
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
‘*Uangnya sudah Pakde terima. Minggu lalu juga pamanmu Halim dan bibi Siti istri paman Jidan mengirimkan uang untuk ibumu. Katanya mereka kirim ke kamu tapi kamu enggak terima. Kamu bilang lebih baik untuk ibumu. Jadi bibimu mengirimkan uangnya ke pakde*,’ Komang membaca pesan yang Pakde Saino kirim untuknya.
‘*Alhamdulillah kalau paman mengirimkan uang untuk ibu, semoga berguna, Memang mereka waktu itu paman Jidan ke sini mau kasih uang itu ke aku, cuma aku pikir lebih baik buat ibu*,’ Komang membalas pesan Saino, orang yang membantu mengawasi ibunya di Badung Bali.
Walau sakit, Sukma sang ibu masih membantu istri Saino menyiapkan dagangan di warung makan kecil milik istri Saino. Sukma memang tak mau berpangku tangan selama dia masih bisa bergerak.
‘*Kamu itu, semua semua buat ibu. Harusnya kamu juga pikirkan dirimu sendiri*,’ tegur Pakde Saino melalui pesan singkat malam ini.
’*Aku alhamdulillah cukup Pakde. Kalau pun kurang itu wajar, tapi kalau ibu kekurangan itu kasihan. Sekarang memang waktunya aku mau balas budi semua jerih payah yang ibu keluarkan sejak bayi. Hanya ibu yang mengurus aku. Aku bukan enggak sayang papa, tapi kan memang ibu jungkir balik sendirian buat aku. Ya wajar kalau aku sekarang harus jungkir balik buat ibu*,’ begitu balasan yang Komang tuliskan lagi.
‘*Dulu hidup ibu hanya buat aku dan papa pastinya, sekarang wajar kalau aku berpikir hidup aku hanya buat ibu. Aku yakin Papa juga sedang berjuang untuk bisa bersama kami, tapi kondisi dia tak bisa diharapkan sama sekali. Dia terikat ular berbisa itu, kasihan papa baru bisa berontak sekarang setelah nenek dan kakek tak ada. Waktu masih ada nenek dan kakek, Papa terpaksa terikat karena kan butuh biaya banyak*.’
‘*Aku enggak salahin papa kok, walau aku menyalahkan cinta mereka yang teramat dalam sehingga membuat pengorbanan seperti ini*,’ begitu lanjutan pesan Komang.
‘*Pakde saksi hidup bagaimana cinta mereka. Dari mulai ibumu datang, Pakde tahu ibumu tak pernah menggoda papamu dan papamu juga tidak pernah hanya iseng kepada ibumu. Mereka benar-benar seperti Rama dan Shinta yang saling mencintai karena Pakde tahu betul mereka berupaya meredam cinta mereka yang salah. Tapi kekuatan cinta tak bisa mereka bendung*,’ Saino mengerti apa yang Sukma rasakan saat masih labil dulu.
‘*Aku mengerti Pakde, cinta mereka tak lekang oleh waktu. Bahkan saat kesulitan sekali pun cinta mereka terus aja membara nggak pernah padam*.’
__ADS_1
‘*Ya sudah kamu istirahat ini sudah terlalu malam*,’ saran Saino.
‘*Aku baru sampai kamar kost-ku Pakde. Hari ini alhamdulillah banyak pelanggan sehingga kami baru selesai*.’ jawab Komang.
‘*Salam buat Bude semoga semua sehat*,’ Komang mengakhiri percakapan lewat pesan whats app itu.
‘*Bude sudah tidur, besok Pakde akan sampaikan salammu*.’
\*\*\*
"Hari ini kamu libur?” tanya Komang. Padahal mereka saling tahu jadwal libur mereka. Tap basa basi perlu lah untuk mengawali percakapan mereka pagi ini.
“Apa rencanamu?” tanya Komang.
“Selain beberes aku juga kepengen belanja sayuran,” jawab Sri. Walau satu kamar mereka beda karakter.Sri menumpuk cucian dan setrika baju sampai hari libur. Sementara Komang yang tak pernah ingin libur mencuci baju setiap pagi sekalian mandi. Dia langsung gantung dan pulang kerja nanti bisa dia setrika. Atau dia akan setrika dua atau tiga hari sekalian. Tapi tak pernah ada baju kotor.
“Kamu ngidam?” tanya Komang selanjutnya sambil menyapu kamar mereka.
“Rasanya aku pengen sayur semur jengkol,” balas Sri
__ADS_1
“Kenapa enggak beli di rumah makan depan seperti biasa ?” tanya Komang. Selesai sudah dia membersihkan kamar mereka.
“Aku kepingin masak sendiri sesuai dengan selera aku. Kalau yang beli itu beda rasanya dengan lidahku. Tapi kalau kepepet ya beli depan memang lebih praktis ucap Sri.
“Sip lah, kalau begitu aku titip ya,’ kata Komang.
“Titip apa?” tanya Sri.
“Pembalutku habis, juga odol,” jawab Komang memberikan satu lembar uang 20 ribu pada Sri.
“Pakai saja odolku, kalo pembalut memang enggak bisa barengan karena kan satu pak itu langsung habis tiap bulan.” kata Sri.
“Aku juga pengen kerupuk yang digoreng pakai pasir itu loh, kan di pasar suka ada,” pinta Komang.
“Oh iya, nanti aku belikan satu plastik besar itu,” Sri juga suka dengan krupuk special itu.
Komang pun bersiap untuk berangkat ke cafe dan Sri bersiap untuk berangkat ke pasar.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN yok
__ADS_1