. Bu Pinem jadi tahu kalau Ayya kembali jadi korban orang yang menyukai majikannya. Bu Pinem melihat Mukti memeluk lembut tubuh calon istrinya. Dari Ambar bu Pinem tahu mereka akan menikah 5 minggu lagi.


Ayya melepas pelukan Mukti, dia pun memegang tangan Mukti dan berjalan ke depan. Dia akan hadapi semua dengan tegar.


“Selamat siang dan assalamualaikum,” sapa Ayya pada semua yang duduk di teras pendopo itu. Ayya menyalami semua tamu dengan hangat.


“Maaf. Ada apa ya?” tanya Ayya tanpa basa-basi. Dia sudah malas untuk bermanis-manis.


“Ini orang tuanya Lingga. Ajik dan biyangnya Lingga. Ini mami dan papinya Sekar,” ucap Wayan sambil menunjuk yang mana orang tua Lingga dan yang mana orang tua Sekar.


“Ada perlu apa Bapak, Ibu?” tanya Ayya dengan tenang. Tak ada sorot mata ketakutan.

__ADS_1


“Sebenarnya yang punya tujuan utama itu mami dan papinya Sekar. Kalau saya sebagai ayahnya Lingga tidak berkeinginan apa pun. Saya hanya menemani,” ucap ajik ( ayah ) Lingga. Dia sama sekali tak ingin membantu agar anaknya bisa dewasa. Tidak semua persoalan harus dia bantu.


“Saya maminya Sekar, saya ingin minta pada Mbak Komang untuk menarik aduan polisi tentang kasus tadi malam,” pinta perempuan stengah baya nan cantik dengan balutan baju sopan dan mahal.


“Maaf Ibu, apa alasannya ya? Dan apa Ibu sudah tahu kronologis kejadian tadi malam? Apa Ibu sudah lihat rekaman CCTVnya?” tanya Ayya masih kalem dan sopan.


“Saya dapat telepon dari keponakan saya ( ayahnya Lingga ) kalau putri saya menyiram es krim ke tubuh Anda. Lalu Anda langsung memperkarakan putri saya itu.” kata-kata terakhir maminya Sekar mulai menyulut kemarahan Ayya.


“Jadi info yang Ibu terima seperti itu? Apa Ibu sudah tanya kronologis kejadian?” kata Ayya mulai dengan intonasi tinggi. Made dan Wayan menyadari hal ini. Sedang Made langsung menggengam jemari tangan kiri Ayya agar membuat gadis itu sedikit tenang.


 “Ya, garis besarnya seperti itu yang saya terima,” jawab papi Sekar.


“Oke. Tolong dengarkan saya sebentar saja. Saya paling malas berbasa-basi apalagi saya masih demam karena perbuatan anak Bapak dan Ibu!”

__ADS_1


__ADS_2