CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
PACARKU MATRE


__ADS_3

“Mama makan dulu Ma,” Kata Ayya ketika melihat Ambar sudah keluar ruangan Mukti.


Ayya tak mau menanyakan apa rahasia Mukti yang membuat dia sakit. Ayya tahu diri semua itu tentu bukan kapasitasnya. Kalau Ambar cerita dia akan tampung, tapi kalau Ambar tak cerita dia tidak akan bertanya.


Ayya sudah tahu kalau hal yang membuat Mukti sakit pasti sangat besar artinya buat Mukti.


“Ayo kita makan bareng,” ajak Ambar.


“Aku kasih makan Mas Mukti dulu ya Ma,” pamit Ayya.


“Biarkan saja, dia kembali tertidur. Mungkin pengaruh obatnya cukup kuat,” jawab Ambar.


Akhirnya Ayya dan Ambar pun makan lebih dulu. Ayya dan Ambar sama-sama tak makan nasi karena mereka makan steak jadi hanya menggunakan french fries saja.


“Senangnya Mama makan steak daging cincang buatanmu. Barusan Mama sudah kirim fotonya ke Aksa dan dia ngomel-ngomel,” jelas Ambar sambil terus mengunyah.


“Kirim di grup keluarga aja Ma biar tambah heboh,” usul Ayya.


“Oh iya ya. Mama malah lupa,” ucap Ambar.

__ADS_1


Lalu foto itu dikirim oleh Ambar ke grup keluarga Lukito. Di sana ada semua warga Lukito termasuk Adelia dan Ayya tentunya.


‘Ayu kamu harus ajarin aku,’ pinta Adelia.


‘Siap Kak, asal berani bayar aja. Harga belajar sama chef itu mahal loh,’ jawab Ayya.


‘Pacarku matre,’ kata Aksa.


‘Wajar matre, buat beli lipstik. Habis pacarnya nggak ngasih duit,’ balas Ayya.


Mereka terus bercanda di situ. Tidak ada Mukti karena Mukti sedang teler obat dan dia juga tidak pegang ponsel sejak tadi.


“Ma sepertinya aku udah harus bangunin mas Mukti. Nanti dia telat makan lagi,” ucap Ayya.


“Sebentar ya Mas. Tungguin yang bantu ke kamar mandi,” Ayya pun langsung miscall pegawainya yang langsung lari ke ruangan Mukti.


“Harusnya nggak usah panggil orang. Mas bisa sendiri kok,” kata Mukti protes.


“Aku bukan ngerendahin kamu. Hanya antisipasi Mas. Kalau kamu jatuh kan aku juga yang sedih,” kata Ayya.

__ADS_1


Mukti hanya tersenyum tipis. Dia tahu apa yang dikatakan Ayya benar adanya. Bukan hanya manis di bibir.


“Terima kasih ya Pak,” kata Ayya ketika para pegawai sudah kembali membantu Mukti untuk duduk di ranjangnya.


“Maem dulu ya mumpung buburnya masih hangat steaknya juga hangat kok,” kata Ayya.


“Aku kepengen pakai kentang,” pinta Mukti.


“Lebih baik Mas makan bubur dulu ya. Nanti aku ambilin kentangnya aku goreng baru soalnya kentang yang digoreng sudah habis. Tadi aku habisin sama mama berdua. Sekarang Mas maem ini dulu. Nanti aku ambil lagi bila sudah matang. Ini aku suruh bu Pinem bikin,” kata Ayya sambil mengirim pesan pada Bu Pinem.


Tanpa banyak menolak Mukti pun makan apa yang disuapi oleh Ayya.


Ayya melihat suhu tubuh Mukti sudah mulai turun.


“Kata kak Adel, kalau sudah turun begini interval minum obatnya diperpanjang,” kata Ayya.


“Sudah berhenti aja obatnya nggak apa-apa kok. Mas sudah banyak minum pasti sebentar lagi sembuh,” jawab Mukti.


“Iya satu kali ini lagi ya. Nanti habis makan minum obat lagi habis itu kita tanya lagi ke Adel. Mas dipanggilin dokter di sini nggak mau,” kata Ayya.

__ADS_1


Memang sejak kemarin Mukti tak mau dipanggilkan dokter untuk diperiksa langsung. Jadi hanya Adel yang memberi petunjuk tentang penanganan Mukti.


‘Semoga aja dengan datangnya mama kamu cepat sembuh Mas,’ kata Ayya sambil memberi gelas berisi air putih. Tentu saja semua itu hanya di batinnya. Ayya tak ingin bicara apa pun soal penyakit Mukti juga soal pembicaraan dengan mamanya. Pasti ada suatu hal yang tak boleh diketahui oleh siapa pun termasuk dirinya yang bukan siapa-siapa lelaki itu.


__ADS_2