
“Mau nambah?” tanya Ayya.
“Cukup Yank,” jawab Mukti sambil memberi tanda dengan telapak tangannya kalau dia tak mau lagi.
“Tadi Mas lihat daftar belanjaan di pintu kulkas waktu mau ambil air minum. Itu belanjaan buat kapan dan ada acara apa?” tanya Mukti seakan dia tidak tahu kalau sudah mendengar Ayya telepon dengan seseorang.
“Oh itu buat bu Pinem belanja besok pagi Mas. Aku tadi minta Bu Pinem buat belanja karena besok Carlo dan teman-temannya mau datang jadi aku mau bikin iga sapi bakar sama sop kambing. Mas ada request makanan lain?” tanya Ayya. Dia tak mau berbohong karena tak ingin dibohongi.
“Nggak Yank, itu aja cukup. Kamu masak itu aja sudah repot. Kayaknya nggak perlu lagi Mas tambahin jenis masakan deh. Cukup itu aja,” jawab Mukti tanpa nada amarah atau cemburu.
“Kalau mau nambah nggak apa-apa lah, biar sekalian aku masakin. Nggak repot kok,” balas Ayya.
“Enggak lah, cukup itu aja,” jawab Mukti lagi sambil menuntaskan makan malamnya,
“Memangnya mau datang berapa orang?” tanya Mukti pada Ayya.
“Tadi yang telepon tuh Lukas Mas. Dia bilang mereka berempat.”
__ADS_1
“Oh gitu. Datang makan siang atau makan malam?”
“Mereka datang sore sehabis aku selesai jam kerja, karena nggak ingin ganggu aku kerja. Jadi mereka datang nanti untuk makan malam.”
“Sip lah,” jawab Mukti.
“Aku mau bikin salad sih Mas. Menurut Mas enaknya salad buah atau salad sayur?” Ayya bertanya minta pendapat Mukti.
“Kamu kan tahu Mas sukanya sih salad buah. Tapi salad sayur juga enak sih ya karena kan makanannya kurang sayuran. Cuma ada sayuran steaknya aja kan?” Mukti mencoba memberi pandangan.
“Sudahlah salad buah aja karena kalau salad sayur takutnya kol ungunya sulit didapat kayak kemarin itu. Begitu pun paprikanya pasti cuma ada paprika merah. Takutnya di pasar pas nggak ada yang kuning atau paprika ungu. Kamu kan sukanya salad sayur kombinasi warnanya bagus,” Mukti tahu kalau bikin sesuatu Ayya maunya juga ada nilai estetikanya.”
“Yo wis sih. Kalau salad buah bahannya sudah ada semua, kalau salad sayur memang nggak lengkap bahannya jadi harus beli.”
“Ya sudah salad buah aja lah. Mas juga suka kok,” kata Mukti.
“Siip. Matur nuwun,” jawab Ayya sambil mengunyah.
__ADS_1
“Terima kasih ya Mas,” kata Ayya saat dia melihat Mukti sudah selesai makan malam dan sedang minum supplemen.
“Terima kasih buat apa?” jawab Mukti.
“Mas sudah mau buka hati, nggak marah lagi kalau aku terima tamu. Lebih-lebih besok tamunya adalah Carlo,” jelas Ayya.
“Kenapa Mas harus marah kalau Mas tahu dengan jelas kamu menerima cinta Mas?” tanya Mukti sambil memandang Ayya dengan tatapan penuh percaya diri dan lembut.
“Waktu itu Mas memang sering bertindak kekanak-kanakan karena Mas belum tahu kamu terima Mas apa nggak. Mas takut bersaing dengan yang muda dan famous sedang usia Mas tak seumuran denganmu dan Mas enggak nge top. Tapi begitu Mas tahu kamu terima Mas, ya nggak mungkin lah Mas magerin kamu. Bahkan kalau suatu saat kamu pergi keluar bersama teman-temanmu ya silakan aja.” jawab Mukti dengan kepastian.
"Itu adalah kebebasanmu. Mas nggak akan kekang. Walau nanti kamu sudah jadi istri Mas sekali pun. Yang penting kita tahu batasan dan kita saling percaya. Kalau Mas nggak bisa percaya kamu artinya Mas sebenarnya orang yang tidak bisa kamu percayai. Karena semuanya itu berbalik pada kita,” kata Mukti dengan penuh kebijakan.
Mukti sadar dia tidak boleh terlalu sensitif dengan semua perkataan dan tindak-tanduk dari Ayya yang berbeda jauh usianya dengan dirinya. Juga berbeda jauh pola pikirnya, berbeda jauh latar belakangnya hidupnya.
Kemarin siang dia diskusi panjang dengan Ambar saat Ayya keluar dari kamarnya. Sampai akhirnya dia bisa memasrahkan diri pada kenyataan yang ada. Mukti lalu tidur itu yang membuat dia cepat sembuh. Ambar tahu semua yang dia butuhkan untuk sembuh.
Padahal semua ketakutan pangkal sakitnya kemarin dimulai hanya kata-kata Ayya yang membuat Mukti tak bisa percaya diri. Kata-kata sederhana yang menurut Ayya bukan ingin menikam Mukti, tapi tanggapan Mukti kata-kata itu membunuhnya!
__ADS_1