
“Wah ada perkembangan baru nih, kamu jadian sama majikanmu,” cetus Arjun. Niatnya hanya menggoda Komang, tapi membuat Ayya meradang.
“Sebelum kamu menyatakan cinta kamu. Dia sudah menyatakan lebih dulu kok, jadi enggak usah drama seperti itu.” jawab Ayya ketus walau tak teriak.
“Apa sejak awal aku kasih harapan ke kamu? Sejak awal kamu datang ke Solo kamu sudah tahu kan aku bilang silakan datang ke orang tua, tapi belum tentu aku terima. Apa aku salah?” kata Ayya geram.
“Kamu yang bilang loh maunya jadi temenan, tapi kamu yang selalu ungkit-ungkit soal penolakan. Sampai kapan pun aku bilang, aku tidak mau jadi istrimu melihat kelakuan ibumu!”
“Silakan aja kamu coba satu atau dua orang perempuan jadi istrimu. Aku yakin enggak ada yang kuat. Kecuali istri pilihan ibumu sendiri.” kata Komang Ayu sambil meninggalkan Arjun. Dia langsung menghampiri tante Laksmi.
Arjun jadi tak enak sendiri. Kata-katanya rupanya menyakiti hati Komang Ayu. Tapi jujur dia tadi berucap spontan karena kaget melihat bagaimana kedekatan Komang Ayu dan bosnya.
Padahal kalau lihat kesehariannya waktu jam kerja di studio, Komang Ayu dan Mukti bersikap profesional. Ternyata di acara non formal seperti sekarang mereka berbeda.
“Komang Ayu,” sapa Carlo.
“Hai,” jawab Ayu ramah. Sri yang masih berdiri dekat Arjun langsung mendekati Komang Ayu begitu ada Carlo. Dia bisa dimarahin Mukti. Bukan karena Mukti sudah memberikan janji akan mencarikan pekerjaan tetapi sebelum bicara seperti itu pun tadi dia sudah berjanji akan memenuhi permintaan Mukti.
“Kamu kenal dia?” tanya Tante Laksmi.
__ADS_1
“Iya Tante, kami kenalan waktu di Bali dan pernah ke studionya Mas Mukti juga kok. Kemarin waktu akad nikah juga dia datang karena dapat undangan dari rumah sakitnya Om Ariel,” jelas Koamang Ayu.
“Oh begitu?”
“Iya. Tante kenalan aja,” kata Ayu.
“Kemarin anak-anak cerita bahwa mereka berfoto sama kamu. Makanya Tante kaget, ternyata benar seperti yang anak-anak bilang kalau Carlo itu temannya Mbak Ayu.”
“Ayu?” tanya Carlo.
“Di keluarga dia memang dipanggil Ayu,” jawab Laksmi.
“Benar Tante. Panggilan untuk seseorang itu memang spesial. Aku lebih senang memanggil Komang dengan nama CINTA. Karena buat aku, dia lebih dari segalanya,” kata Carlo tanpa malu-malu.
“Cinta kalau bertepuk sebelah tangan itu enggak ada gunanya,” jawab Tante Laksmi.
“Cinta itu harus berbalas baru bisa terjadi interaksi yang baik. Kalau hanya satu arah itu tidak baik akan melukai keduanya. Yang mencintai dan dicinta itu akan sakit. Jadi harus dua arah.”
Carlo mempelajari kata-kata itu.
__ADS_1
“Komang enggak salah? Pak Mukti langsung bereaksi seperti itu tadi, soal kerjaan yang kamu bilang,” Sri bicara pada Komang Ayu saat mereka sedang berdua mengambil asinan bogor.
“Kamu tahu sendiri kan dia tidak bisa dengar orang kesusahan." Jelas Komang.
"Semoga aja ada kerjaan untukku ya."
"Aamiiin. Semoga disegerakan."
“Seandainya aja kamu mau di Bali pasti bisa langsung, karena dia punya 3 galeri. Dia yang menentukan mau terima berapa orang pegawai.”
“Komang, aku berpikir biaya yang harus aku tanggung bila aku mendadak pulang seperti kamu kemarin. Kita enggak ada yang ingin terjadi sesuatu yang buruk di keluarga kita. Tapi kemungkinan itu pasti ada kan? Aku berpikir panjang seperti kamu kemarin. Kamu untung ada pak Mukti. Kalau enggak ada mau kayak apa kemarin nasibmu?”
“Iya juga sih,” Jawab Komang Ayu.
“aku yakin kalau di Surabaya dia pasti sudah punya tempat. Pasti itu di perusahaan mama Ambar. Tapi enggak tahu kalau di Solo. Karena Solo itu adalah perusahaannya papa Abu. Mungkin dia harus tanya papa Abu dulu. Kalau perusahaan ini Surabaya yang pegang tante Laksmi, milik mama Ambar.”
“Enggak apa apa lah aku di Surabaya juga. Asalnya enggak bayar kost dan keluar uang buat makan.”
“Semoga aja ada. Tenang aja, aku yakin pak Mukti akan berpikir mencarikan celah itu.”
__ADS_1