CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
DITELEPON PAPA


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.




Mukti mencari Sonny di rumah Abu yang di Jakarta, nggak ada lalu dia mencoba mengintip di rumahnya Adelia dia sudah tahu rumah Adelia tapi belum pernah datang ke sana dan disana dia tidak melihat ada Sonny. Mukti bingung.



"Lalu aku harus cari ke mana?" 



"Aku sudah enggak mungkin bicara sama Papa karena tadi jelas Papa sudah melihat bagaimana aku dan Vio."



"Sekarang aku harus gimana ya?" 



"Aku harus bicara sama siapa? Aku sudah tak mungkin berbincang pada keluargaku lagi. Sudahlah besok aku hubungi Vio lagi aja,"  Mukti akhirnya mencoba tidur di rumah Abu yamg di Jakarta. Dia sengaja mengingap karena menunggu Sonny.



Biasanya Mukti tidak tidur di rumah ini sejak berhubungan dengan Vio. Karena akan ketahuan keluarganya. 



Sayangnya sampai besok paginya Sonny tetap tidak datang.  Akhirnya Mukti kembali ke lapas.


\*\*\*



"Bagaimana? Apa ketemu dengan Pak Sonny?" Vio bertanya.pada suaminya.



"Enggak tuh aku nggak ketemu."



"Lalu kamu sudah hubungi Pak Abu atau eyangmu?"



"Ya enggak beranilah aku memghubungi mereka lewat telepon."



"Pasti mereka marah. Kalau seperti ini enggak boleh lewat telepon. Aku harus langsung ke sana. Kalau mereka marah mereka pasti masih menghubungiku Yank."



"Ini mereka sama sekali nggak menghubungiku artinya super marah," ujar Mukti.



"Oh gitu ya," Vio baru mengerti.



"Iya, kalau hanya marah pasti mereka menghubungi aku kok. Enggak mungkin enggak," jawab Mukti lagi.



"Aku seperti rencana semula ya. Aku akan kembali ke Bali aja besok untuk menyelesaikan semua."



"Aduh jangan besok," rengek Vio.



"Ya nggak bisa,  bagaimana dengan urusan papa dan mamaku. Aku harus cari celah dulu," kata Mukti.



"Ya udah sekarang aku kembali dulu ya," pamit Mukti.



"Iya," jawab Vio lirih. Mukti mengecup kening istrinya lembut.


\*\*\* 



Hari kedua setelah pertemuan tak sengaja dengan Sonny, Mukti mendapat telepon dari tiga stafnya di Galeri yang berbeda semua bilang ada surat dari Ibu Ambarwati tapi alamatnya di Bandung Jawa Barat.



Mukti langsung cari penerbangan pertama untuk ke Bali. Dari bandara, Mukti langsung menuju galeri terdekatnya.


\*\*\*



"Iya," kata Komang pelan.



"Kamu sakit?"



"Tidak."



"Mengaoa kamu kaku seperti itu?"



"Enggak apa apa," jawab Komang. Dia memang sudah agak lama tidak bicara dengan papanya.

__ADS_1



"Papa kangen sama kamu Nak." Wayan memgungkapkan perasaan ada putrinya.



"Iya Pa," kata Komang tapi datar.



"Papa habis dapat kabar katanya ibumu sakit lagi."



"Iya Pa."



"Kamu nggak pulang?" tanya Wayan penasaran.



"Saya disini cari uang buat pengobatan Ibu. Kalau saya pulang, uang pengobatannya dari mana?" Jawab Komang dengan jujur.



"Maafin Papa ya. Papa nggak bisa kasih kalian uang buat pengobatan Ibu." Sesal Wayan.



"Enggak apa apa. Sudah ya, saya mau masuk lagi. Waktu istirahat saya cuma 5 menit untuk terima telepon penting." Pamit Komang.



"Kamu kerja di mana?"



"Saya dibawa paman Halim. Saya bekerja di cafe sudah hampir 1,5 tahun. Saya di sini kerja di cafe bisa dilacak. Saya perempuan baik-baik," jawab Komang.



"Papa kan nggak nuduh kamu. Papa cuma tanya kamu kerja di mana."



"Saya kerja di cafe. Maaf saya sudah harus masuk saya cuma diberi waktu 5 menit untuk terima telepon," Komang langsung memutus sambungan pembicaraan dengan papanya.


\*\*\*



"Sebenarnya aku sudah menabung cukup banyak, tapi kalau aku berikan sekarang pada Sukma aku tidak bisa keluar dari lingkaran keruwetan ini."



"Aku menabung agar aku bisa berpisah dengan Dewi aku tidak mau jadi keset kakinya Dewi terus menerus. Sebentar lagi aku akan urus perceraianku."



"Sekarang ibuku sudah meninggal aku sendirian, aku bisa berpisah dengan Dewi. Tunggu aja sebentar lagi," kata Wayan.



\*\*\*



Mukti bersiap kembali ke Bali. Sejak pagi pegawai di tiga galerynya memberitahu ada surat dari Ambar dengan amplop surat sebuah kantor di Bandung. 



Bukan hanya di satu galery. Tapi dari tiga galery! Mukti meminta dua galery mengirim surat itu ke galery utamanya. 



Satu pengirim dengan satu jenis kop surat pada amplop, mengapa mengirim surat ke tiga alamat galeri yang dia miliki?



'*Apa maksud mama? Mengapa mama tak bisa dihubungi*?'



Ini yang membuat Mukti ingin segera mengetahui apa isi surat itu. Tak biasanya mama mengirim sesuatu karena mereka satu rumah.



Dari bandara Mukti langsung menuju galeri utamanya. Sengaja tak minta jemput dengan mobil miliknya. Dia naik taksi dari bandara saja.


\*\*\*



Mukti melihat amplop yang digunakan mamanya adalah amplop kantor mas Sonny di Bandung.



Mukti langsung membuka satu amplop dengan hati-hati. Ada satu lembar surat dan ada amplop kecil didalam amplop yang telah terbuka itu.



"*Mukti*."



"*Sebelum kamu buka amplop kecil itu baca baik-baik surat ini*."



"*Apa selama ini kamu merasa dibedakan kasih sayang dari Sonny*?"



"*Apa selama ini ada pembagian harta yang tak adil antara kamu dan Soñny*?"


__ADS_1


"*Pikir itu baik-baik. Mengapa kamu melakukan hal itu pada Sonny*?"



"*Sekali lagi yang terakhir : Apa pernah satu kali aja ibumu membedakan kasih sayang untukmu dan Sonny*?"



"*Apa pernah*?"



"*Apa pernah*?"



"*Apa pernah*?"



"*Setelah kamu dapatkan jawabannya kamu bisa buka amplop kecil itu*!"



Mukti tak melihat ada kata manis. Tak ada sebutan MAMA atau MAS.



Surat yang datar. Mukti mengingat bagaimana manisnya Ambar adanya dan Sonny. Tak pernah sekali pun sang mama membedakan mereka. 



Mukti selalu mendapat kecup dan peluk yang sama dari Ambar.



"Aku hanya terlalu mencintai Vio Ma. Aku tak ingin dia menjadi milik Mamas. Hanya aku tak berani bilang pada kalian," desah Mukti. 



Mukti membuka amplop kecil di dalam amplop yang telah dia baca kertasnya tadi. 



Ada dua lembar hasil test DNA disana.



Antara dirinya dan Abu juga dirinya dan Ambar!



Mukti membaca dengan teliti. Ada lingkaran tanggal kapan surat itu dibuat. Saat dia berusia tiga tahun!



Mukti lemas melihat fakta itu. Dia sering tahu sang papa menegur mamanya karena dirinya tapi mama tak pernah menjadi marah padanya apalagi mencubitnya.



Mamanya perempuan paling lembut yang mencintainya dengan tulus.



**Rasanya dunia serasa runtuh**!



'*Bagaimana mungkin dia melakukan hal itu pada perempuan penuh kasih yang sering disakiti papanya karena membela dirinya*?'



'*Bagaimana mungkin aku melakukan hal itu padahal mama yang telah tahu aku bukan anaknya dan bukan anak suaminya aja selalu memperlakukan aku dengan penuh kasih sayang*?'



Mukti sadar dia hidup karena kasih sayang orang lain. Bukan orang tuanya yang entah siapa. Semua harta yang dia miliki seharusnya bukan miliknya.



Mukti membaca kalimat terakhir surat yang ditulis mamanya walau di copy bukan tulisan tangan asli.



"*Apa pernah satu kali aja ibumu membedakan kasih sayang untukmu dan Sonny*?"



"*Apa pernah*?"



"*Apa pernah*?"



"*Apa pernah*?"



Ternyata dia hanya benalu di keluarga Lukito! Benalu yang malah menikam ayahnya dengan mencarikan Vio pengacara!



Mukti sudah tak punya muka lagi.



Andai dia belum tahu statusnya, dia memang akan melawan Abu dan Sonny dengan dalih cinta pada Vio. Toh dia punya hak yang sama dengan Sonny yaitu sama-sama anak kandung Abu.



Tapi sekarang?



Apa dia masih berani menampakan muka pada keluarga dermawan itu?

__ADS_1



"Aku harus bagaimana? Kalau pun aku memang anak kandung papa dan mama apa wajar aku membela musuh papa? Orang yang ingin menghancurkan usaha papaku sendiri?"


__ADS_2