CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
RESEND


__ADS_3

Abu mengurus administrasi kepulangan Mukti. Semua surat tentang administrasi obat dan sebagainya sudah diurus oleh Adelia dari jarak jauh.


Mukti masih pasif seperti itu. Kalau untuk bicara tetap dia bicara seperti biasa. Tapi kalau untuk masalah yang bersinggungan dengan penyakit juga dengan Ayu dia tetap diam tak mau bicara apa pun. Keluarga Lukito memang benar-benar terpukul dengan kejadian ini Mukti benar-benar sangat berbeda jauh dari kesehariannya.


Kemarin Abu sudah bicara dengan Made dan Wayan untuk penutupan pameran nanti memang bukan tugas Mukti. Biasanya untuk penutupan adalah tugas wakil ketua panitia bila ketua panitia menugaskan. Jadi tidak masalah Mukti tidak hadir saat penutupan minggu depan dan semua panitia juga sudah tahu tentang kondisi Mukti yang sedang sakit. Sehingga mereka tidak banyak menuntut apa pun terlebih tugas Mukti sudah selesai.


“Om minta kalian menangani semua yang harusnya Mukti tangani ya. Sampai waktu kepulangan kontingen kalian ke Bali. Semua Om pasrahkan pada Made saja yang biasa bekerja sama dengan dia sejak SMA. Saat ini dia benar-benar depresi. Tidak bisa diajak bicara soal berat, terlebih soal Ayu. Om akan berusaha cari Ayu di mana pun agar masalah ini bisa selesai. Paling tidak, ada kata maaf dari Ayu. Kalau mereka tidak bisa kembali bersama, setidaknya itu bisa melepas sedikit rasa bersalahnya Mukti. Karena sekarang hanya maafnya Ayu yang bisa membuat obat buat dia,” kata Abu pada Wayan dan Made ketika kemarin mereka menengok Mukti.


Abu juga minta mereka selalu mensupport Mukti. Sebelum mereka kembali ke Bali diminta untuk sering-sering datang menemui Mukti di rumah.


Jadi total Mukti dirawat di rumah sakit itu satu minggu. Satu minggu lagi penutupan pameran. Lalu seharusnya dua minggu kemudian pembubaran panitia.

__ADS_1


Hari kedua di rumah Mukti masih tetap masih jarang  berinteraksi dengan semuanya Aksa sangat sedih melihat bagaimana kondisi kakaknya tersebut.


“Mas ini aku buatin kopi loh. Ayo kita sarapan dulu ajak Aksa hari ini hari Sabtu tentu saja Aksa tidak sekolah.


“Aku nggak ngopi, aku minum teh saja,” jawab Mukti. Bagaimana dia minum kopi hambar? Karena buatnya kopi yang bisa dia minum bila Ayya yang membuatkan. Walau saat darurat dibuatkan kopi kemasan yang tinggal seduh pun, kalau Ayya yang buatkan terasa berbeda.


“Baiklah akan aku buatin tehnya, tapi habis itu kita sarapan yuk. Tadi mama bikin bubur sumsum. Pasti enak banget,” ajak Aksa. Dia pun lalu ke dapur untuk membuatkan teh bercampur madu bagi kakaknya.


Mukti memang sedang duduk di teras belakang sehingga sarapan dibawa ke sana oleh Aksa.


Di ruang makan Angga maupun Abu sedih menatap teras belakang. Melihat Mukti yang seperti terpenjara di rumah yang terbuka ini.

__ADS_1


“Sudah Papa sama Mas makan dulu,” kata Ambar pada Angga dan Abu.


“Di mana ya kita bisa dapetin Ayu? Mukti seperti itu, kasihan banget,” kata Angga.


“Aku tiap hari Kirim pesan ke nomornya Ayu yang lama. Aku yakin suatu saat dia akan buka. Jadi kalau dia buka ada satu pesanku yang masuk karena pesan masuk kalau tidak dibuka kan juga expired,” kata Ambar.


“Kamu kirim pesan apa?” tanya Angga.


“Aku cuma bilang tolong datang satu kali saja untuk memaafkan Mukti. Kalau pun memang tidak mau meneruskan hubungan ya nggak apa-apa. Aku sudah ikhlas kok. Yang penting ada maaf untuk Mukti agar dia bisa melanjutkan hidupnya tak seperti saat ini.


“Hanya pesan itu yang aku kirim berulang-ulang. Jadi aku hanya resend tiap hari, tidak aku bikin pesan baru. Kecuali ada perkembangan lagi dari Mukti. Pokoknya selama dia kondisinya seperti itu ya aku hanya resend saja.

__ADS_1


__ADS_2