CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
BERANI SHOW UP


__ADS_3

“Wah pacar aku Sudah datang,” kata Aksa melihat Ayya sedang sibuk masak dengan Ambar dan Bu Parman . Ayya membuat snack mata roda sesuai dengan janjinya pada eyang Angga dan Ambar.


Kemarin Ayya sudah minta disiapkan pisang tanduk juga singkong yang sudah diparut tentu juga dengan kelapa parut muda untuk taburannya nanti pada bu Parman.


“Sudah dong dari jam 11.00 tadi,” jawab Ayya. Dia sedang memotong-motong mata roda bikinannya. Lalu dia taburi kelapa parut yang sudah diberi garam dan sudah dikukus pula,


“Enak ini,” kata Aksa, dia langsung mengambil sepotong yang sedang di atur di piring oleh Ayya.


“Kamu itu jadi ngerusak susunan aku. Aku kan sudah plating biar cantik,” protes Ayya sambil memperbaharui susunan kue.


“Lagian sih pakai di platting segala. Taruh saja juga semua pasti suka,” jawab Aksa tanpa merasa bersalah.


“Nggak ada nilai estetikanya lah,” gumam Ayya, Gadis itu mengambil satu piring kecil dan menaruh 5 potong mata roda serta menaburkannya banyak kelapa lalu diberikan pada Aksa.

__ADS_1


“Nah begitu dong, tahu pacarnya pulang sekolah laper bukannya disiapin dari tadi,” Aksa dengan senang hati menerima lepek berisi snack untuknya.


“Pacarnya siapa?” Tanya Mukti yang tiba-tiba sudah memeluk pinggang Ayya dari belakang.


“Ha ha ha lihat Ma, lihat ada orang yang sudah mulai berani show up di depan kita,” goda Aksa.


“Ya berani lah, orang dia kekasih aku, bukan pacar kamu. Awas saja kalau kamu ngapa-ngapain. Ini kakak ipar kamu tahu,” kata Mukti. Dia mencium pipi kanannya Ayya yang tersipu malu. Mau marah juga nggak mungkin karena di situ ada mama Ambar juga Bu Parman. Tentu Mukti akan tersinggung bila dia menepis pelukan lelaki itu.


Ayya mengambil sepotong mata roda, lalu dia suapin ke Mukti tanpa balik badan agar Mukti menghentikan kelakuannya. Kalau nggak diberi makanan Mukti akan terus menciumnya di depan orang.


“Duduk depan sana sama eyang. Aku mau bawa ini ke depan eyang,” kata Ayya. Dia membawa lodor atau piring panjang oval yang berisi mata roda, juga beberapa piring kecil atau lepek yang akan digunakan untuk makan snack basah tersebut. Tentu saja dengan sendok kecil.


“Bu Parman bawakan teh untuk eyang dan papa ya. Pasti papa sebentar lagi pulang,” pinta Ayya.

__ADS_1


“Sudah pulang kok. Baru masuk ke kamar,” kata Mukti. Pasti Abu sedang ganti baju dulu.


“Wah Mama malah nggak tahu kalau papa sudah pulang,” kata Ambar yang langsung beranjak ke kamar. Biasanya kalau suaminya pulang memang dia menyambut di depan.


Ayya membawa makanan tadi ke ruang tengah. Saat itu Abu memang baru keluar dari kamarnya.


“Wah anak Papa sudah sampai?” tanya Abu. Padahal jelas dia tadi sudah bertemu Mukti saat masuk rumah, harusnya dia tahu kan kalau Ayya juga sudah datang?


“Papa … sebentar aku taruh piring dulu baru salim,” kata Ayya. Dia menaruh piring berisi mata roda itu di depan Angga yang sedang menonton televisi.


“Ini Eyang yang aku bilang mata roda kemarin,” kata Ayya.


“Sebentar lagi teh Eyang juga diantar Bu Parman ya,” jelas Ayya lalu dia langsung menghampiri Abu untuk memberi salim pada calon mertuanya itu.

__ADS_1


Abu menerima salim Ayya, dia langsung memeluk putri kecilnya itu. Buat Abu Ayya juga putrinya. Karena dia tak punya anak perempuan, sedang pada Adel dia tak begitu dekat seperti pada Ayya.


“Aku sudah bikinin Papa teh. Nggak boleh ngopi sore ini dan ada mata roda seperti yang aku janjikan waktu itu Papa. Katanya Papa mau langsung terbang ambil mata rodanya, ternyata Papa terbangnya cuma dalam mimpi,” kata Ayya. Tentu saja Ambar dan Abu tertawa.


__ADS_2