
Hari Senin itu Ayya benar-benar dibawa keliling oleh Mukti ke semua tempat fenomenal di Jogja didatangi. Ayya tentu saja senang tapi lelah semua membawa kenangan yang sangat berkesan. Begitu pun hari Selasa.
Hari Rabu jam 10.00 Mukti mengajak Ayya kembali ke Solo menggunakan kereta api Prameks. Mukti memang sengaja mengajak Ayya menggunakan Prameks agar tahu jarak Jogja ~ Solo itu tidak jauh.
“Lho kok kalian sudah sampai sini? Kirain mau seminggu di sana,” kata Ambar melihat pasangan itu telah tiba di rumah.
“Nggak Ma. Ini saja aku sudah bolos 3 hari. Nanti pekerjaanku semakin terbengkalai.”
“Gara-gara aku ya pekerjaannya Mas jadi terbengkalai?” keluh Ayya.
“Ya bukan karena kamu lah Yank. Ini kemauan Mas kok. Yang nunda juga Mas, bukan permintaanmu kan? Jadi kamu nggak usah punya perasaan seperti itu,” kata Mukti.
__ADS_1
Banyak oleh-oleh yang dibeli oleh Ayya terutama baju yang dia beli di pasar Beringharjo maupun di beberapa tempat karena memang Ayya tak banyak membawa baju selama ke Solo ini. Sedang dia belum sempat pergi ke pasar Klewer bersama Sri.
Besoknya Mukti mulai sibuk dengan persiapan pameran. Selama persiapan memang Ayya jarang datang karena tidak urgent. Dia harus datang kalau ada hal penting baru dia ikut karena diajak Mukti. Jadi tidak setiap hari selama persiapan dia ikut.
Waktu pembukaan sudah mulai dekat beberapa kontingen mulai hadir kontingen Bali juga sudah menempati messnya. Hanya Mukti yang tidak tinggal di mess buat kontingen Bali, karena dia tinggal di rumah mamanya. Yang lain semuanya ada di mess.
“Mama, Papa sama Eyang siap-siap lho ya. Nanti di pembukaan harus hadir. Ini undangannya. Satu undangan untuk dua orang. Jadi mama sama “papa. Aksa bisa sama eyang.” kata Mukti. Tentu saja Ambar senang dengan undangan tersebut. Dia tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh putranya tersebut. Memang beberapa kali pameran selalu Ambar yang datang.
Hari-hari terakhir Mukti memang benar-benar jungkir balik. Hampir 24 jam dia ada di lokasi.
Tak aneh karena semua orang memang membebankan keberhasilan pameran ini pada pundaknya Mukti. Selain sebagai anggota kontingen dari Bali untuk pameran ini Mukti adalah ketuanya panitia. Sehingga memang dia benar-benar bertanggung jawab penuh. Itu sudah amanat dari Pak menteri pariwisata. Untuk itu Mukti meminta bantuan Made dan Wayan. Kalau anggota kontingen lain dia tak peduli. Yang penting ada Made dan Wayan yang paling mengerti karakter dia dalam bekerja.
__ADS_1
“Minum suplemennya ya Mas. Jangan terlalu kecapean. Nanti pas pembukaan Mas malah drop.” itu selalu diingatkan oleh Ayya. Dia tak mau Mukti sakit.
“Iya Sayank. Habis ini Mas istirahat kok. Habis pembukaan hari kedua Mas istirahat satu hari full. Biar anak-anak saja yang urusan lain, karena Mas kan sebelum pameran sudah full 20 jam setiap hari,” kata Mukti.
“Baju untuk pembukaan sudah aku siapkan. Mas mau pakai sneaker atau pakai sepatu kulit? Kalau pakai sneaker ya sudah aku nggak bawain sepatu.”
“Enaknya bagaimana Yank?” tanya Mukti.
“Karena ini kan event-nya nasional, diliput juga secara nasional. Aku pikir sih sebaiknya Mas pakai sepatu kulit, walau tetap sneaker juga nggak apa-apa sih. Pas juga,” kata Ayya.
“Ya sudah aku ngikutin kamu deh. Mendingan pakai sepatu kulit saja biar terlihat lebih sopan,” jawab Mukti.
__ADS_1