
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Mbak, aku mau itu dong,” pinta Aksa pada Ayya, saat ini makan malam pertama di rumah baru. Tadi sore semua kasur sudah datang. Jadi malam ini sebenarnya kalau mau mereka sudah bisa tidur di rumah baru. habis makan malam Bu Parman akan mengambil sprei agar kasur bisa diatur. Tempat tidur sudah datang lebih dulu.
Aksa belum mau pindah malam ini karena dia masih mau belajar jadi tidak mau ngurusin kamar lebih dulu besok aja katanya.
“Ini Dek?” tanya Ayya.
“Iya,” jawab Aksa sambil menerima piring yang disorongkan Ayya.
“Suka banget ya?” tanya Ayya lagi.
“Kayanya kok enak, padahal aku sebenarnya enggak terlalu suka. Entah Papa tadi ngidam jadi aku kepingin.” kata Aksa. Rupanya yang dia minta tadi adalah sate padang yang jadi keinginan Abu malam ini.
Mukti di ujung sana hanya melihat keakraban Aksa dan Ayya.
“Eyang mau nambah?” tanya Ayu pada Angga yang duduk sebelah Aksa.
“Kayanya cukup deh,” jawab Angga.
“Kamu makannya kenapa sedikit?” tanya Angga pada Ayya.
“Ini sudah banyak loh Eyang. Aku memang makannya cuma segini. Bukan takut gemuk, tapi memang perutku enggak sanggup nampung,” jelas Ayya.
“Kalau Kak Ayu gemuk aku tetap suka kok,” goda Aksa.
“Eh sorry Mbak ya bukan Kak? Jadi biar bisa bedain antara Mbak Ayu sama Kak Adel. Kalau Kak Adel enggak mungkin dipanggil mbak. Dia kan Ambon,” kata Aksa tentang kakak perempuan tercintanya itu. Sebelum Sonny jadian dengan Adel, Aksa lah kekasih Adel sejak Aksa TK.
“Dia malah bisa dipanggil MBAK karena kan sudah resmi jadi calonnya Pak Sonny,” balas Ayya.
“Berarti dia sudah jadi kebawa Jawa,” jelas Ayya lagi membuat Aksa tertawa mendengar argumennya Ayya.
\*‘Anak itu ternyata cepat akrab dengan yang umurnya enggak jauh, kalau ke aku aja susah banget akrabnya. Eh tapi dia ke Eyang juga deket ya? Lalu kenapa kalau ke aku dia jaga jarak?’ \*Pikir Mukti sambil makan tapi terus melirik ke arah Ayya.
“Ayu, Kamu tambah makannya,” perintah Ambar.
__ADS_1
“*Sampun* Bu, **sampun** ( sudah atau cukup ),” kata Ayya.
“Kok ibu?” protes Ambar.
“Eh maaf Ma, sampun. Maaf Ma, aku belum biasa,” Ayya meralat kalimatnya.
“Harus dibiasakan,” kata Abu.
“Kita ini semua satu keluarga. Mulai sekarang kamu juga enggak boleh panggil saya bapak,” Abu menegaskan kalau Ayya harus masuk dalam keluarganya.
“*Injih*,” kata Ayya, dia jadi serba salah.
Bu Parman hanya tersenyum, dia juga ikut makan di situ, dan sudah terbiasa terhadap sikap keluarga majikannya ini.
“Mbak Ayu, habis ini ikut ibu yuk. Kita ambil sprei,” ajak Bu Parman. Mereka sedang membereskan meja makan sehabis selesai makan malam.
“Wah saya cuci piring aja Bude,” jawab Ayya menolak ajakan bu Parman.
“Mboten usah Pakde, biarin saya yang cuci piring,” tampik Ayya.
Benar, sehabis makan Ayya lalu cuci piring, dia tidak mau dibantu oleh Pak Parman.
“Sudah Pakde, biarin aku sendiri aja yang cuci. Nanti Pakde yang mengembalikan ke tempat-tempatnya. Aku belum hafal,” kata Ayya.
“Ya wis, mbak Ayu yang cuci piring Pakde yang beres-beres tempatnya,” jawab Pak Parman. Dia senang ada yang memanggil Pakde.
“Pakde bantuin taruh aja, aku takut salah tempatnya,” kata Ayya.
“*Nek salah nanti pontennya elek* ( kalau salah nanti nilainya buruk ),” goda pak Parman.
“*Wah nek ponten elek* enggak naik kelas Pakde,” jawab Ayya. pak Parman dan Ayya tertawa terbahak-bahak karena candaan mereka.
“Loh kalian kenapa enggak ngajak-ngajak ketawanya?” kata Angga yang hendak menaruh gelas bekas air putih miliknya.
__ADS_1
“Ini lho Pakde Parman memang paling bisa ya Eyang. Dia paling senang godain aku,” kata Ayya.
‘*AKU*?’ kata Mukti dalam hatinya.
‘*Sedang dia bicara kepadaku selalu menggunakan kata SAYA*,’ batin Mukti lagi.
‘*Nih anak maunya apa sih? Bikin aku penasaran aja*,’ ujar Mukti dengan kesal dalam hatinya.
Habis cuci piring Ayya langsung masuk ke kamarnya dia langsung membuat rekapan hasil pertemuan tadi. Ayya juga membuat notulennya sehingga apabila nanti Mukti membutuhkan dia tinggal mengirimkan ke emailnya Mukti atau dia share menggunakan share it atau bluetooth ke laptopnya Mukti.
”Iya kenapa?” tanya Ayya. Dia mendapat telepon dari Arjun.
“Memang enggak boleh ya aku telepon kamu?” tanya Arjun.
“Ya enggak apa-apa sih telepon. Memang kamu sudah selesai kerjaannya?” tanya Komang Ayu.
“Sudahlah Komang, aku kan kerja sampai tadi habis magrib,” jelas Arjun.
“Kamu kerja di mana?” tanya Ayya.
“Aku kerja di toko batik. Aku ditempatkan di toko yang Jakarta, agen dari Solo ini. Jadi aku sering bolak-balik Jakarta ~ Solo.”
“Aku memang petugas yang di cabang Jakarta, tapi kadang beberapa persoalan membuat aku harus datang ke Solo. Ke pengrajin maupun ke pabriknya.” jelas Arjun.
“Jadi kamu enggak pernah pulang ke Badung?” tanya Ayya.
“Kalau pas aku libur, aku kadang pulang juga sih,” balas Arjun.
”Wah hebat ya kamu sudah jadi bos,” kata Ayya.
‘*Wah dia lagi pacaran*,’ kata Mukti yang lewat di depan kamar Ayya. Sebenarnya Mukti hanya ingin menaruh gelas bekas kopinya tapi tak sengaja dia mendengar Ayya sedang menerima telepon dari seseorang menggunakan bahasa Bali. Sedang saat bicara dengan Wayan papanya saja Ayya tak menggunakan bahasa Bali. Mukti langsung menduga yang sedang bicara dengan Ayya adalah Arjun.
Mukti langsung keluar dia merapikan kamarnya. Mukti memasang sprei juga membereskan baju-baju yang dia punya, karena semua barang dia dari rumah kontrakan sudah dibawa ke sini. Malam ini dia dan eyang Angga yang tidur di sini. Aksa beserta Abu dan Ambar masih pulang ke rumah kontrakan lama.
Tadi Abu dan Ambar yang membereskan kamar eyang Angga sehingga kamar eyang Angga sudah bisa ditidurin. Walau barang lain belum semuanya beres, tapi setidaknya sudah enak untuk buat tidur.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE yok.
__ADS_1