CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
RUJAK CINGUR


__ADS_3

Hari ini sejak membuat sarapan tadi Ayya sibuk di dapur. Tentu saja selepas sarapan Ayya masih sempat ngobrol dengan eyang Angga sebentar. Setelah itu dia kembali masuk dapur.


Ayya mulai akan masak. Baik persiapan makan siang maupun makan malam. Menu makan siang seperti rencana kemarin Ayya akan bikin RUJAK CINGUR. Tadi Ayya sudah minta bu Parman membeli lontong matang saja, jadi biar tidak repot. Rujak cingur itu bukan rujak seperti rujak buah tetapi merupakan campuran buah dan sayuran.


Rujak cingur adalah salah satu makanan tradisional yang mudah ditemukan di daerah Jawa Timur, terutama di daerah asalnya Surabaya. Dalam bahasa Jawa , kata cingur berarti "mulut" atau cengor dalam Bahasa Madura, hal ini merujuk pada bahan irisan mulut atau moncong sapi yang direbus dan dicampurkan ke dalam hidangan.


Rujak cingur biasanya terdiri dari irisan beberapa jenis buah seperti timun, bengkuang, mangga muda, nanas, kedondong, kemudian ditambah lontong, tahu, tempe, cingur, serta sayuran seperti taoge, kangkung, dan kacang panjang.

__ADS_1


Tentu saja Ayya membuat dua rasa pedas agar bila ada yang tak suka pedas bisa  makan dan tidak kelambakan. Mukti suka pedas tapi eyang Angga tentu sudah tidak kuat. Ayya  tidak menggoreng kerupuk tapi beli kerupuk yang memang sudah dijual di pasar. Kerupuk kampung yang memang enak dimakan dengan gado-gado atau rujak cingur kali ini.


Tentunya ada tambahan tempe goreng. Menu itu saja sudah ‘mewah’ menurut mereka. Mewah dalam artian kata bukan soal harganya, tetapi dalam cita rasa.


Ayya juga sudah langsung memasak iga sapi untuk dibakar nanti malam juga bikin gulai kambing pesanan mas Sonny. Sehingga nanti saat mau makan malam sudah tidak kelabakan, karena sudah matang tinggal dipanaskan atau dibakar saja. Tinggal menyiapkan plating agar tampilan menu menjadi enak dilihat menggugah selera orang yang memang hendak makan.


“Aku nggak pernah berpikir ini akan terjadi. Aku nggak pernah tahu bagaimana aku bisa mengalami segalanya dalam hidup ini. Kamu mengubah hatiku. Kamu mengubah gurun gersang menjadi taman indah karena oase-mu.”

__ADS_1


“Sejak pertemuan pertama aku menyadari bahwa ini sangat aneh. Aku bisa beku ditinggal Vio dan tak ada yang bisa menghangatkan, dan hatiku gersang tanpa setetes embun yang membuat menjadi subur. Kamu yang merubah segalanya. Kamu berbeda,” Mukti bicara sendiri melihat baju couple miliknya di meja kamarnya. Belum sempat dia buka dan gantung di lemari.


“Pertama kali memangdangmu aku langsung menepis. Aku takut akan rasa tertarikku padamu. Aku berteriak TIDAK, tapi kamu membuat perbedaan. Kamu menembus ku lebih jauh. Seberapa jauh aku lari, semakin banyak langkahku menjauh, tali cintamu semakin erat membelengguku,” ucap Mukti lagi.


“Kamu itu ibarat plester yang membalut lukaku. Bahkan kehadiranmu yang belum berapa lama, bisa membuat aku tenang saat Vio meninggal. Tak ada duka, sedih atau marah tersisa buat Vio. Apalagi cinta. Semua sudah langsung kamu ganti. Aku jadi makin ingin menggali, dulu perasaan apa dariku buat Vio?”


Mukti memandang dengan senyum bahagia. Dia sudah mencetak beberapa foto di Bali kemarin sebelum berangkat. Dia juga bawa beberapa frame artistik. Sekarang foto-foto itu mau dia atur di kamarnya juga kamar Ayya di sini.

__ADS_1


Berbagai pose saat dia mencium juga pose lain di pernikahan Sonny.


__ADS_2