CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
BANTUAN ORANG TAK DIKENAL


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Kalian sudah on the way?” tanya Mukti di telepon group. Dia menggunakan hands free karena sedang mengendarai mobil Adelia.



“Aku sudah on the spot.”



“Aku di tempat parkir.”



“Lima menit lagi aku sampai.”



Banyak jawaban yang Mukti terima. Dia sendiri baru saja memasuki area gerbang cafe, belum sampai di parkiran.



Malam ini Mukti masih janjian dengan para rekannya setelah kemarin dia pulang lebih dahulu karena jam 08 malam harus zoom meeting keluarga menyangkut permasalahan perusahaan keluarga yang sedang babak belur dan terlibat kasus di pengadilan.



"Itu saja Pak?" Tanya gadis manis dengan seragam waitres pada Mukti setelah menulis pesanan Mukti. Sayang terlihat gurat duka di wajah gadis itu.



"Sementara itu dulu. Itu hanya sebagai teman menunggu saja. Nanti saya akan pesan bila teman-teman saya datang," jawab Mukti. Dia membaca name tag gadis itu adalah Komang Ayu.



'*Gadis Bali*,' batin Mukti membaca nama itu. Sejak dulu Mukti pengagum gadis lokal. Dia tak suka wajah kebule-bulean. Itu sebabnya dia tak suka Pricilla mantan istri Made, tapi lebih memilih Vio yang berwajah Jawa tulen.



Satu persatu teman Mukti datang. Dua kali Komang Ayu melayani meja Mukti, dan dua kali dilayani pegawai lain.



Mukti dan semua temannya membahas event pameran yang akan mereka buat di Solo. Mereka sedang menyusun panitia dan semua persiapan.  Kebetulan Mukti yang terpilih jadi ketua panitia.



"Kenapa?" tanya Sonny. Dia sedang berada di resepsinya Farah ketika Mukti menghubunginya.



"Mas aku terpaksa pulang ke Bali besok pagi karena ada persoalan yang aku harus tangani di Bali berkaitan dengan pameran yang akan aku adakan di Solo. Gimana Mas? Mengganggu jadwal sidang enggak?" Tanya Mukti.



Biar bagaimana pun Mukti tak berani memutuskan asal-asalan seperti dulu. Sekarang dia ingin semua dia lakukan berdasar restu kakak atau ayah serta ibunya. Tadi Mukti sudah tanya Ambar dan sang mama bilang kalau masalah persidangan silakan aja selesaikan masalahnya di Bali. Tapi Ambar meminta Mukti bertanya ke Sonny karena dia yang jadi kapten. Itu sebabnya sekarang Mukti menghubungi Sonny.



"Pergi aja enggak apa apa. Lagian kan kamu jatah jadi saksinya masih lama. Besok Pak Tonny akan mempersiapkan eyang dan mama lebih dulu agar mereka enggak keganggu dan cepat kembali ke Solo." Sonny mempersilakan adiknya kembali ke Bali karena ada hal yang harus dia selesaikan lebih dulu.



"Ya Mas. Ini ngedadak'e," kata Mukti.



"Iya enggak apa apa silakan aja. Nanti kalau sudah waktunya kamu bisa segera kembali ke Jakarta buat sidang. Kalau aku enggak bisa pulang ke Jogja karena aku adalah penggugatnya." Ujar Sonny.

__ADS_1



"Perusahaanmu piye Mas?  Perusahaan aman kan?" Mukti tak ingin perusahaan Sonny bernasib sama dengan perusahaan papa mereka di Jakarta.



"Perusahaan Mas di Jogja aman. Insya Allah biasa aku tinggal berbulan-bulan mereka sudah terbiasa, waktu aku kerja di Jakarta urus perusahaan Papa."



"Ini enggak apa apa ya Mas nanti malam aku pulangin mobil dan besok pagi siap-siap ke bandara."



"Iya besok pagi biar diantar sopir ke bandaranya.



"Iya Mas. Aku di Bali maksimal hanya empat hari koq. Hanya mau ambil surat-surat dari semua panitia karena syarat pameran di Solo seperti itu," kata Mukti.



"Ya wis, selesaikan aja semuanya dengan baik. Kamu tolong lihat juga usahaku dan minta mereka segera kirim email dadakan saat kamu di sana. Jangan beritahu kedatanganmu pada mereka sebelumnya."



"Baik Mas. Akan aku minta mereka melakukan itu di depanku," balas Mukti.



Baru kali ini Sonny minta tolong Mukti. Biasanya dia menyuruh siapa aja yang sedang dia ingat. Itu yang membuat semua karyawannya tak berani macam-macam karena selalu saja ada orang suruhan Sonny minta kirim email dadakan.



"Komaaaaaang!" teriak seorang pramusaji melihat Komang terduduk lemas saat menerima telepon di ponselnya.



"Ada apa itu?" tanya Syahrul rekan Mukti.




Ali seorang teman Mukti menarik lengan Mukti untuk menemaninya melihat kejadian sebenarnya.



Ali dan Mukti melihat ada seorang waiters duduk dengan dipeluk temannya yang berupaya menghiburnya.



"Ada apa ini?" Tanya Ali sigap.



"Teman saya kena musibah Pak. Keluarga satu-satunya, yaitu ibunya Komang Ayu meninggal dan dia harus kembali ke Bali. Sedangkan sejak kemarin dia pinjam uang ke management untuk pulang aja enggak bisa karena kebetulan gaji dia sudah habis dan masih ada hutang baik pada manajemen Cafe mau pun pada beberapa teman karena dia memang bekerja untuk menanggung biaya rumah sakit ibunya." Teman pekerja yang sedang kena musibah itu menceritakan kondisi Komang.



Ali dan Mukti langsung bertatapan. Mereka seakan saling mengerti tentang penderitaan sesama itu.



"Komang Ayu bereskan barangmu di cafe ini. Sekarang kamu pulang ke rumahmu di sini atau kostmu. Besok pagi bareng saya berangkat ke Bali. Kamu enggak usah kembali ke sini untuk bekerja."



"Dan kamu catat berapa hutang Komang ke semua teman juga ke management. Nanti akan ditutup oleh team teman saya ini," Mukti menunjuk Ali. Dia tahu dengan saweran dari para seniman hutang yang buat Komang Ayu sangat besar bisa ditanggulangi.


__ADS_1


"Kamu bisa bekerja di Bali tanpa perlu kembali ke sini."



"Bapak serius?" Tanya teman Komang Ayu yang seakan bertindak sebagai juru bicara Komang Ayu, yang sejak tadi tak bisa bicara apa pun.



"Serius. Besok pagi jangan lupa saya tunggu di bandara jam enam pagi. Sekarang juga kamu kasih nama lengkap sesuai KTP juga nomor KTP. Kirimkan ke nomor ini. Atau foto saja KTP nya dan kirim ke nomor saya. Saya butuh sekarang juga buat beli tiket pesawat." Mukti memberikan sebuah kartu nama atas namanya.



"Ingat temui saya besok pagi pagi di bandara jam 06.00 pagi ya. Saya akan cari penerbangan tercepat."



"Baik Pak." Ucap teman Komang.



"Dan ini nomor saya, tulis rincian hutangnya ke semua teman dan manajemen serta berikan nomor rekening masing-masing biar kami bayarkan semua!" Ali pun memberikan kartu nama miliknya.



"Baik Pak, terima kasih banyak." Ucap sang teman lagi.



Mukti dan Ali langsung kembali ke depan melanjutkan pembicaraan mereka.



"Sudah kamu enggak usah banyak curiga, dia orang baik. Dia solusi bahwa kamu enggak usah kerja mencari uang di Jakarta lagi. Terlebih satu-satunya orang yang kamu miliki dan kamu perjuangkan dengan bekerja sudah tidak ada lagi."



"Lebih baik kamu kembali dan tinggal di Bali saja. Aku sering lihat semua orang-orang di meja itu datang ke sini kecuali yang akan terbang ke Bali denganmu karena dia memang tak tinggal di Jakarta." Temannya itu melihat kartu nama Mukti yang beralamat di Denpasar.



"Sekarang kita urus pamitmu pada management saja. Sekalian meminta rincian hutangmu serta nomor rekening agar kamu bisa segera diperbolehkan pulang." Ajak sang teman.



"Terima kasih kau selalu ada saat aku butuh," sahut Komang Ayu. Lalu mereka membereskan locker Komang Ayu. Dia membereskan  barang-barangnya Komang Ayu.



Teman Komang Ayu mengirimkan utang Komang Ayu sebesar Rp 2.125.000 pada manajemen dan nomor rekening manajemen ke nomor Ali. Tak sampai lima menit jawaban dari Ali sudah teman Komang dapat. Utang Komang ke manajemen sudah lunas sehingga Komang bisa resign dan pulang ke Bali. Ali mengirim screen shoot transfer bank.



"Lihat, kamu sudah tak berutang ke manajemen."



"Alhamdulillah," ucap Komang tak percaya ada orang membantunya padahal dia tak mengenal mereka.



"Besok kasih rincian yang kamu hutangi agar kamu bisa tenang. Kalau sudah dapat nama dan jumlah, aku akan minta nomor rekening mereka."



"Sekali lagi terima kasih atas bantuanmu."



"Itulah gunanya teman."


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang beda thema dari novel yang biasa eyank tulis. Kita masuk thema HOROR dan ini berdasar kisah nyata yang di kembangkan.

__ADS_1


Cuzz ke novel dengan judul CINTA DITOLAK DUKUN SANTET BERTINDAK yok



__ADS_2