
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
Pelan Mukti masuk ruang tamu rumah papa dan mamanya. Rumah penuh cinta dan dekap hangat keluarganya.
Tapi Mukti segera menghentikan langkahnya untuk masuk. Dari ruang tengah Mukti jelas mendengar eyangnya sedang marah pada papanya.
"Dimana Ambar?" Mukti mendengar suara eyang kakung bertanya entah pada siapa.
"Aku belum tahu Pa. Nomor Ambar dan Sonny sama-sama tak pernah aktif." Mukti mendengar papanya menjawab pelan tapi dia masih jelas mendengar semuanya.
"Sekarang apa yang akan kamu lakukan? Anak pela-cur yang sangat kamu cintai menikammu dengan sengaja membela tikus yang mengambil harta kita!"
"Kamu lebih mencintai Mukti yang kau kira benihmu dari seorang pela-cur daripada benihmu yang dari seorang ratu!"
"Andai dia benihmu, jelas dari seorang pela-cur kan? Mengapa kau malah lebih memberatkan dia padahal Ambar tak sekali pun membedakan dia dari Sonny yang anak kandungnya?"
"Kurang apa Ambar dimatamu? Dia masih mau menerimamu kembali setelah kau melakukan zina dengan pela-cur walau dengan alasan tak sadar!"
"Tapi kau malah menginjaknya dengan lebih mementingkan anak pela-cur itu!" Mukti mendengar eyang kakungnya sangat marah. Tak pernah Mukti mendengar hal itu sebelumnya.
"Kamu bodoh Abu. Untuk bisa punya Sonny saja kamu menunggu tiga tahun baru Ambar bisa hamil. Dan untuk dapat Aksa berapa tahun Ambar tak menggunakan kontrasepsi?"
"Dan kamu percaya pada bualan pela-cur yang hanya satu malam kamu tiduri lalu bisa hamil anakmu?"
"Selama ini aku diam saat Ambar mengeluh kamu memarahi dia karena Ambar menegur Mukti yang berbuat salah."
"Baru kemarin aku bilang pada papamu bagaimana tersiksanya Ambar. Tapi tak pernah satu kali pun dia perlihatkan luka itu pada ketiga anaknya."
"Semua anaknya hanya tahu dia bahagia menjadi istrimu!" Mukti mulai mendengar suara eyang putrinya.
"Kamu sendiri yang bilang Witri selalu berupaya menjebakmu. Kamu sendiri tahu Witri itu perempuan kotor. Dia bisa saja meneteskan darah ayam karena saat itu kamu tak sadar. Apa kamu ingat ada darah di batang pistolmu malam itu?"
"Aku menyesal meminta Ambar memelihara bayi Witri. Karena aku kasihan pada anakmu!"
__ADS_1
"Aku tak mengira kau terlalu mencintai anak pelacurr itu sehingga membedakannya dari Sonny!"
"Kamu yang salah membedakan mereka. Dan lihat sekarang. Anak sampah itu sama dengan ibunya!"
"Dia menginjak mukamu dengan mencarikan pengacara buat pela-cur yang dia cintai!"
"Dia lebih memilih pelacuur itu daripada ayah dan ibu kandungnya karena saat dia membela Vio dia pasti belum tahu kalau dia hanya anak sampah yang aku angkat agar dipelihara Ambar!"
Dan di ruang depan, Mukti yang ingin bertemu Abu jadi tahu mengapa selama ini Abu dan eyangnya tak tahu kalau dia bukan anak Abu.
Itu karena mamanya menyembunyikan fakta itu walau dia selalu dimarahi Abu.
Cinta Ambar adanya tak bisa dibayar apa pun. Cinta perempuan yang suaminya dijebak oleh ibu nya tapi tetap mau memelihara dia dengan tulus.
Mukti tak akan pernah bisa membalas cinta Ambar untuknya.
Pelan-pelan Mukti meninggalkan rumah itu. Rumah yang penuh cinta.
Mukti memang salah. Walau dia anak kandung Abu dan Ambar, sangat tak pantas dia mendukung Vio karena Vio adalah koruptor yang menggerogoti harta orang tuanya.
\*\*\*
Mukti sekali lagi menyesap kopinya. Dia bingung harus bicara apa dengan papanya nanti. Dia yakin kedua eyangnya masih berada di rumah papanya.
Tapi seperti yang Made katakan. Dia harus hadapi semuanya. Maka dia bersiap menuju rumah Abu kembali. Rumah yang selama ini tempat tinggalnya dengan penuh cinta.
\*\*\*
"Assalamu'alaykum," dengan suara bergetar Mukti memberanikan diri masuk ke rumah Abu yang seharusnya hanya pakde jauh bila berurutan dengan silsilah ibu kandungnya.
Para asisten rumah tangga tak berani menahan kedatangan Mukti dan selama ini memang tak ada printah melarang Mukti masuk ke rumah ini.
"Masih punya muka juga datang ke rumah ini," Menur yang biasanya super lembut menyambut kedatangan Mukti dengan kalimat sarkasnya.
Mendengar itu Mukti hanya diam. Dia lihat Airlangga menghampiri mereka dan Mukti segera melakukan salim pada Airlangga dan Menur.
__ADS_1
"Papa ada eyang?" Tanya Mukti dengan sopan.
"Aku tak tahu siapa papamu. Dan aku yakin ibu kandungmu sendiri tak tahu kau bibit siapa. Karena memang seperti itu karakter ibumu," Menur masih tak bisa tenang.
Rupanya puluhan tahun dia mendengar cerita Ambar yang sedih dimarahi Abu akibat pembelaan Abu untuk Mukti membuatnya sekarang sampai diambang batas kesabarannya.
Abu mendengar itu semakin terpuruk. Dia belum tahu keberadaan Sonny dan Ambar karena orang suruhannya di Bandung tak melihat keberadaan Sonny ada di Bandung.
Ada info anak sulung dan istrinya ada di Cikarang - Bekasi.
Di Jogja tak mungkin karena dia tahu rumah Sonny dipinjamkan pada teman Mukti yang membutuhkannya.
"Ada perlu apa?" Tanya Abu datar. Abu merasa sangat bodoh pernah sangat kasihan pada bayi yang ditinggal mati ibunya, sehingga dia menyayangi melebihi anak kandungnya sendiri.
Bayi yang akhirnya menikamnya karena berkhianat dengan Vio. Orang yang berniat mengambil semua kekayaan miliknya.
Mendengar suara papanya Mukti berdiri menghampiri dan memeluk lutut Abu. Mukti terisak disana.
"Maafin aku Pa. Maafin aku," pinta Mukti sambil terisak dan mencium lutut Abu.
"Apa dengan maaf dariku bisa mengembalikan hati istriku yang selama ini sudah aku lukai karena aku lebih menyayangimu daripada anak kandungku sendiri?"
"Apa dengan memaafkanmu, istri dan anak sulungku akan kembali ke rumah ini dan hidup damai penuh cinta seperti dulu lagi?"
"Aku yakin kamu tahu kamu bukan anakku. Itu sebabnya kamu dengan santai menikahi tunangan resmi anak sulungku yang seharusnya kamu sebut sebagai 'kakak kandungmu'.
"Benar seperti yang ibuku bilang. Kamu sama persis dengan ibumu. Kalau saat itu dia tak menjebakku, aku yakin dia akan menggugurkan kandungannya seperti Vio yang dua kali menggugurkan anakmu!"
"Aku tak tahu kamu anak keberapa dari ibumu!"
Mukti kaget kalau Abu sudah tahu Vio adalah istrinya dan sudah dua kali menggugurkan kandungannya.
"Apa yang harus aku lakukan agar mendapatkan maafmu Pa? Aku sungguh menyesal. Aku sadar semua harta itu seharusnya bukan milikku. Dan akan aku kembalikan. Tapi mohon maafkan aku Pa. Akan aku lakukan apa pun agar Papa dan semua keluarga mau memaafkan ku," Mukti terus memohon pada papanya.
"Papa bisa bantu aku?" Pinta Abu pada Airlangga. Dia tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi Mukti karena yang dia inginkan sekarang adalah bertemu Ambar.
__ADS_1