
“Kamu serius mau resign hari ini juga?”
“Iya Pak. Sore nanti saya akan langsung berangkat ke Cilacap,” jawab Sri.
“Saya tidak bisa kasih surat rekomendasi cepat-cepat Sri. Saya juga mau pergi.”
“Enggak apa-apa Pak. nanti bisa dikirim ke email aja, bentuk fisiknya dikirim ke alamat yang saya kirimkan.”
“Ya sudah seperti seperti itu saja ya. karena saya juga mau pergi. Kamu tidak ada tunggakan kok. Jadi bisa keluar saat ini juga. Saya malah yang harus transfer gaji kamu 3 minggu ini.”
“Iya Pak. Enggak apa apa ditransfer saja,” kata Sri. Karena ini sudah masuk minggu ketiga. Belum waktunya gajian. Tetapi tetap aja hasil kerja 3 minggu tetap harus dibayarkan.
“Di bawah ada Komang Ayu Pak. Kalau Bapak sempat ketemu ya bagus kalau tidak ketemu tadi dia titip salam. Kan kami tidak tahu Bapak mau pergi,” kata Sri.
“Wah saya sudah terburu-buru, salam saja ya kalau memang di bawah saya tidak ketemu dia.”
“Iya Pak. Nanti akan saya sampaikan salam Bapak. Padahal dia mau ketemu Bapak lo, tapi di tahan teman-teman.”
“Pastilah teman-teman akan ngajak ngobrol dia dulu.”
“Iya benar Pak. Dia ditarik sana, tarik ke sini kok sejak tadi.
“Ya sudah saya berangkat ya. Kamu bagus masih sempat ketemu saya.”
“Iya Pak, terima kasih dan mohon maaf bila saya banyak kesalahan selama bekerja di sini.”
“Enggak Sri. Kamu bagus kok. Kerjaanmu dan tanggung jawabmu sangat bagus sama seperti Komang. Kalian memang dua gadis yang hebat.” Manager Cafe langsung pergi keluar. Dia baru saja diberitahu kalau ibu mertuanya kritis sehingga dia harus segera lari ke rumah sakit.
“Kamu sudah makan?” tanya Sri
“Nanti saja lah makan diluar. Atau kita beli di sini nanti aku bayar karena aku kan orang luar,” ucap Ayya.
“Masih bisalah masih makan disini pakai jatah aku. Kita bagi dua seperti dulu,” ucap Sri.
“Iya, aku kangen masa-masa itu. Saat aku di titik minus, tapi masih banyak saudara yang baik di sini.”
“Kalau kita baik kepada semua orang, pasti orang juga baik pada kita kok,” kata Sri yakin.
“Komang aku buatin ini buat kamu,” kata Dadang. Dia memberikan satu porsi cah cumi pada Ayya.
“Ya ampun kamu tuh, ngerepotin aja,” jawab Ayya.
“Enggak lah. Aku memang spesial masak buat kamu. Ayo kita makan bareng,” ajak Dadang.
“Tambah ini pasti enak,” kata Kusno. Dia rupanya membuatkan plecing kangkung spesial buat Komang yang asli Bali.
__ADS_1
“Wah terima kasih ya. Ayo kita makan bareng,” ajak Komang. Dia mengajak Kusno dan Dadang makan bareng bersama Sri.
Saat ini memang sudah lewat dari waktu makan karena sudah hampir jam 2. Tadi kan dari hotel mereka ke kamar kost dulu.
“Mau pesan apa Pak?” tanya seorang pegawai Cafe pada Mukti yang baru saja duduk.
“Kopi aja dulu deh,” jawab Mukti sambil matanya mencari di mana Komang Ayu berada.
“Maaf saya boleh tanya?” tak ditemukan sosok yang dia cari, akhirnya Mukti memutuskan bertanya pada pegawai cafe.
“Iya Pak, kenapa?”
“Tadi teman saya ke sini, namanya Komang Ayu. Apa masih di sini?”
“Masih Pak. Dia baru aja makan siang di belakang bersama dua orang pacarnya di sini,” jawab pegawai cafe itu.
“Pacar?” tanya Mukti, pasti panas hatinya.
“Iya kedua chef di sini dulu kan naksir berat sama Komang Ayu,” jawab pegawai cafe tanpa merasa bersalah. Dia tak memperhatikan wajah Mukti yang mulai tegang.
“Apa mereka pacaran? Bagaimana mungkin dengan dua orang sekaligus?” tanya Mukti.
“Enggak juga sih. Komang Ayu tidak menerima keduanya tapi juga tidak menolak. Jadi mereka tetap berteman baik. Ke belakang saja Pak kalau memang Bapak kenal baik dengan Komang Ayu dan Sri.”
“Tidak usah, saya nanti hubungi dia saja,” kata Mukti sambil langsung mengambil ponselnya.
“Iya Mas,” kata Ayya pelan.
“Kamu di mana?”
“Masih di cafe. Ini lagi makan sama teman-teman,” jawab Ayya jujur.
“Mas sejak tadi sudah di depan ya. Kamu lanjutkan makan saja,” jawab Mukti lega. Dia melihat Ayya jujur mengatakan sedang makan, sesuai dengan info yang barusan dia dengar.
“Sebentar ya aku ke depan,” kata Ayya. Sesaat setelah dia menutup telepon.
“Siapa itu yang menghubungi Komang?” tanya Dadang pada Sri.
“Bosnya, kan dia bilang mau jemput.”
“Bos kok manggilnya Mas?”
“Iya pemahat yang ke sini itu, namanya seniman ya kayak gitu lah. Semua pegawainya panggil dia mas kok bukan hanya Komang,” kata Sri menutupi kenyataan tentang kedekatan Komang Ayu dan Mukti.
“Loh kamu kok ke sini? Katanya lagi makan,” Mukti kaget melihat Ayya menghampirinya.
__ADS_1
“Iya baru mulai makan Mas di belakang. Mas ke belakang yuk, masak di sini sendirian,” ajak Ayya.
“Enggak Mas, sudah makan barusan dari hotel sama keluarga semuanya. Sekalian mereka semua check out.
“Tapi aku baru mulai makan Mas. Masih lama. ayolah ke belakang aja,” ajak Ayya sambil dia bawa kopi milik Mukti. Dia tarik tangannya Mukti agar mau ikut ke belakang bersamanya.
Semua melihat bagaimana kedekatan Ayya dengan Mukti. Ayya tak sadar menarik tangan Mukti dengan tangan kirinya dan tangan kanannya memegeng cangkir kopi pesanan Mukti seperti itu. Bahkan Mukti saja terpana Ayya menarik tangannya akrab seperti itu.
“ Eh pak Mukti. Ayo makan bareng Pak,” ajak Sri.
“Enggak Sri. Saya baru selesai makan. Kamu tahu sendiri kan saya keluar dari hotel sehabis makan siang dengan keluarga besar.”
“Mas kenalin ini chef di cafe sini. Dadang dan Kusno berkenalan dengan Mukti.
“Silakan teruskan saja makannya, saya duduk di sini,” kata Mukti dia mengambil tempat di sebelah Ayya karena meja yang mereka gunakan adalah meja panjang serba guna. Biasa juga digunakan untuk mempersiapkan menu.
“Cobain Mas,” Ayya mengambil cah cumi buatan Dadang. Dia kasih sedikit nasi di sendok yang dia gunakan untuk makan. Tanpa sadar Ayya melakukan hal itu, karena itu biasanya dia lakukan di studio.
“Mas masih kenyang,” kata Mukti.
“Iya cobain aja sedikit, nggak disuruh makan banyak. Cobain rasanya aja,” desak Ayya.
Mukti pun membuka mulutnya. Sri kaget melihat Ayya dan Mukti satu sendok bersama.
“Enak banget,” kata Mukti memuji cah cumi masakan Dadang.
“Iya memang kang Dadang yang bikin, memang dia jagonya masakan sea food.”
“Sekarang Mas cobain ini. Mas sudah biasa sama plecing Bali toh.” Ayya kembali menyuapi Mukti satu suap plecing kangkung.
“Wah ini beda banget sama yang biasa ya. Enak, ini enak banget,” kata Mukti memuji hasil masakan Kusno.
“Pantas ya Komang itu pintar masak, pasti dia nyuri ilmu kalian.”
“Komang itu senangnya minta resep dan belajar, selama di sini dia sering bantu masak,” kata Sri.
“Saya pernah makan plecing kangkung masakannya, rasanya juga hampir seperti inilah. Tapi tetap aja kalah sama suhunya. Suhunya tetap lebih enak.” puji Mukti.
“Awas ya besok di rumah makan masakanku,” ancam Ayya. Mukti pun tertawa mendengar ancaman Ayya.
“Pak Mukti bisa aja,” kata Kusno.
‘Jadi mereka berdua ini bersaing memperebutkan hatinya Ayya,’ kata Mukti menilai kedua kompetitornya itu.
‘Kedua-duanya muda, kedua-duanya aku lihat juga bukan orang berkekurangan dan kedua-duanya tampan. Tapi mengapa mereka enggak dibalas ya cintanya?’
__ADS_1
‘Aduh aku juga aneh jangankan mereka. Carlo yang ngetop dan sekelas Arjun yang kayak raja aja dia tolak,’ kata Mukti lagi sambil menyesap kopinya. Dia mendengarkan mereka berempat ngobrol.
Rupa Sri belum pamitan pada semua temannya, dia baru pamitan pada Kusno dan Dadang saat itu. Tentu saja keduanya kaget tak percaya kalau ternyata hari ini adalah hari terakhir Sri kerja di situ dan sore ini akan langsung berangkat ke Cilacap.