
“Oke Mama, Papa maaf Carlo aku kelamaan. Kayanya kita bisa mulai deh. Aku yakin semua nggak sabar dengan cerita aku,” kata Ayya.
“Sebentar kita sambil nunggu Mas Sonny gabung juga Adelia. Tadi Mama sudah hubungi mereka. Kita satu saluran saja di TV, ini Aksa sudah menyalakan. Mungkin bisa ke HP kalian masing-masing kalau kalian mau ikut dengan HP tapi kurang jelas.” Aksa menyalakan zoom di TV 60” di ruangan itu.
“Sekadar info saja Adelia bilang Sonny sudah menyelidiki dua mahasiswa yang menjadi korban Made dan Mukti. Korban tentu dalam tanda petik,” jelas Ambar.
“Mereka, maksudnya anak buahnya Sonny itu, menyelidiki apakah kedua perempuan tersebut benar-benar polos. Bagaimana track record mereka di kampus. Bagaimana keseharian mereka. Bagaimana orang tua mereka dan pokoknya semuanya. Karena setelah mendapat laporan bahwa kedua gadis tersebut, maaf kedua perempuan tersebut santai saja ada di lokasi tragedi, Sonny langsung menduga sama dengan Ayu. Tak mungkin seorang manusia mendatangi lokasi tragedi dengan nyaman terlebih itu perempuan.”
“Karena Wayan, Made maupun Mukti saja mempunyai perasaan tak enak, tak nyaman bila kembali ke cafe tersebut karena ingat tragedi yang mereka alami. Jadi sangat aneh kalau kedua perempuan tersebut malah beberapa kali terlihat makan siang dengan santai di sana seakan kejadian tersebut bukan beban buat mereka!” kata Ambar.
__ADS_1
“Jadi aku nggak perlu ke sana menyelidiki perempuan itu Ma?” kata Mukti.
“Enggak. Bisa-bisa kamu dijebak lagi kalau bertemu dengan mereka. Kamu selidiki Carlo dan Lukas saja karena itu juga penting. Kenapa Carlo menghubungi Ayya sejak tanggal kejadian. Sejak Ayya ganti nomor. Artinya kan ada hubungan dengan tragedi tersebut. Kalau tidak ada apa-apa tentu Carlo menghubungi Ayya sebelum Ayya pergi jauh dari rumah.”
“Oke kita akan mulai besok soal penyelidikan Carlo dan Lukas,” kata Ayya. Akhirnya Adelia dan Sonny tersambung di zoom meeting.
Ayya menceritakan bagaimana dia melihat mobil sport kuning yang mengikuti sejak mereka keluar dari tol jadi sehabis belanja keperluan penyamaran besok.
“Apa sebegitu bodohnya mereka menggunakan mobil yang sangat mencolok? Warna kuning itu enggak umum, dan kedua mobil sport bukan mobil umum yang ada di jalanan kota Solo. Jadi terlalu bodoh mereka menggunakan mobil itu,” ucap Adelia.
__ADS_1
“Mungkin karena ketemunya tidak sengaja. Dia melihat kami ketika kami keluar dari tol bukan mereka mengikuti kami dari sebelumnya. Jadi tentu tak siap dengan kondisi mobil yang harusnya pakai mobil biasa-biasa saja atau paling tidak dengan taksi sehingga tidak mencolok,” ungkap Ayya.
“Benar penilaian kemungkinan yang Komang berikan itu benar,” kata Made.
“Lalu sehabis itu aku mulai sadar saat dia ikut masuk ke resto tempat kita makan. Aku dan Mas Mukti pesan makanan juga minuman tetapi sebelumnya tentu Mama dan Papa semua tahu kami sudah menghubungi kemungkinan terburuk. Kalau tidak seperti itu mungkin nasib kami beda,” ucap Ayya.
“Untungnya Mbak cepat sadar ya Mbak,” kata Aksa sambil menyeruput kopi miliknya.
“Ya aku sangat takut bila kami pingsan lalu orang-orang itu akan bilang mereka teman kami dan akan membawa kami pulang atau akan membawa kami ke rumah sakit. Karena mereka mengaku teman pasti orang di cafe tidak akan curiga dan membiarkan kami di bawa.”
__ADS_1
“Selama makan nggak ada kendala. Aku sama sekali nggak ngerasa pusing atau ngantuk. Mas Mukti bagaimana Mas?” tanya Ayya.
“Sama Yank. Kan kita nggak ngerasain apa-apa sampai selesai makan. Saat aku mulai minum lemon tea, mulai terasa ngantuk yang super-super ngantuk. Itu yang bikin aku langsung hubungi Papa untuk kirim orang. Untungnya masih keburu mereka datang sebelum aku dibawa oleh kedua orang tersebut.”