
Mukti langsung lemas melihat dari jauh ada seorang gadis sedang duduk di ruang tunggu sambil main handphonenya.
Bergegas setengah berlari Mukti menghampiri gadis itu. Tak peduli keadaan sekitar, Mukti memeluk kepala gadis itu. Dia benamkan kepala tersebut kebagian perutnya karena gadis itu sedang duduk. Lega rasanya bisa mendekap erat kepala gadis yang sejak dia bangun di pesawat tadi telah membawa separuh cahaya hidupnya.
Ayya memang tak mau membuat Mukti marah dengan pergi lebih dulu. Dia sengaja hanya turun lebih dahulu, kalau dia pergi lebih dahulu tentu Mukti akan marah besar dan Ayya sudah tahu itu. Ayya lebih baik mengalah. Dia menunggu Mukti di lobby ruang tunggu. Semua yang akan keluar pasti akan melihat dia duduk di sana.
“Kamu kok nggak bangunin aku Yank?” protes Mukti melepas pelukannya. Ayya menengadahkan kepalanya dan menatap lekat mata Mukti.
“Yang bilang nggak dibangunin siapa?” tanya Ayya.
“Aku udah bangunin, Masnya aja yang nggak mau,” kata Ayya pura-pura dia bangunkan.
“Kalau dibangunin pramugari aja langsung bangun, kalau dibangunin aku nggak mau peduli,” lanjut Ayya.
“Kamu serius bangunin aku?” tanya Mukti lagi.
“Ya nggak usah dibahas lagi kalau memang nggak pernah mau percaya sama orang lain,” jawab Ayya. Sepertinya mbak Ayya PMS, kerjanya ngomel aja. Mereka pun segera keluar dari bandara. Mobil Mukti sudah tersedia. Seorang pegawai dari rentalnya Sonny membawakan kunci mobil sportnya Mukti. Dan dia nanti akan kembali dengan motor yang dibawa oleh pegawai lain.
“Terima kasih ya Pak,” ucap Mukti menerima kunci mobil sportnya. Mukti langsung melajukan mobilnya ke galeri yang di Denpasar. Tadi pagi dia sudah mengatakan agar disiapkan makan siang untuk dirinya karena dia ingin makan di galeri saja.
“Kok diam lagi sih?” rajuk Mukti melihat Ayya kembali diam.
“Bicara juga percuma kan, selalu aja salah. Jadi lebih baik diam daripada buang energi dan marah-marah,” balas Ayya.
Setibanya di galeri Mukti langsung bicara dengan staf di sana untuk persiapan pameran. Dia mendata barang apa yang jangan dijual agar bisa dibawa ke Solo.
__ADS_1
“Ini list nya ya, harap kalian pisahkan yang mana yang saya minta karena akan saya bawa ke Solo.” jelas Mukti setelah melihat barang juga daftar stock yang ada di gallery cabang Denpasar.
“Baik Pak,” kata staf Denpasar.
Mukti masuk ke ruang kerjanya. Dia segera memperhatikan semua barang yang ada. Ayya hanya duduk diam menunggu perintah Mukti karena dia juga belum bawa laptop. Kemarin kan dia pergi ke Jakarta tidak bawa laptop karena bukan untuk bekerja sehingga Ayya hanya menunggu perintah Mukti saja.
“Mbak Komang itu ada rujak buah lo. Kita makan yuk sambil nungguin pak Mukti,” kata seorang staff bagian marketing di galeri tersebut. Tentu saja Ayya tak menolak. Mereka pun makan rujak sambil menunggu Mukti bekerja.
Mukti banyak menerima telepon dan menelepon atau menghubungi seseorang karena dia mengatakan posisi dia sudah di Bali.
“Mbak maaf ya saya mau keluar,” kata seorang staf lelaki bagian belanjaan dan pengiriman barang yang telah terbiasa berhubungan dengan Komang Ayu.
“Mau ke mana?”tanya Ayya.
“Saya ikut ya, sampai tengah jalan saja. nanti biar saya kembali lagi sendiri,” pinta Ayya.
“Boleh Mbak, enggak apa-apa,” kata staf tersebut.
Tanpa pamit pada Mukti, Ayya langsung pergi naik mobil bak cabang tersebut karena bawa barang.
“Baik saya turun di sini aja,” kata Ayya. Dari tempat turunnya itu Ayya langsung naik ojek online ke rumahnya.
“Assalamualaikum Pa,” sapa Ayya.
“Wa’alaykum salam,” tentu saja Wayan kaget melihat putrinya sudah berdiri di depannya. Dia ulurkan tangannya dan lalu dia peluk belahan hatinya. Wsyang mengecup puncak kepala putrinya. Dia bahagia bisa melihat putrinya dalam kondisi sehat.
__ADS_1
“Sebelum kita bicara, aku kasih tahu duluan Pa. Aku cuma sebentar karena aku hanya lari di jam makan siang dan kedua Papa harus ingat kalau nanti pak Mukti tanya aku ke sini atau enggak, Papa jawab enggak karena benar-benar aku cuma kabur sesaat aja.” kata Ayya sebelum dia sempat bicara apa pun.
“Baik, kata Wayan. Dia tahu pasti Ayya hanya menyempatkan diri ingin bertemu dengannya.
Ayya melihat toko milik ayahnya sudah lumayan penuh isinya selain isinya penuh, terlihat juga rapi dan bersih.
“Kamu kenapa kabur seperti itu di jam makan siang?” tanya Wayan.
“Aku baru tiba Pa, belum sampai 2 jam di Denpasar. Tapi aku melarikan diri ke sini karena aku ingin bicara sama Papa,” kata Ayya.
“Kamu dari Jakarta atau dari Solo?” tanya Wayan meneliti sosok putrinya.
“Dari Jakarta Pa, kan pernikahan kakaknya pak Mukti di Jakarta. Tapi terus langsung ke Denpasar karena kami kerjaannya banyak. Bulan depan aku 3 bulan di Solo Pa,” beritahu Ayya pada Wayan.
“Iya, Papa mengerti.”
“Papa kenapa nggak minta modal lagi sama aku, ini tiba-tiba toko udah penuh aja,” protes Ayya.
“Ya penuh lah lama-lama. Kan setiap hari keuntungannya nggak papa pakai makan, jadi Papa langsung puterin lagi ke modal,” jawab Wayan dengan tersenyum.
“Papa makan dari mana kalau keuntungan nggak buat makan?”
“Ya adalah sedikit keuntungan yang Papa pakai buat makan, tapi kan nggak semuanya. Jadi cukuplah. Modalnya nggak perlu minta kamu lagi, bahkan Papa juga sudah mulai ada simpanan walaupun sedikit. Jadi kalau suatu waktu Papa sakit nggak terlalu berat walau ada BPJS sekali pun tetap harus ada persiapan kalau kita sakit.”
“Sekarang kenapa kamu tiba-tiba pulang dan mau bicara apa sampai pak Mukti nggak boleh tahu kamu ada ke sini?” tanya Wayan.
__ADS_1