
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Mas, mbak Sita kirim pesan, katanya telepon ke nomor Mas dari tadi enggak diangkat dan email sejak kemarin belum di respon,” Ayya memberitahu pesan masuk dari Sita.
“Ponselku lagi aku charge di kamar,” jawab Mukti.
“Ya sudah sini aku pakai teleponmu saja,” pinta Mukti yang sejak salat Ashar belum kembali ke area produksi. Mereka masih duduk menikmati singkong goreng. Ayya memberikan ponselnya yang sudah dia buka kunci layarnya ke Mukti.
“Ini saya bukan Komang,” jawab Mukti. Mungkin Sita mengira yang menghubunginya adalah Komang Ayu.
“Ada apa?” tanya Mukti.
“Saya sudah kirim email ke Bapak, tapi belum di baca seharian ini. Lalu saya telepon ponsel Bapak juga tidak diangkat, akhirnya saya titip pesan ke Komang Ayu.”
“Kamu memang baru sehari ya jadi pegawai saya?” tanya Mukti.
“Iya sih Pak. Saya tahu bahwa pasti lagi produksi. Jadi tidak respon. Karena sekarang sudah ada Komang Ayu maka saya hubungi via Komang Ayu tidak lewat telepon studio seperti dulu lagi,” kata Sita.
“Ya sudah kan tahu kalau saya nggak respon bukan karena saya sedang tidur. Ada apa?”
“Besok konsumen yang dari Belgia datang. Sudah sejak kemarin saya forward email dia ke email pribadi Bapak tapi belum Bapak respon. Itu sebabnya sejak pagi saya telepon Bapak. Sekarang dia sedang dalam perjalanan ke Indonesia. Padahal sudah saya bilang kalau dia datang ke sini harusnya mengabari seminggu sebelumnya untuk memastikan bisa ketemu Bapak atau tidak, takutnya Bapak sedang di luar pulau atau bahkan di luar negeri.”
“Besok jam berapa dia datang?” potong Mukti.
“Malam ini dia sudah sampai Pak. Mungkin besok pagi-pagi dia sudah tiba di galery seperti biasa.”
“Ya sudah nanti habis makan malam saya ke Badung,” jawab Mukti cepat.
“Baik Pak, saya tunggu.”
“Ayya, habis salat magrib kita ke Badung ke rumah papamu baru nanti aku ke galeri,” Mukti mengembalikan ponsel Ayya setelah cukup lama dia memutuskan pembicaraan dengan Sita. Tadi telepon tak dikunci, maka dia bisa leluasa menjelajah isi ponsel itu.
__ADS_1
Ayya yang sedang mengatur ruang salat tak menduga akan pulang ke Badung malam ini.
“Ya Mas,” kata Ayya.
“Bilang papamu kita akan malam di sana dan dia enggak usah siapin makanan. Kita aja yang bawa makan malamnya.”
“Baik aku hubungi papaku sekarang,” jawab Ayya.
“Bu Pinem kami tidak makan malam di studio, kami harus kembali ke Badung cepet-cepet,” Kata Mukti
“Iya pak Mukti,” jawab bu Pinem. Berkurang dua orang tak terlalu berpengaruh buat jumlah yang harus dia masak.
Saat itu sudah hampir magrib. Ayya sudah menghubungi Wayan bahwa mereka akan makan malam bersama dan diminta papanya tak usah nyiapin apa-apa. Nanti biar Ayya yang bawa dari Uluwatu.
”Ya Kamu jangan lupa bawa obatmu ke mana-mana.”
“Iya Mas, aku bawa di dompet kok,” jawab Ayya.
“Kok mendadak sih datangnya?” kata Wayan saat Mukti dan Ayya tiba dan memberi salim padanya.
“Ada tamu besok pagi dari Belgia Pak, jadi mendadak malam ini saya pulang. Takutnya nggak keburu kalau datang besok pagi-pagi. Pernah dia datang ke galery itu jam 05.00 pagi sehabis dia lari pagi.”
“Kalau orang seni memang beda ya?” komentar Wayan.
“Ya kehidupan kami itu tidak dibatasi jam seperti orang pada umumnya. Kami bergerak atau kami tidur itu tergantung kebutuhan tubuh dan pikiran kami, bukan berdasar rutinitas.
Wayan dan Mukti masuk sedang Ayya segera berlari ke rumah pakde Saino.
“Tapi saya tak bisa lama di Badung karena saya sedang mengerjakan olahan di studio. Kalau kelamaan nanti biasanya suka mood-nya hilang. Begitu selesai tamu dari Belgia ini saya langsung kembali ke studio untuk merampungkan pekerjaan itu. Mungkin lusa saya sudah kembali ke Studio di Uluwatu. Yang penting besok satu hari full saya akan menyelesaikan urusan dengan konsumen Belgia ini.”
Mereka pun makan malam yya melihat toko yang sudah dibangun ayahnya benar-benar memang telah selesai. Memang toko belum buka resmi tapi ada satu dua orang yang sudah membeli.
__ADS_1
“Pa, karena ngedadak aku belum jadi beli mesin buat tempelin label harga. Besok kita cari berdua ya. Papa memang mau buka tokonya kapan?” tanya Ayya.
“Kalau perhitungan Pakde kemarin, lusa baru buka toko. Kalau Papa manut aja.” jawab Wayan.
“Ya sudah besok masih sempat cari alat buat tempelin label harga barang di toko buku,” ujar Ayya.
“Terus belanja bahannya sudah semua?” tanya Ayya. Dia melihat masih banyak barang di ruang tamu yang belum di beri tempelan harga juga belum ditimbang ulang. Rupanya papanya sudah membeli timbangan. Jadi kalau terigu Wayan beli satu karung lalu di bagi-bagi menjadi ukuran 1 kilo, 1/2 kilo dan 1/4 kilo, begitu pun gula pasir belinya satu karung lalu ditimbang sendiri. Kalau minyak tidak. Untuk minyak goreng Ayya lihat papanya sudah beli yang kemasan baik kemasan botol maupun kemasan plastik. Tak ada minyak curah.
“Pa, minta nomor rekeningnya Pa. Aku mau transfer uang buat modal usaha.” pinta Ayya sambil makan.
“Ini aja masih banyak dan Papa uangnya masih cukup. Enggak usah ditransfer dulu. Pegang aja di rekeningmu,” kata Wayan menolak.
“Papa nih kenapa sih aku mau transfer kok enggak mau sih?” protes Ayya.
“Bukan enggak mau, tapi uang Papa masih cukup. Nanti kalau Papa butuh modal tiba-tiba, Papa pasti akan ngabarin kamu. Sekarang biarin dulu aja. Masih ada kok uangnya,” kata Wayan.
Mukti hanya mendengar bagaimana Ayya memaksa papanya. Dia tak ikut komentar urusan intern antara papa dan anak itu.
“Saya kembali dulu, biarkan Ayya nginep di sini aja nggak apa apa asal besok pagi setelah belanja untuk alat toko segera ke galeri karena saya banyak keperluan dengan dia,” kata Mukti. Dia pamit untuk kembali ke galeri sendirian.
“Enggak ikut nginep di sini aja?” tawar Wayan.
“Enggak Pak. Kan tadi saya bilang tamunya kadang suka datang jam 05.00 pagi. Nanti kalau saya masih di sini walaupun dekat enggak enak kalau dia harus menunggu.”
“Oh baiklah,” akhirnya Mukti pun malam itu pulang.
“Aku besok ke toko bukunya sekalian berangkat ke galeri Mas. Jadi dari toko buku nanti papa ngedrop aku di Galeri baru papa kembali ke ke rumah sendirian. Toko bukunya juga enggak buka pagi-pagi banget jadi harap tahu kalau aku enggak bisa pagi banget sampai galery.
“Terserah. Yang penting pagi-pagi sudah ada di sana,” jawab Mukti sambil keluar pagar.
“Iya Mas,” kata Ayya sambil mengunci pintu pagar.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK yok.
__ADS_1