
“Mas Made ini 4 mahasiswi dari Jogja yang akan di Mas Made bimbing untuk seni pahat. Kalau soal seni lain saya sudah minta mereka langsung datangi bidangnya sendiri-sendiri. Kita nggak kompeten membantu.”
Made pun berkenalan dengan 4 orang gadis tersebut. Wayan tak datang menemani Made seperti rencana semula. Dia ada keperluan.
“Belum selesai Sayank? tanya Mukti yang tiba-tiba hadir di depan mereka.
“Selesai apa Mas?” jawab Ayya.
“Ngenalin Made-nya lah. Ngapain lagi?” jawab Mukti sambil menggoda Ayya dengan mengangkat alisnya.
“Oh kalau ngenalin Mas Made sudah selesai dari tadi. Kenapa? Mas butuh apa?” tanya Ayya lembut. Keempat mahasiswi yang sedang bicara dengan Made tentu mengetahui interaksi keduanya yang sangat penuh kasih sayang.
“Makan siang yuk,” ajak Mukti.
“Bareng Mas Made sama kak Wayan saja bagaimana?” usul Ayya.
“Oke. Nggak apa-apa,” jawab Mukti.
__ADS_1
“Ya sudah tungguin mereka saja. Aku panggil kak Wayan nya sebentar.” ujar Ayya.
“Kenapa Komang? Aku di belakang. Kenapa memangnya?” Ayya pun menghubungi Wayan dengan ponselnya.
“Mas Mukti ngajakin kita makan bareng, sambil nungguin Mas Made sebentar lagi. Dia lagi terima para mahasiswa,”
“Oh ya sudah, aku balik lagi ke situ,” kata Wayan. Tadi dia tak jadi menemali Made untuk berkenalan dengan empat mahasiswi. Dia merasa tak ada keperluan apapun dengan para gadis itu.
“Saya rasa perkenalan kita cukup sekian. Nanti kita ketemu sesuai jadwal ya. Saya tidak mau di luar jadwal tersebut,” kata Made. Dia rupanya sudah memberikan jadwal pada keempat mahasiswa tersebut.
“Baik Pak kami akan mengerti,” jawab keempat mahasiswi cantik itu.
“Pak Mukti begitu cinta banget ya sama Bu Komang. Bu Komang manis, lembut dan sederhana, baik dan sopan. Senang banget dia mau ngebantu kita,” ujar Karenina.
“Tak ada yang bisa menggantikan Komang Ayu dengan apa pun buat Mukti. walau dijebak seperti apa pun Mukti itu tidak akan mungkin bergeming. Jadi buat kalian hati-hati. Tak perlu mencari masalah dengan Mukti karena apa pun kondisinya, walaupun laras pistol ada di pelipisnya dia tak akan pernah meninggalkan tunangannya. Dia lebih memilih mati daripada berpisah dengan gadis tersebut. Itu sudah dibuktikan kemarin di Bali ada seorang gadis yang menjebaknya.”
“Gadis tersebut mencelakai Komang Ayu dengan menyiram air panas dan sekarang gadis tersebut dipenjara. Jadi apa pun caranya tak akan pernah Mukti bisa berpaling. Ingat itu jangan pernah kalian mau di jadikan umpan oleh siapa pun,” Made yang mendengar para gadis membicarakan Mukti langsung memberi ultimatum.
__ADS_1
“Dan buat orang tua pak Mukti, hanya Komang Ayu yang akan jadi istri Mukti. Di luar itu tak akan diakui keluarga.”
“Iya Pak. Saya mengerti kok. Kami juga ke sini buat kuliah bukan buat main-main dan kami juga nggak punya niat buruk merusak hubungan orang lain,” ucap Ellyandri.
Keempat mahasiswa itu memang bukan tipe yang mencari sensasi. Mereka juga tidak cari uang atau cari kepuasan dengan cara kotor. Mereka benar-benar mahasiswa murni yang kuliah dengan benar.
Hari itu mereka berempat makan siang di resto yang tak terlalu jauh dengan lokasi pameran.
“Kenapa hari ini kamu nggak bawain Mukti makanan?” tanya Wayan yang dianggap kakak oleh Ayya sejak pertemuan di Solo 7 bulan lalu.
“Kan tadi aku berangkat bareng Mas Mukti Kak. Karena mau bantu Mas Made buat ketemu para mahasiswi yang butuh bimbingan buat bahan skripsi.”
“Kamu ini aneh Yank. Manggil Made dengan panggilan Mas. Wayan kamu panggil pakai Kak,” ucap Mukti. Dia tak pernah bosan menatap wajah polos kekasihnya.
“Ya habis bagaimana?”
“Semuanya kak atau mas lah,” jawab Wayan.
__ADS_1
“Oh oke. Aku panggil kak Made deh nggak jadi Mas,” ucap Ayya.