
“Ya udah kapan-kapan kamu datang akan aku buatin. Nasi goreng kambing tuh enaknya malam atau pagi. Nggak enak buat makan siang. Makan siang tuh enaknya ikan asam pedas aja. Aku bisa bikinin kamu asam pedasnya patin. Itu enak banget karena ikannya itu berlemak jadi sedap banget daripada asam pedasnya ikan jenis lain.”
“Katanya kamu mau bikin ikan kuah kuningnya papeda,” Mukti mengingatkan Ayya rencana bikin papeda dan ikan kuah kuning khas Ambon.
“Lukas mana mau papeda, nanti nggak doyan dia,” jawab Ayya.
“Eh aku doyan papeda,” kata Lukas cepat.
“Itu kan makanan khas dari Maluku. Tak jauh-jauh lah kita biasa juga makannya.” Lukas memang ibunya Manado sehingga dia terbiasa dengan makanan yang seperti itu.
__ADS_1
Sehabis makan siang meja kembali dibersihkan oleh Bu Ikhlas dan Bu Pinem sehingga meja kembali bisa buat bekerja Ayya lagi.
Mukti, Ayya dan beberapa pegawai yang muslim melakukan salat berjamaah dulu sebelum kembali bekerja.
“Lukas saya tinggal ya, kamu ditemani oleh Komang aja,” kata Mukti pamit kembali akan memahat.
“Mungkin Komang juga akan sibuk meneliti barang. Nggak apa apa kamu temenin dia, karena kami memang sedang sibuk hari ini. Maaf ya kamu datang tuh nggak tepat waktu jadi dengan terpaksa di sambi karena mereka bukan dari sini mereka datang memang khusus buat setor barang.”
“Ayo kita lihat barangnya,” kata Ayya.
__ADS_1
“Lukas aku sambi ya. Maaf banget, ini benar-benar waktu yang nggak tepat karena memang hari ini sudah terjadwal pekerjaanku agak penuh.”
“Jangan merasa bersalah begitulah, karena memang aku yang datang bukan di waktu kamu free. Aku seneng kok kamu masih mau nyambi aku sambil kerja aja aku senang,” kata Lukas. Karena dia jujur memang merasa senang ada teman.
“Ya sudah, ikut aku ke samping. Kita lihat barang,” kata Ayya.
Lukas memperhatikan bagaimana Ayya bekerja. Ayya meneliti semua detail barang yang diserahkan lalu dia buat catatan tiap detailnya dia tempel kertas di barang yang sudah dia cek dan diberi catatan. Semua Ayya cek satu persatu tak ada yang lolos dari pengamatannya itulah peran QC atau quality control.
“Mbak Komang ini minumnya,” kata Bu Ikhlas, rupanya dia yang mengantarkan sirup buat semua pegawai di tempat pemeriksaan termasuk juga Lukas. Khusus Komang ada satu botol jus yang bukan dari sirup karena Komang sedikit alergi dengan pemanis dari sirup.
__ADS_1
“Lukas maaf ya minum aku beda, bukan karena aku di spesialkan tapi aku alergi terhadap pemanis di semua sirup. Jadi aku nggak minum sirup. Kalau nggak disiapin air putih ya paling orang di dapur kasih aku jus begini. Kalau kamu mau jus ada kok, banyak stock, cuma masih beku. Karena kan memang aku keluarin itu tiap hari sesuai dengan kebutuhan aja.”
“Nggak usah, aku sirup juga senang kok. Kamu tuh dari tadi penuh rasa nggak enak, padahal biasa aja. Semua juga minumnya sirup kok. Kecuali semua sirup aku dikasih air putih atau teh itu kan aneh. Ini semua sama kok tenang aja. Aku ngertiin kalau soal alergi. Itu sama seperti ibuku. Ibuku sama sekali nggak bisa ada pemanis buatan,” kata Lukas.