
“Gue nggak tahu, tiba-tiba gue bangun karena diguncang ama mahasiswa dari Jogja. Dia nangis sambil goncang badang bangunin gue. Gue nggak ngerti kenapa gue bisa ada di kamar sama dia. Padahal seinget gue kita lagi makan bertiga,” kata Made saat Mukti bertanya Made ada di mana.
“Sama, gue bangun juga ama perempuan, tapi gue yang bangun duluan,” kata Mukti.
“Lalu bagaimana? Gue nggak mungkin ninggalin Ayya dan gue nggak pernah mau nikahin orang yang baru gue ketemuin satu kali ini. Elo tahu kan gue nggak pernah kenalan sama ni cewek. Tiba-tiba gue harus nikahin dia NO WAY, walau dia hamil 7 anak kembar gue sekali pun, gue nggak akan pernah nikahin dia. Elo tahu kan keluarga gue cuma maunya Ayya. Bagaimana gue bisa nikahin perempuan seperti ini? Gue nggak bilang dia sampah karena gue juga nggak kenal siapa dia. Tapi yang pasti di keluarga gue dia nggak bakal mungkin diterima apa pun alasannya. Sama seperti Vio dulu. Mau apa pun alasannya entah itu nikah sama gue atau sama mas Sonny, dia enggak akan pernah diterima. Karena feeling mama itu pasti paling benar.
__ADS_1
“Sekarang Ayya nggak sama gue, gue yakin kalau Aksa minta dia nikah sama Ayya pasti mama akan kasih. Jadi buat gue nggak ada kemungkinan gue nikah sama perempuan ini,” kata Mukti tegas. Dia tak peduli kalau perempuan yang masih menangis itu mendengar kata-katanya.
“Kita harus bagaimana? Karena gue yakin kita dijebak oleh orang,” kata Made.
“Oke kita ketemuan. Gue nggak ngerti ini di mana, gue akan keluar dari kamar. Gue beres-beres dulu dan anehnya HP gue mati. Baru gue nyalain barusan dan gue sedihnya Ayya telepon gue. Dia ada di pameran padahal gue bilang gue ada di pameran. Itu yang bikin gue ama Ayya barusan ribut. Gue yakin sudah enggak ada maaf buat gue dari dia karena gue nggak pernah satu kali pun bohong sama dia. Buat kami cinta itu kejujuran. Nggak ada kebohongan dan itu tadi pertama kali gue bohong sama dia. Gue bilang gue di pameran itu saja dan itu fatal!” ucap Mukti sedih.
__ADS_1
“Sama, gue juga belum bisa hubungi Wayan. Kita harus bicara sama nih perempuan biar mereka tahu apa yang akan kita lakukan. Yang pasti gue nggak akan pernah mau lagi bicara dengan dia berdua. Gue nggak mau salah tanggap jadi kalau bicara sama dia harus ada orang lain dan gue juga nggak mau simpan nomor telepon dia. Gue nggak akan pernah hubungi dia. Kalau dia hubungi gue, gue yakin gue langsung akan bertindak. Karena gue udah bilang sama dia gue nggak akan pernah mau berhubungan apa pun. Jadi gue harap dia nggak hamil. Bego saja kalau sampai dia hamil sama orang yang enggak mau nikahin dia. Seharusnya dia tahu langkah apa yang diambil,” kata Mukti sambil memakai kaos kaki dan sepatunya.
“Cepetan beberes, kita mau keluar kamar kecuali kamu memang mau di sini terus,” kata Mukti pada perempuan tersebut yang dia sama sekali belum dia tahu namanya. Sampai saat dia keluar kamar dia belum tahu nama perempuan yang telah tidur sama dia.
”Elo di mana gue? sudah di cafe kemarin,” kata Made.
__ADS_1
“Iya ini gue baru keluar kamar. Gue ke cafe kemarin,” jawab Mukti. Di belakangnya diikuti perempuan yang masih saja menangis walau sudah berpakaian dan menyisir rambutnya.