
Seperti yang Mukti katakan kemarin. Hari ini dia full libur dan benar-benar full tidur. Tubuh dan pikirannya sudah teramat lelah. Beberapa kali Ayya hanya membangunkan untuk makan dan minum suplemen serta salat saja.
“Belum bangun dia?” tanya Ambar.
“Belum Ma. Satu minggu ini dia full. Jadi sekarang benar-benar tepar. Dan kebetulan sekarang kan hari Senin, jadi nggak terlalu sibuk. Katanya kalau di pameran itu week end hari yang padat.”
Esoknya Mukti berangkat lebih dulu. Ayya bilang dia akan menyusul nanti sekalian antar makan siangnya Mukti. Ayya tidak ingin Mukti makan siang sembarangan. Jadi akan dibawakan makan siang juga jus dari rumah saja.
“Halo Sayank, kamu sudah datang?” kata Mukti dengan lembut saat melihat kekasihnya datang sambil membawakan tempat makan untuknya.
“Didatangi calon istri nih,” kata beberapa orang peserta pameran.
“Iyalah, sekalian antar makan,” Ayya menjawab dengan senyum.
“Kenapa harus disiapkan makan? Di cafe sini lengkap dan murah koq,” celetuk peserta lain.
“Bukan soal harga. Lebih aman kalau disiapkan makan. Terjamin gizinya karena Pak Mukti kan kalau asal makan bisa bahaya.” jelas Ayya.
“Iya ya Mbak sekalian juga jadi tidak terkontaminasi. Kali saja ada yang usil kasih sesuatu di makanan Pak Mukti.”
“Kalau soal itu lillahi ta'ala ya. Saya hanya menyiapkan untuk kesehatan dia saja,” jawab Ayya.
“Maem dulu yuk. Sudah siang lho ini. Sudah lewat jam 01.00. Mas sudah salat?”
“Sudah. Kamu sudah? Mas enggak tahu kamu mau salat bareng,” Mukti pikir Ayya ingin salat bersamanya.
__ADS_1
“Habis salat Aku berangkat koq Mas,” jawab Ayya. Tentu saja sambil menyiapkan makanan Mukti.
“Ayo aku temani makan. Nanti kalau sudah selesai aku langsung pulang,” Ayya meminta Mukti makan dulu.
“Ya kamu jangan langsung pulang lah. Temani aku sampai agak sore. Nanti kita pulang bareng,” cegah Mukti.
“Apa Mas mau pulang cepat?” tanya Ayya.
“Ya nggak apa-apalah yang penting yang sudah janji sudah ketemu Mas. Masa Mas harus nongkrong sepanjang hari? Ya nggak bisa lah,” jawab Mukti.
“Halo, Komang,” sapa Wayan.
“Halo Kak. Apa kabar? Sudah makan belum?” tanya Ayya sambil mengulurkan tangan untuk berjabat dengan Wayan.
“Sudahlah. Memangnya Mukti yang harus nungguin calon istri nyuapin dulu,” kata Wayan dengan jenaka.
“Wah sedang asyik nih,” Made yang baru ikut nimbrung langsung menggoda Mukti.
“Mas Made kemarin ada I=ibu dosen dari Jogja. dia bilang ada 4 mahasiswinya di sini. Terus dia minta bantuan aku untuk bujukin Mas Mukti sebagai narasumber. Bagaimana kalau Mas Made saja sama kak Wayan yang jadi nara sumber?” Ayya langsung menodong Made tanpa berbasa basi dulu.
“Kalau aku sih no problem, tanya Wayan mau apa tidak,” jawab Made dengan senyum yang tersungging di bibirnya, dilengkapi dengan lesung pipi di sebelah kiri. Memang Made hanya memiliki satu lesung pipi.
“Wah aku nggak percaya diri kalau kasih penjelasan formal. Janganlah,” jawab Wayan.
“Cari orang lain saja,” timpal Mukti disela makannya.
__ADS_1
“Iya dari provinsi lain saja,” jawab Made.
“Jangan semuanya dari kita. Nanti dikiranya kita terlalu mendominasi mentang-mentang ketua panitianya dari Bali.”
“Wis dari Bali Pak Made saja. Deal. Akan saya hubungi ibu dosen tersebut,” kata Ayya.
“Ya oke nggak usah Mukti. Mukti sudah terlalu sibuk. Nanti malah nggak ter-cover kalau semua. Karena semua harus Mukti yang turun tangan,” kata Made.
Ayya langsung menghubungi Ibu Sumarni untuk memberitahu 4 mahasiswinya agar besok janjian dengan dia jam 09.00 untuk dikenalkan dengan narasumbernya yaitu wakil dari pak Mukti.
Tentu saja ibu dosen senang atas bantuan Komang Ayu. Walaupun tidak langsung dengan Mukti sebagai ketua panitia, tapi setidaknya orang yang ditunjuk oleh Mukti.
Besoknya jam 09.00 Ayya bertemu dengan Karenina, Ellyandri, Ningsih serta Ningrum.
“Yang mana yang Karenina?” tanya Ayya pada 4 orang gadis tersebut.
“Saya Karenina Bu. Ini Andri atau Ellyandri. Ini Ningsih dan itu Ningrum kata Karenina yang berambut pendek.
“Oke baik ya. Untuk seni pahatnya akan ditemani oleh Pak Made delegasi dari Bali. Untuk materi yang lainnya kalian cari masing-masing sendiri.” kata Ayya.
“Sebentar lagi Pak Made dan Pak Wayan akan datang nanti saya perkenalkan. Saya memang menjadwalkan beliau pukul 09.30,” jelas Ayya.
“Pak Wayan siapa Bu?” tanya Ningsih.
“Pak Wayan teman dari Bali juga. Tapi dia tidak menjadi nara sumber resmi. Nara sumbernya hanya Pak Made. Walau pak Wayan bisa ditanya sesekali.”
__ADS_1
“Baik Bu. Kami akan ingat dan terima kasih atas bantuan Ibu memperkenalkan kami dengan narasumber,” jawab Ningrum. Demi penghormatan profesi memang para mahasiswi itu menyebut Ayya dengan panggilan BU. Walau usia mereka sepertinya sama.