CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
MEET KUSNO AND DADANG


__ADS_3

“Mas aku ambil barang dulu di kamar ya, aku mau langsung berangkat,” pamit Ayya pada Mukti.


“Biar aku aja yang ambil barang di kamar. ‘Kan sudah selesai kita packing semua, cuma satu tas gitu aku bisa kok. Enggak ada lagi yang tertinggal kan? Tadi sudah kita cek semua sebelum kita sarapan,” kata Sri memberi kesempatan Komang bicara dengan Mukti.


“Ya sudah Sri, kamu saja yang ambil barang biar Komang di sini sama saya,” kata Mukti.


Mukti ini paling pintar. Bicara sama teman-temannya Ayya dia akan sebut Komang. Kalau bicara dengan keluarganya dia selalu akan bilang Ayu, tapi untuk dirinya sendiri dia akan menyebut yank atau Ayya.


Ayya pun memberikan kunci kamar kepada Sri.


“Enggak apa-apa ya Mas enggak anterin kamu ke cafe?”


“Enggak apa-apa kok. Lebih bagus lagi kalau enggak dijemput. Jadi aku enggak ngerepotin. Aku bisa pulang sendiri kok ke rumah kak Adel. Aku tahu alamatnya,” jawab Ayya.


“Enggak bisa, kamu harus dijemput,” tegas Mukti.


“Aku mau bantuin Sri buat beres-beres barang. Sore ini dia langsung mau pulang ke Cilacap karena minggu depan sudah harus ada di Solo.”


“Kan bisa ke kamar kostnya pagi sebelum kamu ke Cafe. Jadi ke cafe sudah beres barang di kamar kost, tinggal berangkat.”


“Iya niatnya juga begitu. Maksud aku, aku mau mengantar Sri dulu ke terminal karena Sri berangkatnya naik bus.”


“Ya nanti Mas ikut kok kita antar Sri bareng-bareng kamu,” jawab Mukti.


“Kan enggak bisa. Mobilnya cuma bisa untuk dua orang.”


“Mas ikutin taksi kamu. Yang penting di terminal kamu enggak turun sendirian.”


“Aku kan berdua sama Sri?”


“Sudah enggak usah ngeyel,” jawab Mukti. Dia tahu Ayya sengaja memancing dirinya untuk marah.


Ayya pun di diam.


“Kamu seriusan pulang sore ini?” tanya Ayya di taksi.


“Serius. Seribu rius malah,” jawab Sri yakin.


“Berarti kita langsung beli kardus, lakban, dan tali rafia.”


“Buat apa?” tanya Sri bingung.


“Apa kopermu cukup buat masukin baju-baju dan barang-barangmu? Kalau enggak, kan butuh kardus,” jawab Ayya menerangkan apa kegunaan barang yang dia sebut tadi.


“Iya sih.”

__ADS_1


“Ya sudah kita mampir dulu beri beli kardus rokok yang besar dan tebal itu, juga lakban dan tali rafia.”


Ayya dan Sri langsung membereskan barang-barang. Sri lapor ke ibu kost bahwa sore nanti dia akan pamit.


“Loh ini belum akhir bulan lho Sri. Kamu sudah bayar kan untuk bulan ini dan bulan depan?”


“Enggak apa-apa Bu. Memang saya mendadak akan pindah kerja ke Solo. Baru semalam saya diberitahu dan minggu depan saya harus sudah di Solo. Sehingga saya ingin pulang dulu ke Cilacap memberitahu orang tua saya.” Jelas Sri pada ibu kost


“Baiklah,” kata ibu kost.


“Semoga kamu sukses di tempat baru ya,” doa ibu kost tulus.


“Aamiiin Ibu. Matur nuwun,” kata Sri.


“Kamu bagaimana Komang?”


“Alhamdulillah saya baik Bu, pekerjaan saya juga bagus,” jawab Ayya.


“Malah saya dapat kerjaan baru dari bosnya Komang kok Bu.”


“Oh begitu, kalian memang sangat baik ya hubungannya.”


“Iya Bu. Sayang Sri tidak mau ikut kerja di Bali sama saya. Jadi dia dapat kerja yang di ibunya majikan saya yaitu di Solo.”


“Iya Ibu. Insya Allah itu akan selalu kami lakukan.”


“Sri ingat ya jangan katakan pada semua orang bahwa kamu dapat kerja dari aku. Nanti semua pada minta bantu. Aku enggak enak sama pak Mukti. Kalau bukan kamu aku juga enggak akan mungkin minta kerjaan ke dia. Aku punya kuasa apa minta kerjaan?”


“Aku juga tahu kok. Karena kamu aku diterima oleh ibu Ambar. Kalau enggak teman kamu enggak mungkin dia mau terima orang lain.”


“Makanya kita kan sama-sama saling menjaga kepercayaan jangan sampai semua orang minta pekerjaan sama aku. Aku ini punya apa sih? Aku enggak enak kalau permintaan aku tak di gubris oleh mama, papa atau mas Mukti seperti respon mereka sama kamu.”


“Iya aku mengerti kok.”


“Komaaaang,” teriak beberapa teman melihat Komang Ayu dan Sri datang bersamaan.


“Wah kalian benar-benar janjian ya?”


“Kebetulan kakaknya bos aku kemarin nikahan dan aku undang Sri. Jadi sekarang aku ke sini deh.” jawab Komang sambil menyalami beberapa temannya.


“Kamu makin hebat aja,” kata seorang teman melihat penampilan Ayu yang bajunya sudah beda.


“Aku tetap sama seperti dulu, enggak ada yang berbeda. Tanpa kalian aku ini apa sih? Kalian yang banyak membantu aku saat aku susah di perantauan.” Komang Ayu tetap humble seperti dulu. Tak ada yang berubah dalam dirinya.


“Jadi kamu sekarang di Bali atau di Jakarta?” tanya seorang teman lagi.

__ADS_1


“Posko aku di Bali tapi aku sering pergi ke Jakarta atau ke Solo tergantung kegiatan Bos.”


“Kamu memangnya kerja sebagai apa?” tanya teman yang lain.


“Aku pembantu pribadi aja sih. Jadi ke mana Bos pergi ya aku ikut nyiapin semua keperluannya,” Ayya tak mau mengatakan ASISTEN PRIBADI, dia sengaja menyebut dirinya pembantu pribadi. Karena bila dia menyebut asisten pribadi teman-temannya akan memandang dia terlalu tinggi.


“Bukannya kamu ada di galerinya pemahat yang waktu itu datang menolong kamu?”


“Awalnya juga begitu, aku di galerinya. Tapi pas kebetulan dia butuh pembantu pribadi dan aku yang ditugaskan, jadi aku selalu ikut dia. Makanya sekarang aku ikut ke Jakarta karena kebetulan dia sedang menghadiri kakaknya menikah.”


“Komang?” sapa Kusno dengan mata berpijar.


“Hai Kus. Apa kabar?” kata Komang Ayu tetap ramah.


“Kamu makin cantik aja,” puji Kusno.


“Sama aja kok. Dari dulu juga kayak gini,” jawab Komang Ayu.


“Enggak ah beda banget. Dari dulu kamu cantik dan sekarang kamu makin cantik.” jawab Kusno.


“Sudah ah enggak usah ngegombal,” Komang lalu masuk ke bagian belakang, dia menyalami semua teman.


Ada beberapa orang baru yang dia belum kenal dan Komang langsung kenalan.


“Komang, aku ke kantor dulu ya,” pamit Sri.


“Iya, aku tunggu di sini aja sambil ngobrol dengan yang lain,” jawab Komang. Dia berniat nanti saja menyapa manager cafe.


“Wah ada tamu jauh rupanya,” kata Dadang yang baru datang karena dia masuk siang.


“Hai apa kabar?” kata Komang ramah.


“Alhamdulillah cukup baik. Cuma cukup baik karena kangen sih sama kamu,” jawab Dadang di depan Kusno. Sejak dulu mereka memang berseteru memperebutkan Ayya.


“Halah bohong, Dadang sudah punya pacar kok,” kata Kusno.


“Siapa bilang? Itu bukan pacar kali,” bantah Dadang ketus.


“Bukan pacar tapi dipepet terus tiap hari ya?” kata seorang teman lain menimpali obrolan Kusno dan Dadang.


“Enggak juga kok. Siapa yang mepet dia? Jangan dibalik-balik gitu deh aku yang dipepet kali,” bantah Dadang lagi.


Memang ada anak baru yang selalu mepet Dadang. Bukan karena status dia sebagai chef. Tapi anak itu tahu Dadang anak orang kaya. Itu yang Dadang benci, dia tak mau dilihat karena harta kekayaan orang tuanya. Dia ingin dilihat karena kemampuannya dia.


Tapi banyak perempuan yang mencari harta bukan mencari siapa lelaki yang akan jadi imamnya itu perbedaannya dengan Komang Ayu dan Sri dengan perempuan yang mengejar Dadang.

__ADS_1


__ADS_2