
“Mas minta maaf ya sama kalimat yang Mas ucapkan tadi malam. Eh tadi pagi,” begitu ucap Mukti semalam di kamar tidur Ayya di rumah Ariel.
“Enggak ada yang perlu dimaafin kok,” balas Ayya saat itu.
“Tapi kamu kan marah, artinya Mas salah kan? Buktinya kamu langsung matikan ponsel,” bantah Mukti.
“Habis baterainya,” Ayya membuat alasan yang paling umum
“Enggak mungkin habis, saat mau keluar kamar kan hp-mu baru selesai dicas,” jawab Mukti. Rupanya lelaki itu memperhatikan tadi pagi saat akan keluar kamar Ayya baru mencabut kabel charger miliknya.
“Kan aku udah bilang dia mau tidur.”
“Berarti kamu marah kan? Atau karena kamu jalan sama Carlo jadi kamu sengaja matiin ponsel biar enggak aku ganggu?” mas Mukti mulai posesif.
“Enggak ada hubungannya sama Carlo koq. Aku hanya kebetulan ketemu enggak janjian juga. Dia aja kaget bisa ketemu lalu sampai nemanin aku belanja. Dia enggak komplain kok nemenin aku belanja.”
“Emang Mas pernah komplain nemani kamu belanja? Ke pasar pun kan Mas ikut enggak pernah komplain.”
“Terus habis belanja, kamu ke mana?” selidik Mukti.
__ADS_1
“Makan aja sih. Habis makan pulang.” jawab Ayya jujur.
“Jadi kencan dong ya?”
“Boleh dibilang kencan, boleh bilang enggak, karena makannya berempat. Kalau berdua tuh baru kencan,” jawab Ayya.
“Kalau dibilang sengaja ketemuan itu salah besar! Karena kan aku enggak niat ke mall itu. Aku cuma niat ke supermarket depan. Yang ubah rencana tiba-tiba kan Tante Vonny, bukan aku.”
“Dan aku memang ingin cepat pulang, bukan nongkrong di mall. Aku punya planning mau bikin puding juga isi burger. kalau nongkrong di mall, terus aku pulang capek, Kapan bikinnya?”
“Ya sudah Mas yang minta maaf atas nama mereka terutama mama. Karena dia enggak tahu bakal pergi ke mall,” ujar Mukti.
“Ya enggak gitu juga lah. Jangan nyalahin diri sendiri karena kamu tidak suka dengan kegiatan orang lain,” balas Mukti. Dia malah jadi tak enak pada Ayya.
“Kalau aku enggak boleh nyalahin diri sendiri, ya sudah enggak usah dibahas lagi masalah tadi. Yang pasti memang aku kecewa. Tapi bukan karena ke mallnya yang aku bikin kecewa. Aku kecewa ada orang kok malah bilang aku have fun sama suatu hal yang tidak aku suka,” kata Ayya tanpa menyebut nama Mukti sebagai orang yang mengatakan hal itu.
“Iya maaf atas kata-kata itu. Mas lupa bahwa kamu tidak suka mall.” jujur kadang Mukti putus asa bila adu mulut dengan Ayya yang selalu saja bisa membuat dia kalah.
“Dimaafin, sekarang keluar aja. Jangan kelamaan di dalam kamar perempuan,” pinta Ayya.
__ADS_1
“Bilang dulu kamu maafin Mas.
“Iya,” kata Ayya. Mukti pun langsung keluar kamar tersebut.”
Itu yang Ayya ingat tadi malam bahwa Mukti memang sudah meminta maaf atas kata-kata have funnya. Tapi sehabis itu sejak pagi ini dia belum bicara lagi dengan Mukti.
“Ini kopinya Mas, lalu ini rotimu,” kata Ayya pelan.
“Terima kasih ya Yank,” jawab Mukti.
“Kalian berangkat jam berapa?” kata Ariel pada Mukti.
“Satu jam lagi Om,” jawab Mukti.
“Biar Om Yapie yang bawa ya,” ucap Ariel sambil menyesap kopi miliknya.
“Iya enggak apa-apa. Siapa aja yang nyetir. Enggak harus om Yapie,” jawab Mukti.
“Enggak. Om sudah nugasin Om Yapie buat antar kalian pagi. Sore antar Laksmi sama Aksa juga Om Yapie yang antar. Yang lain punya tugas masing-masing,” kata Ariel.
__ADS_1
“Baik Om, terima kasih,” jawab Mukti.