CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
TAK PERLU SHARE LOCK


__ADS_3

Ayya memperhatikan ponselnya dia ingat empat hari lalu Lukas sudah memberitahu kalau dia telah berada di Solo dan minta Ayya memberitahu kalau sudah tiba di kota ini agar mereka bisa ketemuan. Tapi Ayya tak mau memberitahu sekarang. Dia ingin istirahat dulu dua hari baru memberitahu Lukas keberadaannya. Tentu Ayya ingat pembicaraannya bersama Mukti dia tak akan mau bertemu Lukas kalau hanya sendiri. Mungkin nanti Lukas bisa memanggil Carlo dan mengatur sesuatu yang tak dia inginkan. Kalau dia bertemu Lukas harus bertemu bersama dengan Sri atau orang lain lagi. Ayya  tak mau masalah Abu terulang karena malam itu Mukti menceritakan bagaimana jebakan Witri pada Abu.


Hanya karena kasihan, Abu mengantar pulang Witri. Lalu terjadi hal itu. memang saat itu papa  dan ibu tidak melakukan hal apa pun. Tapi kan tidak ada yang tahu, sehingga akhirnya Abu diminta pertanggungjawaban. Obat yang diberikan ke papa Abu bukan obat perangsang, tapi obat tidur untuk berhalusinasi.


“Oke, besok pulang tutup kantin aku akan ke rumahmu.” kata Sri menjawab pesan yang barusan Ayyu kirim. Memang barusan Ayya pegang ponsel hanya untuk mengabari Sri kalau dia sudah tiba di rumah Ambar. Ayya juga sudah kirim sharelock. Tapi Sri tak membalas pesan, dia langsung menelepon Ayya.


“Enggak perlu share lock lah, aku sudah beberapa kali ke rumah bu Ambar kok ,” kata Sri.


“Ya wis aku tunggu besok sore ya. Sekarang aku tutup dulu karena mau makan siang,” Ayya tak bisa ngobrol lama dengan Sri.


“Enak banget mangutnya Ma. Aku suka banget,” kata Ayya saat makan siang.  Ambar membuat mangut lele, pastinya ada tempe goreng dan sambel.


“Eyang sehat kan?” tanya Ayya disela makan siangnya.

__ADS_1


“Alhamdulillah sehat. Kemarin habis cek lab. Semuanya bagus. Cuma ya itu, sekarang jadi sering capek,” jelas Angga.


“Kemarin selain dari dokter, dikasih suplemen sama Adele begitu tahu eyang mudah cape,” jelas Angga selanjutnya.


“Eh kak Adel sudah pindah ke Jogja kan?” tanya Ayya. Karena di grup kemarin Ayya kurang menyimak.


“Kan di grup sudah dibahas? Minggu lalu mereka sudah pindah ke Jogja,” kata Angga.


“Iya kak Adel dan Mas Sonny sudah pindah ke Jogja minggu lalu,” kata Mukti.


“Kapan ya Mas aku main ke Jogja?” kata Ayya dia belum pernah ke kota itu.


“Nanti aku atur waktu lah sama Sri. Kami main ke Jogja, juga ke Cilacap tempat asalnya Sri,” kata Ayya.

__ADS_1


“Kalau mau ke Jogja nanti sama Mama saja,” jawab Ambar.


“Sama aku saja lah. Ngapain juga sama Mama. Biar saja aku sama Ayya main ke Jogja. Kami akan naik Prameks seperti waktu kita jalan-jalan sama Farhan dan Fahri,” kata Mukti.


Angga hanya senyum-senyum, dia ingat bagaimana sulitnya dia dan Aksa mengatur agar kedua pasangan ini jadian. Bukan Mukti-nya yang nggak mau tapi saat itu Mukti-nya yang ragu menyatakan perasaannya sehingga harus membuat Aksa yang maju biar Mukti cemburu.


Angga juga sudah tahu proses pertunangan mereka di dalam kamar di rumah Ariel waktu itu.


‘Besok kan hari Jumat, aku belum mulai aktif di pertemuan untuk persiapan pameran. Apa aku bawa Ayya ke Jogja ya?’ pikir Mukti.


‘Tapi kalau hari Jumat itu kepotong sama jumatan, nanti dia nungguinnya lama. Buang waktu nunggu aku jumatan. Sedang hari Sabtu dan Minggu pasti dia dikuasai oleh Sri dan mama juga Aksa dan papa. Nggak mungkin kalau aku bawa dia hari Sabtu atau Minggu.’


‘Nanti aku geser pekerjaanku hari Senin. Aku akan bilang aku ready hari Selasa saja, sehingga Senin subuh sehabis salat aku bawa dia naik Prameks ke Jogja. Paling dia ingin tahu Malioboro dan kraton saja. Untuk selebihnya makan di lesehan seperti biasa. Terus apa ya? Ke pasar, ah pasarnya sama saja sama di sini. besok dia kan mau ke pasar  Klewer. Yang penting aku bawa dulu saja,’ kata Mukti dalam hatinya sambil menghabiskan makan siang mereka kali ini.

__ADS_1


__ADS_2