
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Pak Parman menjemput mereka di bandara, dia dan Mukti memasukkan semua barang ke dalam bagasi mobil. Eyang Angga duduk di depan. Ditengah duduk Ambar dan Abu sedang Ayu dan Mukti duduk di belakang.
“Bu, rumah sudah mulai tertata rapi. Semua kamar sudah siap ditinggali tinggal pengaturan dari Ibu dan Bapak saja,” lapor pak Parman.
“Ya sudah, kalau begitu kita mulai masuk rumah aja satu minggu ini. Semua malah bisa selesai sebelum berangkat lamaran ke Jakarta. Kita bisa mulai mengisi barang,” kata Ambar.
“Tapi aku satu minggu ini enggak bisa bantu ya Ma. Aku benar-benar full sibuk buat acara dari provinsi mangkanya itu aku pulang. Aku juga berharap bisa berangkat bareng kalian ke Jakarta. Kalau enggak ya aku nyusul. Yang pasti aku akan hadir di lamaran mas Sonny,” Mukti sudah memberitahu kesibukannya lebih dahulu. Dia tak enak tak bisa membantu mama dan papanya pindahan rumah.
“Iya Mama ngerti. Nanti kamu tinggal pilih yang mana kamarmu juga kamar Sonny dan Aksa sehingga kalian seperti di Bali dulu tetap punya kamar masing-masing. Walau sudah berumah tangga tetap aja punya kamar di rumah Mama,” kata Ambar.
__ADS_1
“Aku sih manut Mama aja lah, enggak ada yang berubah dari dulu. Semua terserah Mama,” jawab Mukti.
Ambar memang paling mengerti, sejak dulu Mukti tak pernah memilih. Dia akan diletakkan di mana tak akan komplain. Berbeda dengan Aksa yang selalu minta kamar dekat kamar Ambar. Entah kalau sekarang sejak dia mulai remaja. Mungkin dia akan minta tempat yang berbeda tidak seperti saat kecil dulu.
“Sudah Pak kalau gitu kita langsung ke rumah baru aja, biar besok kita mulai sedikit-sedikit beli barang buat isi kamar,” putus Abu.
“Ayu, ini kamar yang memang sudah lama siap. Kemarin Mama sudah minta bersihin ke pak Parman. Jadi kamu tinggal di sini dulu sementara ya? Di sebelahnya ada kamar pak Parman dan istrinya,” kata Ambar pada Ayu. Kemungkinan dia dan keluarga belum malam ini tinggal di rumah baru karena kamar mereka masih kosong.
“Baik Bu,” jawab Ayu.
“Kamu tidak boleh panggil Ibu, panggil MAMA seperti semua temannya Mukti. Semua teman Mukti panggil mama karena semua teman Mukti adalah anak Mama,” kata Ambar.
Ambar juga tahu bahwa ibunya Ayu baru meninggal sehingga dia tahu kesedihan Ayu.
Ambar senang bila punya anak perempuan yang berada di dekatnya. Dulu dia tidak dekat dengan Vio karena memang tidak mencintai dan tidak suka terhadap perempuan itu. Rasanya dia tak melihat ketulusan cinta Vio pada Sonny dan ternyata feelingnya benar.
__ADS_1
Tapi terhadap Adelia dia sangat suka karena Adelia itu apa adanya tidak pernah neko-neko dan dia juga melihat Ayu seperti itu. Ambar tidak melihat, atau belum melihat ada sinar cinta atau rasa sayang di mata Ayu terhadap Mukti putranya.
Sebaliknya Ambar melihat ada rasa ingin memiliki di mata Mukti pada Ayu!
Ayu langsung masuk ke kamar yang sudah dibersihkan oleh pak Parman. Dia menaruh travel bagnya lalu ke toilet menyegarkan diri sehabis perjalanan Jakarta Solo.
“Nanti kalau kamar tamunya sudah siap kamu akan pindah ke kamar tamu,” kata Abu ketika melihat Ayu sudah keluar dari kamarnya.
“Enggak apa-apa Pak. Saya di belakang aja tak perlu pindah ke kamar tamu di depan. Cukup di sini saja,” kata Ayu. Dia tentu tahu diri tak mau pindah ke kamar depan karena kamar yang dia tempati sekarang adalah kamar pembantu di belakang.
“Sudah nanti tunggu siap aja,” kata Abu lagi langsung mengecek bagian lain untuk dia minta tambah atau perbaiki pada tukangnya. Rumah ini memang telah siap pakai, tinggal finishing sedikit saja dan mengisi perabot tiap ruang.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
__ADS_1
yok.